Postingan

Menampilkan postingan dengan label Anggie D. Widowati

Tetaplah Melawan | Resensi Buku

Gambar
  RESENSI BUKU Judul: Langit Merah Jakarta Penulis: Anggie D. Widowati Penerbit: Grasindo Tebal Buku: 187 halaman Hanya satu kata lawan! Terhadap tiran, terhadap penguasa lalim, terhadap antek-antek imperialis, terhadap mereka yang telah menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menyelenggarakan sesama. Inilah potret kecil tentang cinta dalam bingkai revolusi separuh hati, Jakarta 1998. Sebuah novel, tentang mereka yang dianiaya, didera, disiksa, ditekan kekuasaan dan dikhianati. Yang menarik di antara haru biru itu, ada cinta yang terpendam. Cinta yang lahir dengan begitu sederhana. Cinta yang dimiliki oleh setiap mereka yang menghendaki. Inilah Jakarta 4 tahun yang lalu, yang dirasakan oleh orang-orang (yang yang sampai hari ini) tetap ada di Jakarta. Orang-orang yang mencium asap bangunan terbakar, orang-orang yang mendengar maki-makian (dari tentara, mahasiswa atau orang biasa), orang-orang yang mengakrabi kata krisis untuk menaikkan semua harga barang. Anggie, memotretnya dari s...

Jakob Oetama dan Satpam Baru | Kisah

Oleh: Anggie D. Widowati Beberapa hari yang lalu Indonesia kehilangan tokoh pers nasionalJacob Oetama. Pendiri dan pemilik perusahaan pers Kompas Gramedia, ini meninggal pada tanggal 09 September 2020. Tentu saja aku tidak mengenal secara pribadi siapa beliau, tetapi mendengar kabar duka ini, rasanya ikut kehilangan. Tokoh pers nasional tiga zaman ini dikenal sebagai sosok yg low profile, peduli dan perhatian pada karyawan. Ada kisah menarik dan menjadi kisah legenda di kalangan karyawan Kompas-Gramedia. Suatu hari, kebetulan ada rekrutmen satpam baru di kantor itu. Setelah melalui berbagai seleksi maka beberapa orang terpilih dan mulai bekerja. Satpam baru itu ditugaskan di lobi, tempat para tamu keluar masuk. Aku juga mengalami sendiri karena sering mengantarkan naskah tulisan ke kompleks perkantoran Kompas-Gramedia. Pada setiap tamu memang diberlakukan peraturan yang ketat. Harus meninggalkan KTP dan mengenakan pass masuk setelah mengisi buku tamu. Suatu hari, Pak Jacob datang ke k...

Kebun Belakang Rumah | Novelet

Gambar
Oleh: Anggie D. Widowati (1) Mimpi-mimpi tak seindah kenyataan. Dan penghancur mimpi itu kadangkala sesuatu yang tak pernah diduga sebelumnya. Itu pula yang dialami Bagas Waras. Belum juga setahun dia selesaikan kuliahnya di institut seni jurusan perfilman. Belum juga dua bulan bekerja sebagai cameramen di sebuah rumah produksi, dia sudah dirumahkan. Bukan hanya dirinya, hampir semua kru tidak bekerja lagi karena produksi sinetron untuk sementara dihentikan dengan alasan pandemi covid19. Dia menyukai pekerjaan itu, meskipun hanya pekerja rendahan, Bagas merasa punya banyak kesempatan untuk belajar. Dan produksi sinetron adalah paling bisa diharapkan di Indonesia ini. Namun semua kandas. Tidak ada harapan dan kepastian kapan bisa mulai bekerja lagi. Sekarang hanya duduk di rumah kos tidak melakukan apa-apa. Mencoba mencari peruntungan dengan menghubungi beberapa teman, tetapi tidak berhasil. Hampir semua mengalami hal serupa, kehilangan pekerjaan. "Yana kasi...