Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

CHAIRIL BAWA GULUNGAN TALI | Puisi Fiqar W. Eda

Chairil bawa gulungan tali mengukur luas laut. Ia rentangkan dari ujung barat ke ujung timur. Ia ragu tentang derai cemara* dan senja pelabuhan kecil* Laut telah dipagar bambu, ditumbuhi mall dan beton Chairil, Mereka benar-benar binatang jalang* Dari kumpulannya orang terpandang, Muda dan sarjana Berteriak, “Aku ingin korupsi 1000 tahun lagi.” Chairil, Tak perlu sedu sedanmu* Mereka yang terbaring di antara Karawang dan Bekasi* Dioplos jadi muntahan kodok Untuk BBM dan minyak goreng Nasib memang muntahan masing-masing Negeri semati tugu* _2025_ *Fikar W. Eda*, penyair asal Gayo. Peserta Forum Puisi Indonesia ’87 di TIM Jakarta dan berbagai event Sastra lainnya. Pernah menjabat Ketua Komite Sastra DKJ (2013-2015) dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh (DKA) 1990-1995. Buku puisinya : Rencong (2003, 2005, 2008), dan Sepiring Mie Aceh Secangkir Kopi Gayo Bertalam Giok Nagan (2015) dan sejumlah antologi bersama.

Mie Godok Pak Ateng | Yonathan Raharjo

Mi godok Pak Ateng. Tulisannya godog. Kupilih godok tanpa melihat KBBI. Kubaca puisi Hampa dimulai dengan kata Sri. Ada listrik lemah arus mengalir di dadaku. Kuteruskan baca.  Wah pasti ini bukan puisi anak SMP ini. Kucek google melacak pencurian artikel. Nah betul. Ini puisi Chairil Anwar. Besoknya buku sudah harus naik cetak. Baik kuganti saja isi puisi itu. Tidak ingin kukabari gurunya. Nanti mengganggu kesan kebahagiaan penerbitan buku literasi ini. Biar kusalahkan diri sendiri. Sejak aku menekuni novel, jarang kubaca puisi. Cengeng. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer. Maka terhadap puisi Chairil Anwar yang sedang diperingati harinya sebagai hari puisi saat tulisanku kubuat ini, meski ada aliran listrik dadaku terkait dengannya, aku harus memeriksa terlebih dulu di google untuk menangkap pencurian terhadapnya. Aku mengkritik diri sendiri. Sebagai pelopor Seni Kritik Sastra harusnya kurubuhkan tembok pembacaan seperti zaman dulu saat aku masih dinilai Damhuri Muhammad berlatar ...

Pamflet Kepala Babi | Sajak Hasan Aspahani

KEPALA babi  mengantar headline ke halaman depan surat kabar juru bicara istana dengan kelihaian lidahnya memasak peristiwa itu menjadi hidangan                  yang panas menyala! Dalam jamuan makan malam di halaman istana menu itu tak jadi disuguhkan  meskipun telah diolah oleh juru masak  dengan berbagai  resep istimewa  tetamu dan tuan rumah yang selalu  lapar itu - tampaknya telah kehilangan selera diam-diam ternyata merekalah yang menghabiskan paha babi dada babi kaki babi jeroan babi lemak babi isi perut babi... Di ujung perjamuan malam itu - pulanglah mereka sebagai babi-babi dengan isi kepala yang sama : berikutnya, siapakah babi yang akan mereka sembelih untuk disantap bersama dan dikirim ke mana kepalanya... 2025

Antara Puisi Gelap dan Prosa Ungu | Sastra

Oleh: Hermawan Aksan PADA 1980-an istilah “puisi gelap” mengemuka (lagi) ketika banyak ditemukan puisi yang sulit dipahami maknanya, misalnya karya-karya Afrizal Malna dan Kriapur. Dikutip dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id, pensyair Abdul Hadi W.M. (1988) menyebutkan bahwa sajak-sajak Kriapur tidak menggunakan kata-kata klise, tapi tampak aneh dan gila. Ungkapan seperti “bulan pecah berantakan” dan “kupahat mayatku di dasar air” adalah majas dan lambang yang bersifat pribadi sehingga gelap maknanya. Iwan Fridolin, dalam tulisannya yang berjudul “Impian dan Luka Sejarah” berpendapat bahwa secara umum puisi gelap dapat dikatakan sebagai puisi yang maknanya tersembunyi, sukar, atau tidak ada kemungkinan untuk dipahami. Ia mungkin menyajikan makna yang bertingkat-tingkat, keruwetan dan kerumitan pemikiran atau ketiadaan makna sama sekali. Hal ini biasanya ditandai oleh penggunaan gaya eliptik, metafora, alusi dan referensi yang muskil, bentuk tipografis, bahasa arkhaik atau berbunga-bunga,...

Akar Tradisi Sastra Indonesia

Maman S. Mahayana Belanda sebagai negara kecil di Eropa sebenarnya cukup punya reputasi yang baik sebagai negara kolonial yang berhasil merambahkan kekuasaannya sampai ke Afrika. Meski begitu, Belanda termasuk salah satu negara kolonial yang gagal menanamkan jejak peradabannya di negara bekas koloninya dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, seperti Inggris, Prancis, Portugis atau Spanyol.  Paling tidak, bahasa dan agama yang ditinggalkan negara-negara kolonialis itu menciptakan semacam ikatan sejarah yang menghubungkan negara-negara itu dengan bekas wilayah koloninya. Belanda tidak! Agama tidak, bahasa pun tak! Satu-satunya keberhasilan Belanda meninggalkan jejak kekuasaan kolonialismenya di wilayah Nusantara adalah penggantian penulisan Arab—Melayu atau huruf Jawi ke huruf Latin.  Dalam hal ini, Belanda tidak meninggalkan peradaban, melainkan dampak politik kolonial yang pengaruhnya begitu besar. Para ulama dan intelektual Nusantara yang terbiasa menulis dalam bahasa Me...

Apa Sih, Sastra Indonesia

Oleh: Maman S. Mahayana Sebelum membincangkan lebih jauh tentang problematika sastra Indonesia, perlu kiranya merumuskan dahulu, apa sih, sastra Indonesia itu? Jika kita bersepakat dengan konsep, apa yang dimaksud sastra Indonesia, barulah kita menerka lebih jauh ke tradisi yang melatarbelakanginya; apa yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri karya sastra itu termasuk sastra Indonesia; apa pula syarat yang menyertainya. Kembali kita munculkan lagi pertanyaan tadi: apa sih, sastra Indonesia?  Mengingat ada tiga ragam sastra, yaitu prosa, puisi, dan drama—dan belakangan masuk pula esai, maka siapa pun orang Indonesia—yang secara hukum kenegaraan menjadi warga negara Indonesia— jika ia menulis atau menghasilkan karya sastra, baik prosa, puisi, atau drama (dan esai) dalam bahasa Indonesia, karyanya termasuklah khazanah sastra Indonesia. Jadi, syarat bahasa yang digunakan dan identitas kewarganegaraan, mutlak sebagai ciri yang menandainya.  Bagaimana jika ada orang atau warga neg...

Klarifikasi Maman S. Mahayana Tentang Pembaca Puisi Terbaik Indonesia

Oleh: Maman S. Mahayana Tulisan ini bertujuan: (1) mengklarifikasi judul berita, “Ny Putri Koster Pembaca Puisi Terbaik di Indonesia,” (2) menanggapi komentar yang mengatakan, pernyataan saya lantaran pembaca puisinya seorang istri gubernur, (3) menyampaikan argumen atas pernyataan saya. Berikut saya jelaskan kronologinya. Saat pembukaan Bali International Literary Simposium 2019 di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar (Kamis, 10/10/19) entah mengapa, saya diminta memberi sambutan mewakili sastrawan. Dan selalu, memberi sambutan di hadapan para sastrawan hebat dan reputasional–sekadar menyebut beberapa— seperti Putu Wijaya, Warih Wisatsana, Putu Fajar Arcana, Joko Pinurbo, dan sederet panjang sastrawan Indonesia lainnya, hati kerap kecut, karena merekalah sesungguhnya yang lebih pantas.  Dalam acara itu, hadir pula beberapa Indonesianis, seperti Koh Young Hun (Korea), Pamela Allen (Australia), Jean Couteau (Prancis), seorang penerjemah dari Jerman (maaf, saya lupa naman...