Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Bakiak | Cerpen

Cerpen Hasan Aoni Suara bakiak terdengar setiap pagi. Iramanya mengikuti dentang jam dinding Junghans yang dipasang di ruang tengah. Menggema di rumah yang jarak antara lantai dan langit-langitnya tinggi. Di depan musholla kecil rumah itu suara itu berhenti. Abah, pemakai bakiak itu, menunaikan tahajjud dan bergilir setelah itu mengunjungi salah satu dari tiga kamar isterinya. Gus Qirom menandai suara itu sebagai alarm. Setiap bakiak berbunyi, ia terbangun dan memburu. Telapak kaki tak beralas berlari antara ingin tahu dan takut. Abah menyambut Gus Qirom. Anak usia tujuh tahun itu digendong dan didudukkan di samping sajadah. Ketika Abah memasuki kamar lain, ia kembali ke kamarnya dan menelusup di bawah ketiak ibu. Ibunya isteri tertua Abah. Anak sekecil itu mulai paham arti kunjungan Abah ke kamar-kamar itu. Suatu ketika usai tahajjud Abah mengunjungi kamar ibunya. Ia diminta tinggal di musholla membaca al-Qur'an. Pagi sebelum shubuh ibunya keramas. Siklus kunjungan Abah dan basah ...

Ibu Bagi Rara | Cerpen

Cerpen: Kurnia Effendi RARA tahu, ia tak punya ibu sejak usianya seminggu. Mengapa Gaharu berulang-ulang menanyakan perihal orang tuanya? Bedebah itu terlalu usil mengungkit riwayatnya sebelum cinta saling mengikat. Bukankah jawaban-jawaban itu tak akan mengubah keadaan dirinya? Rara yang piatu tak pernah menyusu pada payudara siapa pun. Namun demikian, perasaan-perasaan sebagai anak terkasih atau gadis penanggung sedih, berawal dari rahasia itu. Rahasia? Kenyataan itu tak pernah disembunyikan. Bahkan sejak dia bayi dan tinggal di Perumnas Klender, rumah kecil penuh kasih yang membuatnya tak mengenal perasaan kehilangan. Di rumah itu ada tiga perempuan yang berlomba membahagiakannya. Nikmat mana lagi yang hendak engkau dustakan, Rara? “Pakde, kapan punya waktu untuk Rara?” Ia mengirim pesan melalui sabak android kepada seseorang yang sulit ditemui akhir-akhir ini. Pakde sering jauh dari Jakarta dan tak cukup waktu untuk berjumpa. Rara memojok di sebuah kedai kopi. Hari masih cukup muda...

Wanita Yang Ternoda 18+ | Cerpen

Oleh : Ju Ya Sudah dua tahun kutinggalkan kampung ini, namun, tidak ada yang berubah. Air sungai kecil disamping rumah warga tempat buang hajat dan mandi masih mengeluarkan suara gemercik. Daun tebu dibibir sungai masih berkeserak ditiup angin. Bau bakaran daun kering khas pedesaan masih tercium meski samar. Pesona alam yang hijau Bukit Rimbang Baling masih menjadi pemandangan menggoda untuk di kunjungi wisatawan dengan gelar paru–paru dunia. Mushalla yang dulu gagah masih berdiri meski catnya telah memudar dan lusuh. Gubuk tua milik orang kaya di kampungku pun masih tetap ada. Namun, hatiku masih terluka. Amarah masih meraja, kesumat melumat hingga waktu yang tak tahu kapan menjeda. Kejadian yang paling kubenci, masih terekam dengan sempurna dalam kepala dan kembali hadir seperti layar tancap menayangkan satu persatu kejadian. "Dewi, bisa tolong ambilkan air ke sungai. Ada anggota dewan berkunjung ke desa kita, kebetulan rumah kita jadi tujuan dewan itu. Dalam rangka sosialisa...

Praha dan Kenangan | Cerpen

Oleh Za'idatul Uyun Akhirnya aku datang ke sini, Praha. Bukan untuk mengenangmu, hanya untuk mampir dan memotret beberapa tempat yang sering kau sebutkan dulu. Jangan ke-geer-an dan menganggapku sedang rindu kamu. Ternyata begini rasanya berdiri di tepi Jembatan Charles. Menikmati hiruk pikuk ratusan turis yang berlalu lalang. Di sebelahku ada seorang anak perempuan memakai hoodie berwarna biru, persis seperti yang Kau kenakan saat kita pertama bertemu. Bodohnya aku, tentu saja ada ribuan hoodie berwarna biru di muka bumi. 𝘋𝘢𝘮𝘯! Haruskah aku mengingatmu setiap melihat hoodie seperti itu?. Kau lihat di ujung sana? sepasang kekasih biasanya akan mengunci gembok cinta mereka di sebuah pagar. Tapi aku tidak akan melakukan itu. Selain karena aku tak punya kekasih, aku tidak percaya dengan hal seperti itu. Kenapa juga manusia mengabadikan cintanya dengan memasang gembok? Padahal cinta lebih abadi dari seonggok besi yang bisa berkarat karena korosi. Praha memang indah, Praha! Aku inga...

Bocah Botak di Depan Warung | Cerpen

Oleh: Elsaja Pada siang hari yang terik dan warung Hindun hanya dikerubuni lalat, aku melihatnya berdiri di sana. Kepala botaknya mengkilap diterpa cahaya matahari yang menyengat. Punggung bajunya basah. Bulir-bulir keringat muncul di pori-pori kepalanya, lalu meleleh ke tengkuknya yang hitam. Aku tidak tahu apa yang bocah itu telah kerjakan untuk menebus keberadaannya di depan warung Hindun. Apapun itu, pastilah sangat menguras tenaga. Dari belakang, aku bisa melihat kepala bocah itu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan perlahan, seolah-olah sedang memindai barang apa saja yang disediakan untuknya. Aku bisa melihat apa yang ia juga lihat. Di sebelah kirinya terdapat etalase, di atas etalase, roti-roti murah ditumpuk di sebuah wadah. Di sebelah kanan anak itu, terdapat meja kecil berisi toples-toples permen aneka warna. Aku bisa menebak apa yang ia pikirkan. Rahmad Nursaid, putra almarhum Rusidi, sedang memilih jajan yang hendak dibelinya. Ini bukan kali pertama aku menemukan anak itu b...

Kisah Semalam Anjing Penjaga | Cerpen

Oleh: Santoso Mahargono Malam ini genap sebulan aku telah berjaga di pabrik penggilingan gabah. Tugas yang mengharuskan kedua mataku terjaga. Aku tak boleh lengah sekalipun. Jika lelah duduk, aku akan berjalan mengawasi sekitar pabrik. Kuharap seperti malam-malam kemarin, tak ada gangguan apapun di pabrik ini. Namun ternyata tidak demikian, satpam pabrik nampaknya lupa memukul lonceng penanda waktu. Kuliaht di kejauhan pos jaga masih menyala terang. Kuangkat kepalaku agak tinggi, kelihatannya televisinya juga masih menyala. Dasar manusia, disuruh jaga malah enak-enakan tidur. Aku menggonggong singkat dan lirih, boleh dikata sedang mengumpat. Aku terus berjaga di sudut gelap yang tak diketahui siapapun kecuali satpam pabrik. Memang demikian tugas dari tuanku. Lagi pula siapa yang datang malam-malam begini ke pabrik jika tidak berniat jahat? Apalagi antrian gabah yang akan digiling semakin banyak sejak pagi hingga sore tadi. Jelas ini situasi yang benar-benar dijaga. "Hei siapa...

Bercak | Cerpen

Oleh: Hasan Aoni Persetubuhan itu akhirnya terjadi. Ini malam pertama bagi Dulah dan kesekian kali bagi Imah. Dulah harus menunggu seminggu sejak akad nikah di tengah hujan badai malam itu. Imah datang bulan. Tetapi, ketika malam pertama yang ditunggu datang, bercak darah perawan yang ditunggu dengan hati berdebar itu tak pernah terjadi. "Jangan serampangan seperti hewan. Perempuan di malam pertama akan sakit dan mengeluarkan darah perawan," pesan neneknya. Ini pelajaran seks pertama yang diterima Dulah. Pesan itu menancap di kepala Dulah. Pemuda desa itu tak pernah mengalami masa pacaran. Berkenalan dengan Imah usai mengantar gadis itu berbelanja, tiga bulan kemudian menikah. Cepat sekali prosesnya. Imah belum mengenal desa itu sejak memilih menetap dan meninggalkan kota kelahirannya yang suram. Ia membeli rumah mungil di dekat pangkalan ojek dan menempatinya sendirian. Sejak Imah menempati rumah itu, Dulah sering datang lebih pagi. Sasarannya tentu Imah. Ia antar gadis itu ...

Tukang Somay

Cerpen Anggie D. Widowati Alif berlari kencang di teras rumah dan menubrukku. Aku sedang mengeluarkan cucian dari kamar mandi. Ember itu lepas dari tanganku dan cucian itu bertebaran di lantai. Alif bersembunyi di dasterku ketakutan, sambil mengintip ke arah deretan rumah petak itu. "Ada apa Nak, kok kamu ketakutan?" "Somay, somay, somay..." Anakku yang masih lima tahun itu dengan telunjuknya menunjuk ke arah kontrakan dimana seorang penghuni baru yang berprofesi sebagai tukang somay tinggal. Kamar paling ujung, dari 10 deret rumah petak, sederetan dengan petakanku. Aku melihat ke arah Alif menunjuk, tak ada siapa-siapa, hanya deretan kamar lusuh yang catnya sudah banyak mengelupas. Pada terasnya bergelantungan baju-baju yang dijemur. Beberapa pengontak juga menaruh barang-barang mereka di teras. "Makanya jangan masuk ke situ," kataku sambil memasukkan cucian ke ember. "Lihat badut saja yuk," kataku pada Alif. L...

Ngidam

Oleh: Anggie D. Widowati Seluruh penonton yang ada di sirkuit itu bertepuk tangan riuh. Sony Sumarsono kembali mengharumkan nama Indonesia sebagai pembalap muda dengan prestasi internasional yang menggemparkan dunia MotoGP. Dengan mudah Sony mengendari motor balapnya mengalahkan juara-juara dunia, bahkan Valentino Rossi pun harus angkat topi untuk keberhasilannya. Sirkuit Sentul gegap gempita karena seluruh penonton tak bisa menahan teriakan histeria. Para penjudi berjingkrak-jingkrak atas kemenangan Sony yang tidak terduga. Di luar sirkuit, penonton dari seluruh Indonesia sedang bergelak tawa melihat siarah langsung itu. Mereka berjingkrak dan tertawa-tawa sambil berjoged gila-gilaan menyambut kemenangan Sony yang baru saja mengalahkan setan sirkuit dari Italia, Rossi. Para reporter menjulukinya dengan julukan-julukan kebanggan. Si anak emas, si putra bintang, sang cahaya timur dan sebagainya. Begitu pun di media sosial. #SonySangJuaraMotoGPbaru menjadi trending. Semua akun sosme...

Gus Muslih

Cerpen Oleh: KH Mustafa Bisri Masih terngiang dalam ingatan kita akan sosok Gus Dur, yang selama hidupnya konsisten berusaha untuk mencerdaskan bangsa Indonesia dengan tanpa terkecuali. Bagaimana dengan Gus Muslih? GUS Muslih adalah seorang kiai muda yang tidak hanya cerdas dan kritis, tapi juga tegas dan lugas. Apabila melihat sesuatu yang dianggap tidak benar, tanpa ragu dia akan terang-terangan menyalahkan. Ungkapan yang paling disukai ialah qulilhaqqa walau kaana murran, katakanlah yang benar meski terasa pahit. Anak-anak muda paling suka mengundang Gus Muslih untuk memberikan ceramah. Bagi anak-anak muda itu, Gus Muslih dianggap pembaru. Banyak hal yang sudah berjalan lama di daerah kami yang dihujat dan dipertanyakan oleh Gus Muslih. Misalnya kebiasaan keluarga yang mendapat musibah kematian, memberi makan kepada para tamu yang bertakziah dan memberikan uang salawat kepada kiai atau modin, dia tentang habis-habisan. “Ya kalau keluarga yang tertimpa musibah itu keluarga...

Guru

Cerpen by: Anggie D. Widowati Angin dengan liar menerobos jendela kereta kelas ekonomi yang melaju menembus malam. Suara mesin menderu-deru memekakkan telinga. Stasiun Balapan Solo mulai menjauh. Kereta dengan dua belas gerbong itu terus menyusuri rel menuju Jakarta. Wajah Pardianto murung. Dua rekannya tampak bercerita dengan akrabnya. Pardianto memang kurang siap dengan perjalanan ini. Apalagi ini masih belum seratus hari istrinya meninggal. Diraba rambutnya yang mulai putih. Tangannya mulai berkerut. Hatinya galau. Wajah kelima anaknya muncul bergantian. Ahmad anak sulung yang bisnis ayam potongnya kembang kempis karena krisis. Atau Ibrahim anak keduanya yang pengangguran, karena pabrik tempe tempatnya bekerja tutup. Menyusul, tiga anak perempuannya Mariam, Khadijah dan Aisyah juga mengayuh hidup penuh kesulitan. Mereka memang tidak sempat menempuh pendidikan sarjana. Seorang yang hanya menempuh sekolah sampai SMA, tidak bisa memperoleh hidup yang layak. Karena ijasah SMA t...