Postingan

Antara Puisi Gelap dan Prosa Ungu | Sastra

Oleh: Hermawan Aksan PADA 1980-an istilah “puisi gelap” mengemuka (lagi) ketika banyak ditemukan puisi yang sulit dipahami maknanya, misalnya karya-karya Afrizal Malna dan Kriapur. Dikutip dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id, pensyair Abdul Hadi W.M. (1988) menyebutkan bahwa sajak-sajak Kriapur tidak menggunakan kata-kata klise, tapi tampak aneh dan gila. Ungkapan seperti “bulan pecah berantakan” dan “kupahat mayatku di dasar air” adalah majas dan lambang yang bersifat pribadi sehingga gelap maknanya. Iwan Fridolin, dalam tulisannya yang berjudul “Impian dan Luka Sejarah” berpendapat bahwa secara umum puisi gelap dapat dikatakan sebagai puisi yang maknanya tersembunyi, sukar, atau tidak ada kemungkinan untuk dipahami. Ia mungkin menyajikan makna yang bertingkat-tingkat, keruwetan dan kerumitan pemikiran atau ketiadaan makna sama sekali. Hal ini biasanya ditandai oleh penggunaan gaya eliptik, metafora, alusi dan referensi yang muskil, bentuk tipografis, bahasa arkhaik atau berbunga-bunga,...

Budaya Pop Memperparah Kemiskinan

Oleh Aprinus Salam Budaya pop membuat masyarakat lebih dinamis. Sekilas budaya pop menggairahkan perekonomian ketika sejumlah orang memanfaatkan budaya pop untuk mencari keuntungan atau nafkah dengan industri kreatifnya. Akan tetapi, lebih jauh budaya pop justru memperparah kemiskinan. Hal ini berkaitan dengan berapa banyak waktu produktif masyarakat terbuang karena menjadi konsumen dalam budaya pop tersebut. Seperti diketahui, beberapa instrumen budaya pop adalah berkembangnnya teknologi media massa (dan/atau media sosial) yang mendatangkan hiburan atau kesenangan dan sekaligus memperbanyak penggunaan waktu yang (dianggap) luang. Instrumen teknologi massa itu hinngga 1990-an yang penting adalah telelvisi. Memasuki tahun 2000-an yang signifikan adalah media sosial (teknologi internet); dengan perangkat lunaknya seperti film (dalam berbagai kategori), majalah dan fiksi hiburan, musik pop, dan iklan. Pangsanya, segala umur. Ada kecenderungan ilmu-ilmu sosial cukup permisif terhadap fenom...

Kebun Belakang Rumah | Novelet

Gambar
Oleh: Anggie D. Widowati (1) Mimpi-mimpi tak seindah kenyataan. Dan penghancur mimpi itu kadangkala sesuatu yang tak pernah diduga sebelumnya. Itu pula yang dialami Bagas Waras. Belum juga setahun dia selesaikan kuliahnya di institut seni jurusan perfilman. Belum juga dua bulan bekerja sebagai cameramen di sebuah rumah produksi, dia sudah dirumahkan. Bukan hanya dirinya, hampir semua kru tidak bekerja lagi karena produksi sinetron untuk sementara dihentikan dengan alasan pandemi covid19. Dia menyukai pekerjaan itu, meskipun hanya pekerja rendahan, Bagas merasa punya banyak kesempatan untuk belajar. Dan produksi sinetron adalah paling bisa diharapkan di Indonesia ini. Namun semua kandas. Tidak ada harapan dan kepastian kapan bisa mulai bekerja lagi. Sekarang hanya duduk di rumah kos tidak melakukan apa-apa. Mencoba mencari peruntungan dengan menghubungi beberapa teman, tetapi tidak berhasil. Hampir semua mengalami hal serupa, kehilangan pekerjaan. "Yana kasi...