Anak Gadis Dan Pendidikan Kewanitaan


Oleh: Anggie D. Widowati 

Seorang anak usia 13 tahun (siswi kelas 1 setingkat SMP di Ciputat) sebut saja Gadis, menghilang. Ibunya bingung, karena gadis kecil itu empat hari tidak pulang. Mereka pun melaporkan kehilangan itu ke polisi. Polisi bergerak dan menelusuri aktifitas si gadis seminggu belakangan, termasuk aktifitas sosmednya.
Dan dari sebuah grup chat WhatsApp (WAG), ditemukanlah bahwa si bocah aktif disitu sebagai member dan memiliki kekasih. Grup chat pecinta sepak bola Jakarta itu yang mempertemukannya dengan sebut saja Garong, kekasihnya, penculiknya.
Selama 4 hari pasangan tidak seimbang itu, (karena Gadis masih anak-anak) tinggal di kontrakan salah seorang family Garong. Garong yang usianya 19 tahun, tidak bekerja alias pengangguran, ditangkap dan disebut sebagai penculik.
Ibu Gadis tentu saja miris dengan kejadian ini, alhamdulillah puterinya selamat. Tetapi sebetulnya tidak selamat dengan utuh. Karena mereka sudah berhubungan seperti layaknya suami istri. Garong dan pamannya pemilik kontrakan terancam 7 tahun penjara karena penculikan anak di bawah umur.
30 anak dari 100 siswa puteri di sekolah temanku, sebuah SMP di Bekasi tidak perawan. Bahkan sebagian pernah hamil. Anak-anak dibawah umur ini, menjadi sasaran seks orang-orang tak bertanggungjawab atas nama cinta. Dari kasus di SMP itu, para gadis jelang remaja ini berpacaran (dipacari) oleh mereka yg usianya lebih tua, pengangguran, buruh pabrik atau karyawan.
Cara mereka berpacaran bukan hanya bermesraan di sosmed, jalan-jalan ke mall atau ke tempat wisata, tetapi juga membawa anak-anak itu ke tempat sepi untuk diajak berhubungan layaknya suami istri.
"Kalau tidak mau diajak begituan, nanti diputusin," begitu kata seorang murid pada sahabatku yang guru BP itu.
Anak-anak gadis baru gede ini menjadi sasaran mereka karena mudah ditipu, atas nama cinta. Kalau sudah kejadian seperti yang menimpa Gadis apa yang bisa diperbuat. Masih untung kalau tidak hamil. Usianya belum 17, perjalanan sekolahnya masih panjang, sementara lelaki yg menghamilinya tidak jelas pekerjaannya.
Dari sinilah perlunya peran orang tua untuk memberikan pemahaman mengenai organ kewanitaan kepada puterinya. Terutama pendidikan seks mengenai alat reproduksi wanita dan pria. Mulai dari penjelasan ketika pertama kali mendapatkan menstruasi, lalu bagaimana proses tubuhnya bila sel telur di tubuhnya dibuahi, dan bagaimana kelak, menjadi calon seorang ibu.
Intinya, setiap mereka yang sudah menstruasi berpotensi untuk hamil, bila sel telurnya dibuahi dengan berhubungan badan dengan pria. Karena itu harus ditekankan agar mereka tidak mau sembarangan melakukan hubungan. Ajarkan pula pula soal keperawanan (Karena kita orang timur). Menjaga keperawanan itu sama juga sama dengan menjaga kehormatannya sebagai wanita.
Ketika menikah, laki-laki (Indonesia) mencari wanita yang masih perawan. Yang belum pernah disentuh oleh lelaki lain. Karena itu anak gadis kita pun harus tetep menjaga keperawanannya untuk dipersembahkan kepada suaminya kelak. Itu prinsip yang harus diajarkan kepada anak-anak gadis kita.
Jangan sungkan-sungkan dan menganggap pembicaraan semacam ini sebagai hal yang tabu. Pemahaman sederhana itu bisa menjadi tameng bagi anak gadis kita dari para lelaki tak bertanggungjawab yang hanya menjadikan mereka obyek kesenangan. Wallahualam.

Jakarta, 27 Desember 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengulik Stensilan Mesum Enny Arrow Era 1980-1990-an

Di Toilet

15 Ciri-ciri Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat