Aplikasi Multiple Intelligences di Kelas
Oleh Munif Chatib
Jakarta (19/1/2018) Ada pertanyaan yang menarik dari seorang guru. Jika guru sudah belajar tentang multiple intelligences, lalu bagian mana yang penting dikuasai oleh guru dalam mengaplikasikannya di dalam kelas? Pertanyaan ini seperti bertanya langsung tepat pada dagingnya.
Seperti diketahui multiple intelligences itu adalah kecerdasan yang beragam yang dimiliki setiap manusia, termasuk para siswa. Setiap anak mempunyai dominasi kecerdasan yang beragam dari delapan kecerdasan mutlitple intelligences yang dipelopori oleh Howard Gardner, seorang psikolog modern dari Harvard University. Mungkin anak kita mempunyai kecerdasan bahasa, logis matematis, gambar dan ruang, gerak, musik, interpersonal, intrapersonal dan naturalis. Dari delapan kecerdasan tersebut masing-masing anak mempunyai kekuatan beragam. Ada yang dominan pada kecerdasan intrapersonal, namun lemah pada kecerdasan bahasanya. Namun ada juga yang semua delapan kecerdasannya dominan.
Lalu apa hubungannya teori kecerdasan multiple intelligences ini dengan aplikasi guru mengajar di kelas? Ternyata jika ada siswa yang mempunyai kecerdasan bahasa, maka siswa tersebut cenderung mempunyai gaya belajar yang ciri-ciri dan polanya sangat linguistik. Menurut penulis, gaya belajar adalah respon yang paling peka dalam otak seseorang untuk menerima data atau informasi dari pemberi informasi dan lingkungan pemberi informasi. Informasi akan lebih cepat diterima oleh otak apabila sesuai dengan gaya belajar penerima informasi.
Contohnya, gaya belajar anak lingustik itu antara lain belajar dengan cara mengenal huruf, kata, dan kalimat, membaca, menulis, bercerita, melaporkan sesuatu yang menarik, berbicara di depan umum, merekam, mendengar, menghafal, dan dengan bertanya.
Nah jika guru memahami gaya belajar semua siswanya yang bersumber dari ibnformasi tentang dominasi kecerdasan multiple intelligences, maka yang dapat dilakukan oleh guru atau sekolah adalah:
Pertama, mendisain metode mengajar sesuai gaya belajar siswanya. jika dalam sebuah kelas terdiri dari banyak siswa, maka pengelompokkan berdasarkan dominasi gaya belajar menjadi penting. Jika gaya mengajar guru (metode) sama dengan gaya belajar siswa maka tidak ada mata pelajaran yang sulit buat siswa.
Kedua, guru dengan mudah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang selama ini banyak membuat guru pusing. Dalam RPP yang penting adalah metode atau strategi apa yang akan digunakan pada saat mengajar di kelas. Jika guru mendapat informasi tentang gaya belajar siswanya, maka guru dalam RPP akan memilih metode yang sesuai dengan gaya belajar siswanya.
Ketiga, guru akan selalu belajar multi strategi mengajar sesuai dengan beragamnya gaya belajar dari para siswanya. strategi atau metode mengajar tidak diperkenan statis, namun harus dinamis dan beragam. Guru yang keren adalah guru yang menguasai bayak metode, tidak hanya satu metode yaitu “ceramah sampai akhir zaman”.
Kesimpulannya, kemampuan pedagogic guru akan terus diasah ketika guru memahami tentang pentingnya mengetahui multiple intelligences siswanya.
(Munif Chatib – Pendiri School Of Human)
Jakarta (19/1/2018) Ada pertanyaan yang menarik dari seorang guru. Jika guru sudah belajar tentang multiple intelligences, lalu bagian mana yang penting dikuasai oleh guru dalam mengaplikasikannya di dalam kelas? Pertanyaan ini seperti bertanya langsung tepat pada dagingnya.
Seperti diketahui multiple intelligences itu adalah kecerdasan yang beragam yang dimiliki setiap manusia, termasuk para siswa. Setiap anak mempunyai dominasi kecerdasan yang beragam dari delapan kecerdasan mutlitple intelligences yang dipelopori oleh Howard Gardner, seorang psikolog modern dari Harvard University. Mungkin anak kita mempunyai kecerdasan bahasa, logis matematis, gambar dan ruang, gerak, musik, interpersonal, intrapersonal dan naturalis. Dari delapan kecerdasan tersebut masing-masing anak mempunyai kekuatan beragam. Ada yang dominan pada kecerdasan intrapersonal, namun lemah pada kecerdasan bahasanya. Namun ada juga yang semua delapan kecerdasannya dominan.
Lalu apa hubungannya teori kecerdasan multiple intelligences ini dengan aplikasi guru mengajar di kelas? Ternyata jika ada siswa yang mempunyai kecerdasan bahasa, maka siswa tersebut cenderung mempunyai gaya belajar yang ciri-ciri dan polanya sangat linguistik. Menurut penulis, gaya belajar adalah respon yang paling peka dalam otak seseorang untuk menerima data atau informasi dari pemberi informasi dan lingkungan pemberi informasi. Informasi akan lebih cepat diterima oleh otak apabila sesuai dengan gaya belajar penerima informasi.
Contohnya, gaya belajar anak lingustik itu antara lain belajar dengan cara mengenal huruf, kata, dan kalimat, membaca, menulis, bercerita, melaporkan sesuatu yang menarik, berbicara di depan umum, merekam, mendengar, menghafal, dan dengan bertanya.
Nah jika guru memahami gaya belajar semua siswanya yang bersumber dari ibnformasi tentang dominasi kecerdasan multiple intelligences, maka yang dapat dilakukan oleh guru atau sekolah adalah:
Pertama, mendisain metode mengajar sesuai gaya belajar siswanya. jika dalam sebuah kelas terdiri dari banyak siswa, maka pengelompokkan berdasarkan dominasi gaya belajar menjadi penting. Jika gaya mengajar guru (metode) sama dengan gaya belajar siswa maka tidak ada mata pelajaran yang sulit buat siswa.
Kedua, guru dengan mudah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang selama ini banyak membuat guru pusing. Dalam RPP yang penting adalah metode atau strategi apa yang akan digunakan pada saat mengajar di kelas. Jika guru mendapat informasi tentang gaya belajar siswanya, maka guru dalam RPP akan memilih metode yang sesuai dengan gaya belajar siswanya.
Ketiga, guru akan selalu belajar multi strategi mengajar sesuai dengan beragamnya gaya belajar dari para siswanya. strategi atau metode mengajar tidak diperkenan statis, namun harus dinamis dan beragam. Guru yang keren adalah guru yang menguasai bayak metode, tidak hanya satu metode yaitu “ceramah sampai akhir zaman”.
Kesimpulannya, kemampuan pedagogic guru akan terus diasah ketika guru memahami tentang pentingnya mengetahui multiple intelligences siswanya.
(Munif Chatib – Pendiri School Of Human)
Komentar
Posting Komentar