Bila Anak Kecanduan Game Online
Oleh: Anggie D. Widowati
Sudah sering kita mendengar orang tua mengeluh
nilai sekolah anak turun lalu menyalahkan game. Apakah sekedar menyalahkan itu
salah?
Enggak juga sih, tetapi sebenarnya game (online)
tidak sekedar membuat nilai sekolah turun.
Game (online) memiliki sifat addict/kecanduan.
Ini yang membuat anak menjadi tidak fokus pada pelajaran, dan lebih tertarik
untuk memainkannya, tinimbang belajar.
Itu satu, efek yang lain, anak menjadi tidak
memiliki rasa empati pada lingkungan sekitar, cenderung cuek dan bisa berakibat
gagap sosial.
Anak tidak memiliki kemampuan lain yg bisa
diasah, misalnya kemampuan melukis, olah raga, dan yg lainnya, karena ortu
tidak peduli. Ortu lebih suka membelikan HP bagus, dibandingkan seperangkat
alat lukis misalnya. Agar dia bisa kekinian seperti temennya yg lain.
Kemudian, anak juga kurang bisa membawa diri
dalam pergaulan, karena menghabiskan waktu untuk main game dan tidak melakukan
komunikasi secara sehat dengan lingkungan sekitarnya, dan menutup diri.
Sayangnya banyak orang tua yang melakukan
pembiaran, dengan alasan agar anak tidak rewel. Anaknya seharian main game
malah seneng, kalau pun kawatir, tidak memiliki solusi untuk mencegahnya, yang
terjadi pwmbiaran itu pun dilakukan berulang-ulang.
Efek negatif lainnya, anak tidak tahu tempat. Di
kamar main game, di depan tv main game, di meja makan main game, di mobil main
game, di restoran main game, mirisnya di sekolah pun main game.
Resiko lainnya, dunia maya, termasuk dunia game
itu, anak2 punya resiko melihat hal yang belum pantas untuknya, seperti orang
berhubungan suami istri, wanita telanjang, dalam bentuk iklan maupun sampah
(chache).
Ngeri kan.
Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud (05 Februari
2018) mengeluarkan sikap tegas dengan melarang anak-anak memainkan game-game
berikut ini. Alasannya cukup jelas karena game2 ini banyak mengandung unsur
kekerasan. Biasanya, dalam game-game itu, para perempuannya pun barpakaian
minim.
Silakan orang tua mengecek kembali apakah game2
ini dimainkan putera-putrinya yg masih dibawah umur. (-17 th) dan silakan
membaca link yg saya cantumkan, kenapa pemerintah melakukan hal itu.
1. World of Warcraft
2. Call of Duty
3. Point Blank
4. Cross Fire
5. War Rock
6. Counter Strike
7. Mortal Kombat
8. Future Cop
9. Carmageddon
10. Shelshock
11. Raising Force
12. Atlantica
13.Conflict Vietnam
14.Bully
15.Grand Theft Auto
16. Mobile legend
Lalu bagaimana pencegahan agar anak tidak melulu
main game?
1. Ortu harus benar2 turun tangan. Mengetahui
game apa yang dimainkan oleh anak. Temani kalau perlu ikut bermain.
2. Alihkan kegiatan yang bersifat hobi.
3. Temani main ditaman, sekalian ortu olah raga.
4. Ajarkan adab2 di meja makan, di restoran, di
tempat umum, hingga anak enggak gagap dalam pergaulan kelak kemudian hari.
5. Membatasi kepemilikan alat komunikasi yg tiap
tahun ada keluaran baru yg lebih canggih. Jangan malah diberi yg terbaru.
Demikian semoga bermanfaat.
Jakarta, 08 Februari 2018
Komentar
Posting Komentar