TEMPO.CO, Jakarta -Lemparkan sebuah pertanyaan kepada anak milenial kelahiran akhir 90-an siapa yang pernah mendengar nama Enny Arrow? Nyaris tak ada yang tahu. Lain cerita kala pertanyaan serupa diajukan kepada kelompok usia di atas mereka. “Wah stensilan zaman kecil, pernah dengar tapi enggak tahu pasti itu siapa kayaknya nama pena, itu pengarang hits pada zamannya,” berbagai celetukan dan komentar bermunculan di beberapa grup Whatsapp. Malah ada yang lantas sempat bercerita sedikit pengalaman membaca karya stensilan tersebut sembunyi-sembunyi. Atau ada juga yang ditawari buku tersebut oleh pedagang buku bekas di kawasan Cikapundung, Bandung. Novel Enny Arrow merupakan stensilan mesum yang populer pada 1980-1990 -an. Kala itu, ia menjadi barang paling diburu di lapak-lapak buku emperan di kawasan Pasar Senen dan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Penjualannya tak terbendung meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kendati popularitasnya tinggi, penulis novel erotis itu hingga kini masih...
By: Vito Prasetyo _untuk Affan Kurniawan_ Di persimpangan mimpi dan peluru, seorang lelaki berjaket hijau menerobos waktu, membawa pesan dari satu perut kosong ke lainnya Langit sore itu terbelah seperti luka, awan-awan terurai menjadi pita kuning dan lonceng, penanda senyum bahagia berhenti untuk menyaksikan dunia yang menolak berbelas kasih Ia bukan pahlawan, bukan musuh— hanya kurir senyap dari kehidupan kecil yang dibungkus dalam plastik bening Tapi di bawah lampu lalu lintas yang berdarah pekat, sebuah bayangan berseragam menerjang arah angin, dan angin itu menjatuhkan tubuhnya seperti daun gugur yang dituduh memberontak Kota menutup matanya aspal menahan napasnya mesin yang tak sempat dimatikan menangis dalam dengungnya sendiri Dari helm yang terpental, keluar doa-doa yang belum selesai, menggelepar seperti burung kecil yang patah sayapnya oleh hukum yang tidak tahu bagaimana membedakan antara ancaman dan peng...
Barusan saya kebelet pengen buang air besar (BAB). Ngebutlah cari mall yang sejuk. Pilihan jatuh ke mall sebelah alun-alun Malang. Setelah sampai, aku langsung aja ke arah toilet khusus pria. Toiletnya banyak berjejer rapi dan bersih. Tanpa pikir panjang, aku milih toilet yang tengah dan langsung masuk aja. Baru saja jongkok di WC, dari sebelah ada yang teriak nanya. + piye kabare mas? - apik, jawabku +Jik kerjo nang sing biyen? - pancet, mas, dilakoni ae, kata saya di dalam hati bertanya-tanya ini siapa, kok kenal sama saya? - anak e sampeyan jik 2 taa? - iyo, mas, jawab saya sambil tetap penasaran, ini siapa di WC sebelah. + piye kabare bojomu? - apik-apik ae, aku makin bingung dan lupa tanya ini siapa orang yang di WC sebelah. Hening beberapa saat. Tidak berapa lama orang di WC sebelah ngomong gini: wis yo nelpone, iki nang WC sebelah enek wong edan, nyaauuut ae. Weduuus.
Komentar
Posting Komentar