Buser
Novelet by: Anggie D. Widowati
(1). Si Rahang Kuat
Sambil menghabiskan potongan terakhir roti tawar
gandum itu, aku menengok kembali androidku. Aplikasi ojek online itu belum
menemukan driver yang siap mengantarku ke kantor.
Jarak antara rumah ke kantor hampir 30 km, kalau
naik ojek online harus membayar sekitar 30 ribu. Tempat tinggalku lumayan jauh
dibandingkan dengan teman-teman sekantor.
Ada jalur angkutan kota, tetapi harus berganti 3
kali. Pengeluaran untuk transportasi akan membengkak bila menggunakan angkot,
belum lagi waktu yang mesti ditempuh. Dan yang terlebih kantor berada di jalur
macet, ojek online adalah piliham paling murah dan praktis. Tinggal menunggu di
depan rumah tukang ojek akan menghampiri dan siap mengantarku pergi.
Agus, Hamid, Syarif, Jojo, Wiwin, Lalang nama-nama
driver berseliweran.
“Yey, we get driver for you, Lalang Hanafi.”
Aplikasi ojek online itu menginformasikan bahwa
driver sudah siap mengantarku pergi,
seorang lelaki muda dengan rahang kuat dan alis mata tebal, ditampilkan
di foto dengan jaket khasnya. Aku bergegas mengemas tasku, dan mencium kening
puteriku yang masih lelap disamping neneknya.
“Ma ojeknya datang, Mia jalan dulu,” kataku pada
Mama yang sebenarnya sudah melek.
“Iya, hati-hati,” katanya pelan, takut
membangunkan Tantri.
Aku mencium tangan Mama, membuka pintu rumah, lalu
menguncinya kembali. Semenjak suamiku meninggal, aku tinggal di rumah Mama.
Kebetulan Mama juga sendiri karena Papa juga sudah pergi beberapa tahun sebelum
kematian Rangga, suamiku.
Rumahku aku kontrakan, lumayan buat menambah
penghasilan. Dan tinggal bersama Mama membuatku lebih tenang, karena ada yang
menjaga Tantri. Mama pun punya teman.
Masih gelap biarpun subuh sudah lama berlalu. Aku
berjalan ke depan, berdiri di teras.
Sebuah motor manual tua dengan knalpot berisik melewatiku. Aku melambaikan
tangan, dari jaketnya aku tahu itu ojek pesananku. Dia pun berbalik, tukang
ojek itu berhenti tepat di depan pintu pagar. Aku mendekatinya, setelah
memastikan pintu sudah terkunci.
“Ke Mampang Bu?” lelaki muda itu membuka kaca
helmnya dan bertanya dengan santun.
“Iyaa Bang,” jawabku.
Lalu dia memberikan helm dan menyuruhku naik di
jok belakang.
“Jangan lewat jalan danau, Bang, masih dibetulin,”
kataku.
“Siap Bu, kita lewat Haji Naim aja,” katanya
santun.
Dari sekian ojek yang pernah mengantarku pergi,
baru kali ini yang masih menggunakan motor jadul. Selain berisik, sesekali
tersendat karena harus oper gigi. Perasaan gak sampai-sampai. Motor tua itu
seperti tidak mau lari. Tenggelam diantara motor-motor matic yang berseliweran
di antara macet.
Namun dari cara mengemudi, tukang ojek ini
sepertinya mahir mengoperasikan motor jadul itu. Tubuhnya yang kecil kurus,
kaki-kakinya kokoh menahan ketika harus berhenti di kemacetan.
2. War
Jam istirahat aku makan siang bersama Resa di
sebuah food court tak jauh dari kantor. Resa adalah seorang sahabatku yang
kebetulan bagiannya sama denganku, bagian humas di perusahaan tempat kami
bekerja. Dia pendukung fanatik presiden, dan aktif dalam kegiatan partai.
“Bantuin gue war, Mia,” katanya sambil menyantap
gado-gado.
“War?”
“Iya, war.”
“Apaan itu?”
“Loe punya akun twitter enggak?”
“Punya, tetapi jarang aktif.”
“Yodah, ntar kalau aku lagi war, loe gue panggil,
loe bantuin gue,” katanya.
“Bantuin apa?”
Perempuan itu membuka androidnya, lalu masuk ke
aplikasi bergambar burung terbang. Dia menunjukkan akun pribadinya @r_juliany.
Resa Juliany; Berkerja dengan hati bahagia; Jakarta.
“Nih gue kemarin war.”
Aku penasaran. Kurapatkan tubuhku pada perempuan
bujang itu. Dia pun scroling di time line twitter itu.
Resa:
@Janabadra19 loe bisanya menghina, otak loe sudah
penuh kotoran, dodol
Seseorang menimpali.
Janabadra:
@r_juliany dasar perempuan rempong, loe tahu ga
sih siapa yg loe bela, PKI tau, dasar mulut ember
Resa:
@Janabadra19 lulusan apa sih loe, pernah ga
belajar sejarah, biar loe tahu sejarah dan agak pintaran dikit
Janabadra19
@r_juliany loe kali ga sekolah, udah buluk rempong
pula, loe kutu warnet
Resa:
@Janabadra19 loe kali yang kutu warnet,
gelandangan tukang cari wifi gratis
Aku agak kaget juga dengan semua pembicaraan yang
kuanggap aneh itu. Tetapi yang justru menarik adalah avatar dari lelaki berakun
Janabadra tersebut. Perasaaan pernah melihat wajah itu, sapa yaa?
"Kau kenal dia?" tanyaku seraya
memberikan android itu pada Resa.
"Ya enggaklah, tidak perlu kenal lawan kita
kan?"
"Trus kalian saling memaki orang yang tidak
saling kenal?" tanyaku pula.
"Itu sudah biasa, Mia, kau terlalu polos
dalam bermedsos."
Aku tak menjawab pernyataan Resa, mungkin benar
aku terlalu polos di medsos, aku merasa nyaman begitu.
Aku sudah sering membaca orang ribut di medsos.
Mereka saling menuduh dan mencaci maki, bahkan saling fitnah. Aku merinding
bacanya, apalagi bila masalah pribadi juga sudah dikait-kaitkan.
Dengan mata kepala ku sendiri, teman sekantorku
pun ikut caci maki. Tetapi siapakan Janabadra itu, perasaan pernah tahu wajah
itu. Apakah itu wajah asli dari lelaki tersebut atau kah menggunakan foto
anonim. Bukan wajah itu bukan wajah artis yang biasanya digunakan untuk anonim.
Itu foto orang biasa.
3. Ketahuan
Mama reuni. Tempat reuninya tidak jauh, tetapi
tempat macet. Aku pun memesan ojek online untuk beliau. Minggu yang indah untuk
berdua dengan Tantri, dan acara reuni ini semoga bisa menghilangkan kejenuhan
Mama karena sehari-hari harus momong cucu.
Aku menunggu di teras ketika tukang ojek itu
muncul. Wajah yang berkarakter. Berahang kuat dan beralis tebal. Lelaki muda
kurus itu tersenyum. Memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Silakan naik, Bu," katanya sopan.
"Bukan saya yang akan pergi, tapi Mama,"
jawabku sambil menoleh ke dalam apakah Mama sudah siap.
"Mall baru yang sebelah mana?"
"Pintu utara aja Bang, yang ada resto ayam
penyet," jawabku.
Mama keluar dengan brokat merah jambu. Kerudungnya
merah marun, serasi dengan bunga-bunga yang ada di gaun itu.
"Pelan-pelan aja ya Bang," pesanku
setelah Mama naik.
"Siap, Bu," katanya santun.
Setelah Mama berangkat, aku membuka laptop di
kamar tamu. Tantri sedang bermain lego dengan anak tetangga, tak jauh dariku.
Masih terlalu pagi untuk menyiapkan makan siang. Lagian Mama tak ada, jadi aku
bisa makan apa saja yang ada, aku memang tak suka repot-repot memasak makanan
berat, kalau pengen, langsung saja ke warung.
Akun twitterku jarang kubuka. Bukan hanya twitter,
Facebook, Path, Instagram maupun Line semua jarang aku buka. Yang penting punya
saja. Aku nyaris tak punya waktu untuk itu semua dan aku bukan tipe orang yang
suka mengumbar curhatan di media sosial.
Resa war lagi, selepas subuh tadi.
Musuhnya masih orang yang sama Janabadra. Sekarang
mereka mulai saling ancam. Dan kata-katanya masih seperti yang dulu saling tak
mau kalah dan buntutnya caci maki.
Janabadra:
@r_juliany dasar jomblo enggak laku, otaknya di
dengkul.
Resa:
@Janabadra19 loe kali yang enggak laku, mulut
comberan.
Masya Allah Resa.
Namun yang paling menarik adalah wajah musuh Resa.
Aku zoom wajah itu. Rambut ikal, wajah persegi dengan ragang kuat. Alis matanya
tebal dan membentuk karakter seorang pria.
"Bukankah itu tukang ojek yang tadi
mengantarkan Mama?" begitu pikirku.
Tidak salah lagi, akunnya @Janabadra19, tetapi
nama aslinya LH, Lanang Hanafi. Gotcha!
4. Kasar
Beberapa kali aku naik ojek dengan driver tukang
ngamuk di time line itu. Di dunia nyata dia baik, ramah dan santun, menghargai
keberadaanku sebagai wanita.
Beberapa kali Resa mengajak aku war, aku tidak
mau, alasanku tidak seberani itu. Aku takut akan banyak musuh yang mengintaiku.
Apalagi aku tidak masuk organisasi manapun termasuk partai seperti Resa,
setidaknya bila terjadi apa-apa ada yang membelanya.
Janabadra adalah nama anonim Lanang Hanafi. Aku
tak memeberitahu Resa kalau musuhnya di medsos itu langganan ojek onlineku.
Pasti dia akan kaget kalau melihat Jana yang sebenarnya. Bertubuh kecil dan
sepertinya miskin, tidak seperti kata-katanya di medsos yang membubung setinggi
langit.
Setiap melihat kekasarannya di medsos, semakin
membuat penasaran. Entah berapa kali dia mengantarkan aku kerja, dengan gaya
yang sama, peduli namun dingin. Lelaki kurus ini juga jarang tersenyum. Dari
seluruh penampilannya, yang paling menonjol adalah rahangnya yang kuat dan
alisnya yang galak.
Siapakan dia sebenarnya, dimana rumahnya? Yang
jelas pasti dekat-dekat lingkunganku. Tapi bagaimana menemukannya? Tidak etis
seorang penumpang ojek online menanyakan alamat drivernya, apakah pantas?
Apalagi statusku seorang janda, dan dia pemuda
tanggung yang galak sebagai oposisi pemerintah yang sah. Oh Tuhan, kenapa aku
menjadi penasaran dengan dirinya.
Kalau dilihat dari setiap caci makinya, dia sudah
tak punya belas kasihan pada orang lain. Apalagi bila sudah ribut dengan Resa.
Janabadra: in reply to:
@r_juliany hai perawan tua, ngaca dong, membela
pemerintah kayak lonte saja loe tahu kan apa itu lonte?
Busyet!
Dia tega bicara begitu pada wanita. Artinya dia
tidak menghargai wanita. Atau semua itu hanya pelarian dari hidupnya yang
berat? Tak ada yang tahu.
5. Drop Out
Lalang Hanafi, tinggal berdua dengan ayahnya yang
menderita sakit di rumah. Ibunya meninggalkan mereka berdua setelah gula
ayahnya tidak juga turun.
Kuliahnya drop out, tiap hari ngojek dengan sepeda
motor tua milik ayahnya yang tidak bekerja. Lalang patah hati, tetapi hidup
jalan terus.
Jangan bayangkan kehidupannya seperti apa. Tinggal
di kontrakan gang kecil di bantaran sungai, kumuh dan pengap. Semua semangatnya
di time line, bukanlah semangatnya dalam membela kebenaran, dia cuma dibayar
untuk melanjutkan hidup.
Buserlah.
Setidaknya sebulan dia mendapatkan 8 ratus ribu
buat bayar kontrakan. Untuk makan dan biaya berobat bapaknya, Lalang ngojek.
Oh Tuhan, kasihan bener anak muda yang patah hati
ini. Menjadi buser hanya sekedar menyambung hidup dengan Bapaknya di kontrakan.
"Gimana kabar Bapak?"
"Masih belum ada perkembangan, Mia."
"Sabar yaa, sepertinya semangat hidupnya
hilang," kataku.
"Iyaa, dia terlalu menyayangi ibu, dan Bapak
adalah pencemburu," jawab Lalang.
"Ohya?"
"Iyaa."
"Sepertinya kepergian ibu yang membuatnya
terpukul," aku berpendapat.
"Bapak sangat tertutup, pendiam, aku takut
menanyakan soal itu."
"Oh."
"Carikan aku pekerjaan yang layak, Mia,"
katanya kemudian.
"Kalau ada info pasti aku kabari Lang,"
makasih.
"I love you."
"I love you too."
Singkat kata aku jadian dengan ojek online itu,
entah bagaimana mulanya aku enggak ingat. Dia memaksaku jadian setelah nanya
statusku. Dan dia adalah kekasih yang manis.
6. Cinta
"Berhentilah ribut sama temenku!"
"Ribut? Aku enggak pernah ribut sama
siapa-siapa, kenapa kau berkata demikian Mia?"
"Kau pikir aku tidak tahu?"
"Ini soal apa, Mia?"
"Soal akun anonimmu, Lang."
Aku mengeluarkan android dari tasku. Lalu membuka
galeri dan mengklik folder screenshoot. Aku mencari-cari akun anonim itu.
"Ini siapa?"
Lalang kaget.
"Bukankah itu fotomu?"
"Kamu ini membahas apa?"
"Akui saja dulu, kau war dengan Resa dengan
akun itu!"
"Resa?"
"Ini, inget orang ini?" Aku menunjukkan
foto profil twitter pada Lalang.
"Ini apa-apaan?"
"Dia sahabatku sekantor denganku, tapi dia
juga orang partai."
Lelaki beralis tebal itu menunduk. Matanya luruh
ke lantai coffee shop yang nyaman itu.
"Buat apa kita ngopi, kalau kata-katamu masih
sekasar itu!"
"Mia."
"Masih ingin mengelak?"
"Tidak Mia, aku tidak mengelak, itu memang
aku," katanya.
"Huh," aku mengeluh.
"Aku kasar sekali ya."
Lalang dan Janabadra seperti dua pribadi yang
berbeda. Yang satu santun, berhati lembut dan baik. Kekasih yang perhatian dan
penuh humor. Yang satunya kasar penuh makian dan menyebalkan.
Sudah hampir setahun aku pacaran dengan tukang
ojek online itu. Aku tidak melihat dia sebagai orang biasa, dia hanya pemuda
putus sekolah dengan banyak beban, karena harus menghidupi dan mengurus bapaknya
yang sakit.
Aku menyemangatinya untuk menyelesaikan kuliahnya,
dan tentu saja dia masih bersemangat dengan hal itu. Aku memintanya untuk
meninggalkan pekerjaannya sebagai buser, karena pekerjaan itu berefek perilaku.
Orang baik bisa menjadi jahat karena menjadi
buser. Ada target-target yang harus dicapainya. Ada orang-orang yang harus
diserangnya, meskipun secara pribadi tidak berurusan dengannya. Itulah yang aku
tidak suka dengan pekerjaannya, meskipun sekarang dia sudah menjadi koordibator
dan pegang akun utama.
"Sudahlah sayang, ini hanya pekerjaan, kau ga
usah ikut campur, kau fokus saja pada pekerjaanmu dan Tantri," begitu
nasehatnya.
"Aku enggak boleh menasehati, lalu apa
fungsiku sebagai kekasih?"
"Engkau segalanya buatku, perempuan pintar
yang rendah hati, entahlah apa jadinya aku tanpamu," jawabnya melenceng
dari tanyaku.
"Baik," begitu kataku menghindari
perseteruan.
"Mulai sekarang, block akunku ya, gosah
stalking lagi."
"Iyaa."
Dia merengkuhku dalam dekapan. Seperti seseorang
yang asing, namun kucintai, semacam hal yang tidak semestinya, namun begitulah
cinta. Dia memintaku menjauh dari sisi hidupnya yang lain.
7. Rekam Jejak
Resa duduk dengan wajah gembira. Kali ini dia yang
akan membayar makan siangku di kantin kantor.
"Kau terlihat bahagia, Sa."
"Iyaa, itulah kenapa aku pengen nraktir kamu,
Mia."
"Kuharap berita gembira, pasti soal
partai."
"Bisa iyaa, bisa bukan."
"Trus?"
Pembicaraan terputus, seorang pelayan datang
membawakan soto ayam pesanan. Aku meminggirkan androidku untuk memberikan
tempat mangkuk berasap itu. Begitu pun Resa.
"Ayo makanlah."
Aku mulai menyendok kuah kuning beraroma kunyit
itu. Soto ayam adalah makanan standar bagi karyawan di perusahaan itu karena
murah dan mengenyangkan. Kadang tak ada pilihan lain, dan demi menghemat
dompet, soto adalah pilihan, karena seporsinya masih dibawah dua puluh ribu.
"Tadi sampai mana," tanyaku pada Resa.
"Entah."
"Oh, aku ingat, kenapa kau bahagia."
"Mia, aku selalu bahagia."
"Hu'um, terus?"
"Terutama karena ga ada yang bisa mengganguku
lagi," katanya.
"Maksudmu?"
"Ini soal Janabadra."
Aku menghentikan suapanku demi mendengar nama itu.
Lalu aku memandangi Resa dengan penuh tanya. Resa tersenyum dan membuka
androidnya lalu ditunjukinya aku sebuah screenshoot.
"Akun Janabadra, ditangkap polisi semalam,
penghinaan presiden. Adminnya, namanya Lalang Hanafi."
Oh Tuhan.
Aku meletakkan sendokku di mangkuk. Nafsu makanku
langsung hilang. Aku melihat layar android Resa baik-baik. Dan tidak salah
lagi, itu memang Lalang.
"Kenapa emang?"
"Bukankah sekarang dia lebih santun?"
"Sekarang-sekarang, dulu-dulu, semua ada
rekam jejaknya."Lemaslah seluruh tubuhku.
8. Kangen
Sudah seminggu, nope Lalang tak bisa dihubungi. Di
medsos bahkan di televisi fotonya tersebar viral.
"Tukang ojek penghina presiden, dikandangin
polisi."
Aku tak bisa menahan air mata bila membaca berita
tentangnya. Feelingku selama ini menjadi kenyataan. Kata berita, Lalang bisa
dipenjara kurang lebih 5 tahun. Oh Tuhan, bagaimana dengan kuliahnya yang baru
dimulainya satu semester ini. Siapa yang akan mengurus Bapaknya.
Siang itu, aku cuti kerja untuk menengok Bapaknya
Lalang. Namun kontrakan sudah kosong. Seorang tetangga kebetulan tahu kalau aku
kekasih Lalang, dia bilang bapak Lalang dibawa keluarganya ke kampung. Aku pun
menanyakan perihal Lalang.
"Malam-malam dijemput polisi, mbak."
"Dia tidak melawan?"
"Tidak."
Kususuri gang kumuh itu dengan hati yang hancur.
Tidak tahu sama sekali apa yang harus kulakukan untuknya. Air mata luruh
diantara debu dan sampah yang beterbangan di kakiku.
Tuhan, Lalang orang baik, hanya itu yang kutahu.
(Tamat)
14 September 2017
Komentar
Posting Komentar