Clara
Cerpen Anggie D. Widowati
Sekalipun rambutnya yang ikal mayang,
dipotong modis ala gadis metropolitan. dan ada segaris rambut berwarna merah
melintang di dahinya, keriput di bawah matanya, tak bisa membohongi usia
perempuan itu. Di atas empat puluh. Perempuan Jakarta memang seperti itu, biasa
mewarnai rambutnya dengan cat warna-warni, dan gaya rambutnya gila-gilaan.
Sebuah penampilan yang mati-matian.
Tetapi mata indah yang gemerlap
dengan make up tidak bisa bohong. Bedak tebal yang menyelimuti hampir seluruh
permukaan wajahnya, tidak mampu menutupi apapun. Mata yang indah itu, tidak
menampakkan kebahagiaan disana. Ketika mata itu menatapku, dia menampakkan
keterkejutan. Dahinya berkerut untuk mengingat-ingat Kemudian dia berpaling
lagi, ragu-ragu.
Ketika kebosanan mulai menyerang, aku
melangkah ke toilet, keluarkan bedak Sariayu dari dalam tas kecilku. Perempuan
yang aku temui tadi juga ada di sana, melirikku dari kaca besar di hadapan
kami. Kebetulan toilet itu sepi. Hanya kami berdua. Dia mengeluarkan sebotol
parfum Este Lauder, dan menyemprotkan dengan lembut dibelakang cuping
telinganya. Lalu tangannya meraih bedak Shishedo yang harganya lima puluh kali
lebih mahal dari bedakku.dari tas beludru merahnya. Dia mulai mengusap
wajahnya.
Aku masih terus memperhatikan
perempuan itu. Tidak salah lagi, dia pasti Clara. Aku rapikan lagi wajahku. Ada
rasa penasaran yang menyerang,lalu akupun mencoba membuka pembicaraan. Meskipun
aku sejujurnya minder dengan barang-barang yang dimilikinya.
“Parfumnya, harum,” kataku.
“Terima kasih,” jawabnya pendek,
kemudian berlalu.
Kalau suamiku bukan teman pemilik
supermarket terbesar di Jakarta ini, tak mungkin aku hadir dalam acara ulang
tahun selebritis di hotel bintang lima semacam ini. Sebagai seorang dosen, aku
hidup di kalangan terbatas. Hanya suamiku yang bekerja di sebuah lembaga
survey, memiliki relasi yang lumayan lebih banyak.
Awalnya aku minder, tetapi rasa ingin
tahu, membuatku tergerak untuk hadir dalam acara ini. Sekedar untuk mengetahui
kehidupan para kalangan jet set. Pesta-pesta di kalangan atas, dansa-dansi,
baju-baju bagus, alkhohol dan obat-obatan. Awalnya aku agak kaku, apalagi
ketika suamiku mengajakku berkeliling kepada kenalan-kenalannya dan
memperkenalkan aku.
Aku hanya bisa menampilkan baju pesta
murahan yang aku beli di sebuah toko kecil, di Pasar Kebayoran Lama. Dipadu
dengan tas kulit imitasi bertuliskan :Elle. Tetapi kata suamiku, meskipun
penampilanku sederhana, aku tetap saja terlihat cantik. Karena aku pintar dan
terlihat tulus.
Aku masih penasaran dengan perempuan
yang kuanggap Clara itu. Di kejauhan, di tengah keremangan pesta, aku
memandanginya. Sebatang rokok terelip di ujung jari tengah dan telunjuknya. Dua
orang selebritis tampak mengobrol dengan perempuan itu. Tangan kirinya
menggenggam segelas kecil vodka. Mereka terlihat asyik mengobrol sambil
tertawa-tawa sampai badannya bergoyang-goyang. Aku terus memandanginya,
tampaknya dia merasa dipandangi dan menoleh kepadaku. Aku tergagap dan kemudian
segera tersenyum.
Kulihat dia lalu permisi kepada dua
temannya dan berjalan ke arahku yang sedang sendirian menikmati segelas limun.
Langkah indahnya begitu tenang dan membuatku gemetar. Salahku, pasti dia marah
karena aku terlalu memperhatikannya.
“Ada yang salah dengan diriku?”
katanya sopan.
“Tidak, hanya aku merasa pernah bertemu,”
ujarku.
“Ya, beberapa menit yang lalu di
toilet,” ujarnya sambil menghisap rokoknya.
“Kenapa memperhatikanku?” tanyanya
lagi.
“Kenapa aku memperhatikan anda?
Karena anda cantik,” jawabku sekenanya.
“Terima kasih.”
“Ada alas an lain,” kataku kemudian.
“Apa itu?” tanyanya.
“Tapi anda jangan marah, mungkin saya
yang salah,” jawabku lagi.
“Apa itu, saya tak akan marah, saya
berjanji,” ujarnya.
“Anda mirip teman saya semasa SMA,
namanya Clara.”
“Kebetulan, saya juga Clara.”
“Saya sekolah di SMA 10 Yogyakarta
kelas IPA 1,” ujarku bersemangat.
“Oh, saya juga sekolah di SMA itu,
sayangkah benarkah dulu kita teman sekelas, kita bertemu di sini, dalam
keangkuhanku, terus terang saja aku lupa namamu…”
Perempuan itu menuju asbak dan
mematikan rokoknya. Kemudian memelukku dengan gaya selebritisnya. Akupun
memeluknya, karena perempuan ini mengingatkanku pada masa lalu yang sekian lama
sudah lewat dari hidupku.
“Namamu siapa sayang,” tanyanya.
“Linda.”
“Linda? Oh I know…I know…”
telunjuknya ditempelkan di dahinya.
“Kau si bintang kelas, guru-guru
menyebutmu si wajah innocent, I know,
kau tambah cantik sayang,” katanya memandangi seluruh tubuhku.
“Terima kasih Clara, saya hanya
seorang dosen,” jawabku kemudian.
“Yah..kau si pintar itu,” ujarnya
lagi sambil memandangi tubuhku terus.
“Saya datang bersama suami, dia
peneliti, itu yang berdiri di ujung ruangan,” aku menunjuk ke arah suamiku dan
membawa Clara padanya. Setelah itu Clara memperkenalkan aku pada para selebriti
dengan gayanya yang heboh. Membuat aku malu.
***
Tidak ada perempuan lain di sekolahku
yang bisa menjadi pemikat puluhan pria sekaligus, selain, Clara. Dia tidak
butuh kepintaran untuk menjadi murid yang popular. Dia sangat cantik, tubuhnya
tinggi semampai, gayanya bak artis. Dengan hanya mengerdipkan mata, dia mampu
merebut pacar siapapun di sekolah. Clara selalu dekat dengan lelaki berada,
anak-anak pejabat, anak-anak popular, dan dia memang memiliki selera soal
laki-laki.
Clara berangkat dari keluarga
sederhana seperti juga aku. Tetapi Clara memiliki kehidupan dan selera hidup
seperti anak orang kaya. Dan dia bisa memerankan itu. Sampai-sampai dia tidak
mengakui orang tuanya sendiri demi harga dirinya.
Perempuan itu memang tak mungkin
menandingi aku dalam soal nilai. Tetapi aku kewalahan ketika pacar pertamaku
Santosa mulai memuja-muja sinar matanya. Dan perempuan itu tahu kelebihan
dirinya. Merebut pacar siapapun adalah keahliannya. Dia selalu sadar bahwa
keberuntungan selalu di pihaknya.
***
Setelah ijin pada suamiku, Clara
menyeretku keluar dari ball room hotel ke sebuah café di hotel itu. “Mereka dan suamimu, baru akan selesai
mengobrol setelah tengah malam, sebaiknya kita mencari tempat yang bagus untuk
santai, sambil mengingat-ingat masa lalu,” katanya.
“Aku tahu tempat yang bagus,”
tambahnya.
Café itu adalah tempat termewah yang
pernah aku kunjungi. Sebuah lilin berwarna merah, berdiri di dalam gelas
kristal, menerangi meja kami. Seorang penyanyi negro menyanyikan lagu my funny
valentine. Clara membuka tasnya dan mengeluarkan rokok.
“Sayang, sungguh kau semakin cantik,
bagaimana kehidupanmu?” tanyanya.
“Baik. Aku menjadi dosen dan aku
menikmatinya, sedangkan kau bagaimana ?” tanyaku hati-hati.
“Ya seperti ini, pesta-pesta yang
memuakkan, laki-laki berduit dan alkhohol, tetapi jangan cerita pada siapapun
ya,” ujarnya.
“Kau tentu selalu mendapatkan apa
yang kau mau,” kataku.
“Ahhhh….. kau ini bisa aja. Apa kau
punya anak?” tanyanya.
“Dua orang, sudah remaja,” jawabku.
“Pasti mereka menyenangkan,” katanya.
“Ya..mereka pintar-pintar,” kataku.
“Siapa suamimu, Clara?” tanyaku lagi.
“Aku tidak punya suami.”
“Lalu?”
“Aku hidup sendirian, rumahku ada
lima, di berbagai tempat di Jakarta. Para laki-laki itu yang memberiku
semuanya.Tetapi mereka tidak pernah memilikiku. Dan aku tak pernah memiliki
mereka.”
“Pastilah salah satunya ada yang
sepadan denganmu, pria kaya yang ganteng di pesta tadi itu sepertinya
tergila-gila kepadamu,” ujarku.
“Dia sudah beristri. Aku tak pernah
yakin apa yang kamu katakan itu, mereka datang padaku, agar aku mendengarkan
keluhan-keluhan mereka, soal bisnis, soal politik, bahkan soal-soal istri
mereka. Lalu setelah puas mereka pergi dengan meninggalkan seguci emas, dan
permata, begitu terus dan begitu terus…”
Musik mengalir perlahan. Ruangan itu begitu dingin dan membuatku
mengigil. Kupandangi wajah cantik itu, lalu aku genggam tangannya yang dingin.
Lelehan air mata berlinangan di pipinya. Merusak riasannya.Aku hanya
memandanginya tanpa berbuat apa-apa.Genggaman tangannya makin menguat.
“Sudah terlalu larut, suamiku nanti
mencariku, Clara,” kataku kemudian.
“Sorry, Lin, aku terhanyut,” ujarnya.
“Ambil tisu ini, bekas air mata itu,
bisa mengurangi keindahan senyummu,” kataku sambil menyodorkan kotak tisu.
“Linda, maukah kau menelponku?”
tanyanya.
“Tentu Clara, kau tahu, ini adalah malam
yang indah untukku, karena bisa bertemu kamu. Aku pasti akan menelpon, aku
janji.” ujarku.
Dia mengangguk, dia genggam tanganku
dengan erat. Lalu kami berdiri dan berjalan meninggalkan suasana remang nan
romantis itu. Lagu jazz masih mengalun lembut disana.
Jakarta 22 September 2000
Dimuat di Harian Warta Kota Jakarta
(sori Bed, tanggalnya lupa)
Komentar
Posting Komentar