Efek Psikologis Menghina Fisik
Oleh: Anggie D. Widowati
(Sudah) beberapa minggu lalu jagad maya dihebohkan oleh sebuah kata: pesek. Iyaa semua pejalan kaki di dunia maya pasti tahu perang verbal yang membuat lini masa sedikit menyebalkan.
Tetapi yang menjadi titik tekan dalam masalah ini adalah "ngatain pesek" itu. Bukan hanya si Ustad itu yg kemudian menjadi bulan-bulanan publik, kita pun pernah melakukan hal yang sama sadar atau tidak sadar. Lepas dari topik yang kemudian diakitkan dengan masalah politik-agama, kenapa sih kita enggak boleh menghina fisik seseorang?
Ketika masih sekolah, ada seorang teman (perempuan) yang selalu ngatain aku: 'jelek". Teman sekelas itu, setiap bertemu selalu bilang begitu. Aku bukan tipe orang yg suka ribut dengan teman. Maka aku diamin saja itu orang, kuanggap mungkin dia enggak suka sama aku.
Namun efeknya luar biasa. Kata-katanya itu, terbawa seumur hidupku bahwa aku itu: jelek. Bibir agak mancung, kulit sawo matang, rambut enggak rapi, dan muka (sebelum perwatan seperti sekarang) emang warnanya agak gelap.
Sampai suatu ketika musin reuni tiba. Aku bertemu kembali dengan temanku itu. Lebih dari 20 tahun aku tidak bertemu, dan menurut beberapa teman aku lebih terawat, tidak "koboi" kayak jama sekolah. Namun temenku itu masih dengan kalimat yang sama bilang aku jelek.
Aura negatifnya menghantuiku. Bayangkan sepanjang hidupku aku menganggap diriku jelek (biarpun beberapa teman menangkal dan membesarkan hatiku). Dan untuk mengamankan jiwaku aku memblock semua kontak dengannya. Karena dia masih suka menghina fisikku dan bertahan sampai bertahun-tahun.
Sekarang sih bagiku dah enggak penting.
Karena bagaimana pun secara fisik tidak ada yg kurang pada diriku, semua inderaku berfungsi baik, jemariku lengkap, berkeluarga dengan orang baik, dan memiliki anak-anak yang sehat. Punya sahabat-sahabat yang setia dan kecukupan sandang dan papan.Serta tentu saja kelebihan yg harus disyukuri seperti sempat sekolah tinggi dan punya pekerjaan bagus.
Layak disyukuri.
Pelajaran yang bisa diambil: menghina fisik orang itu, merusak hidupnya. Membuatnya minder dan tidak mensyukuri apa yg diberikan olehNya. Bahkan sepanjang hidupnya. Dan perilaku semacam ini, merusak suasana hati. Karena itu mari kita hindari. Semua yg diciptakan Allah itu sempurna, cuma hati yang kotor yang mencela kesempurnaan itu.
Dan, setelah bertahun terpisah dengan teman itu, entah ini ada hubungannya atau tidak, kenyataannya hidupku (yg selalu dia hina) lebih baik dari dia. Setidaknya dari sudut pandangku. Dan selalu aku yakinkan diriku sendiri, bahwa Allah menganugerahi aku seperti ini, harus disyukuri, masih banyak orang yg hidupnya kurang berkecukupan. Gosah pikirkan lagi apa kata orang.
29 Desember 2017
(Sudah) beberapa minggu lalu jagad maya dihebohkan oleh sebuah kata: pesek. Iyaa semua pejalan kaki di dunia maya pasti tahu perang verbal yang membuat lini masa sedikit menyebalkan.
Tetapi yang menjadi titik tekan dalam masalah ini adalah "ngatain pesek" itu. Bukan hanya si Ustad itu yg kemudian menjadi bulan-bulanan publik, kita pun pernah melakukan hal yang sama sadar atau tidak sadar. Lepas dari topik yang kemudian diakitkan dengan masalah politik-agama, kenapa sih kita enggak boleh menghina fisik seseorang?
Ketika masih sekolah, ada seorang teman (perempuan) yang selalu ngatain aku: 'jelek". Teman sekelas itu, setiap bertemu selalu bilang begitu. Aku bukan tipe orang yg suka ribut dengan teman. Maka aku diamin saja itu orang, kuanggap mungkin dia enggak suka sama aku.
Namun efeknya luar biasa. Kata-katanya itu, terbawa seumur hidupku bahwa aku itu: jelek. Bibir agak mancung, kulit sawo matang, rambut enggak rapi, dan muka (sebelum perwatan seperti sekarang) emang warnanya agak gelap.
Sampai suatu ketika musin reuni tiba. Aku bertemu kembali dengan temanku itu. Lebih dari 20 tahun aku tidak bertemu, dan menurut beberapa teman aku lebih terawat, tidak "koboi" kayak jama sekolah. Namun temenku itu masih dengan kalimat yang sama bilang aku jelek.
Aura negatifnya menghantuiku. Bayangkan sepanjang hidupku aku menganggap diriku jelek (biarpun beberapa teman menangkal dan membesarkan hatiku). Dan untuk mengamankan jiwaku aku memblock semua kontak dengannya. Karena dia masih suka menghina fisikku dan bertahan sampai bertahun-tahun.
Sekarang sih bagiku dah enggak penting.
Karena bagaimana pun secara fisik tidak ada yg kurang pada diriku, semua inderaku berfungsi baik, jemariku lengkap, berkeluarga dengan orang baik, dan memiliki anak-anak yang sehat. Punya sahabat-sahabat yang setia dan kecukupan sandang dan papan.Serta tentu saja kelebihan yg harus disyukuri seperti sempat sekolah tinggi dan punya pekerjaan bagus.
Layak disyukuri.
Pelajaran yang bisa diambil: menghina fisik orang itu, merusak hidupnya. Membuatnya minder dan tidak mensyukuri apa yg diberikan olehNya. Bahkan sepanjang hidupnya. Dan perilaku semacam ini, merusak suasana hati. Karena itu mari kita hindari. Semua yg diciptakan Allah itu sempurna, cuma hati yang kotor yang mencela kesempurnaan itu.
Dan, setelah bertahun terpisah dengan teman itu, entah ini ada hubungannya atau tidak, kenyataannya hidupku (yg selalu dia hina) lebih baik dari dia. Setidaknya dari sudut pandangku. Dan selalu aku yakinkan diriku sendiri, bahwa Allah menganugerahi aku seperti ini, harus disyukuri, masih banyak orang yg hidupnya kurang berkecukupan. Gosah pikirkan lagi apa kata orang.
29 Desember 2017
Komentar
Posting Komentar