Gila Atau Gangguan Jiwa
Oleh: Anggie D. Widowati
Wah lagi rame soal penggunaan istilah gila dan
sakit jiwa.
Gara-garanya ada seorang dokter ahli jiwa
mengetuit soal lelucon-lelucon yang berkaitan dengan orang gila. Dr. Gia
menggunakan istilah "gila" dalam lawakan itu. Dari situlah muncul
kontroversi. Sebagai psikiater, dianggap mempermainkan pasien dan sekaligus
mengolok-oloknya.
Lalu bagaimana sih seharusnya menggunakan dua
istilah itu? Sebetulnya antara gila dan gangguan jiwa, engga ada bedanya. Cuma
kata gangguan jiwa itu sebenarnya lebih banyak digunakan intern untuk civitas
akademika yg ada di lingkungan Psikolog dan Psikiater.
Sebelumnya pahami dulu beda antara psikolog dan
psikiater. Psikolog lulusan Fakultas Psikologi (kek gue). Psikiater, Lulusan
Fak Kedokteran, dan melanjutkan studi ke spesialis kejiwaan.
Psikiater, menangani mereka yg mengalami gangguan
psikologis yg parah, dan di sebut pasien. Psikolog, lebih pada mereka yg
mengalami gangguan jiwa ringan (neorosa) dan disebut klien.
Psikiater melakukan tindakan klinis seperti
menyuntik pasien, memberikan obat penenang dan meresepkan obat. Psikolog hanya
melakukan konsultasi dan tes psikologi.
Istilah gangguan jiwa, adalah istilah sehari-hari
digunakan dua profesi ini bila menemukan orang dengan berbagai pola tingkah
laku yang tidak umum. Seperti delusi, depresi, kelaian seks, dan semacamnya.
Dua profesi ini tidak atau jarang menggunakan
kata gila, karena makna gila itu sendiri saat ini sudah meluas ke hal lain. Dan
tidak perlu menyalahkan orang diluar profesi diatas yang menggunakan kata gila,
karena kata itu lebih umum simpel dan sederhana.
Kata gila sendiri memiliki banyak sinonim
seperti, edan, tidak waras, miring, sinting, gendeng, gemblung, lepis, kenthir,
dan sebagainya. Dan bukan hanya ditujukan pada orang yang secara medis kena
gangguan mental.
Misalnya ada orang pada tengah malam naik motor
ngebut, berisik, lewat jalan kampung pula.
"Sinting." keluh orang kampung itu.
"Edan tenan."
Padahal orang tersebut kan tidak sedang dalam
perawatan dokter spesialis kejiwaan.
Jadi sudah jelas bedanya, klw orang awam bilang
dasar gembung (gemblung ini untuk orang Jawa Tengah sebutan buat orang gila),
itu sah-sah saja. Jangan takut dianggap tidak punya empati.
"Gila loe, makan banyak bener," yang beginian juga engga masalah.
"SN itu gila kekuasaan dan harta
negara," ujar seorang aktifis anti korupsi.
"Suamimu tergila-gila perempuan lain?"
tanya Vanya pada sahabatnya.
Kata-kata diatas sudah sangat sering dipakai
dalam artian sebagai gambaran sesuatu yang sudah melampoi batas.
Gangguang jiwa hanyalah salah satu istilah di
kalangan psikolog dan psikiater. Masih ada istilah-istilah yang lebih spesifik
untuk menyebut gangguan mental tertentu. Seperti: psikosa, psikosomatis,
delusi, zichofrenia, depresi, stress.
Dulu aku sering protes kalau ada yg ngatain
orang:
"Dasar kamu setres!"
"Goblog lu, idiot."
"Diajak ngomong diem aja kayak orang autis
lo."
Aku engga suka guyonan macam ini. Karena sifatnya
menghina dan merendahkan mereka (si penderita).
Well, kalau di jalan ada orang gila, yaudah sebut
aja orang gila. Ga perlu merasa tdk empati. Itu sudah sangat awam.
Tetapi kalau anda seorang psikiater atau
psikolog, beda lagi. Empati pada pasien (klien) itu harus. Berhati-hatilah
dalam menggunakan istilah gangguan kejiwaan, daripada menuai bully. Setidaknya
untuk menunjukkan kredibilitas profesi.
Tidak ada satu pun yg ingin (sodara, anak, ortu,
sahabat, tetangganya) menderita gangguang jiwa. Seperti tak ada seorang pun
yang ingin sakit. Jadi menderita sakit jiwa (gangguan jiwa) pun bukan untuk
bahan olokan.
Jakarta, 13 Januari 2018
Komentar
Posting Komentar