Guru
Cerpen by: Anggie D. Widowati
Angin dengan liar menerobos jendela kereta kelas ekonomi yang melaju menembus malam. Suara mesin menderu-deru memekakkan telinga. Stasiun Balapan Solo mulai menjauh. Kereta dengan dua belas gerbong itu terus menyusuri rel menuju Jakarta.
Angin dengan liar menerobos jendela kereta kelas ekonomi yang melaju menembus malam. Suara mesin menderu-deru memekakkan telinga. Stasiun Balapan Solo mulai menjauh. Kereta dengan dua belas gerbong itu terus menyusuri rel menuju Jakarta.
Wajah Pardianto murung. Dua rekannya tampak
bercerita dengan akrabnya. Pardianto memang kurang siap dengan perjalanan ini.
Apalagi ini masih belum seratus hari istrinya meninggal. Diraba rambutnya yang
mulai putih. Tangannya mulai berkerut. Hatinya galau.
Wajah kelima anaknya muncul bergantian. Ahmad
anak sulung yang bisnis ayam potongnya kembang kempis karena krisis. Atau
Ibrahim anak keduanya yang pengangguran, karena pabrik tempe tempatnya bekerja
tutup. Menyusul, tiga anak perempuannya Mariam, Khadijah dan Aisyah juga
mengayuh hidup penuh kesulitan.
Mereka memang tidak sempat menempuh pendidikan
sarjana. Seorang yang hanya menempuh sekolah sampai SMA, tidak bisa memperoleh
hidup yang layak. Karena ijasah SMA tak laku di pasar kerja, kecuali untuk
kerja di pabrik sebagai buruh.
Kadang-kadang ada perasaan menyesal tak bisa
menyekolahkan anak sampai sarjana. Bayangkan lima anak. Biaya untuk menghidupi
mereka sudah besar. Tidak ada kelebihan untuk menyekolahkan mereka lebih
tinggi. Meskipun sudah 25 tahun menjadi guru, kehidupan tidak berubah.
Sudah untung Nasiah istrinya mau membuka warung
kecil-kecilan di depan rumahnya yang sumpek itu. Itupun selalu ditipu oleh para
tetangga dengan cara berhutang, lalu tidak membayar. Modal pun habis. Ketika
anak-anak mulai dewasa, Pardi melihat mereka ikhlas. Hanya satu niat ketika
mereka satu persatu lahir, tidak akan membesarkan mereka dengan nafkah yang
tidak halal.
"Lho Pak Pardi, sampeyam ini kok melamun
terus," kata Agus sambil mencoleh pundak Pardi. Pardi menoleh ke arah
rekannya sambil tersenyum.
"Ora kok, aku hanya teringat Nasiah,"
katanya.
"Sudahlah, istrimu sudah tenang di sana, ini
kan kesempatan kamu melihat Jakarta, katanya kamu pengen melihat Jakarta,"
kata Hamid.
"Nasib kita ini kan selalu buntung, makanya
kita harus demo," tambah Agus.
"Nanti kita dikejar-kejar polisi, digebugin
gimana?"
"Ora Di, ini nanti pendemonya banyak, guru
seluruh Indonesia datang, kita nanti juga diberi uang transport pulang, kan
lumayan, itung-itung piknik," kata Agus.
"Nggak tahulah," kata Pardi.
Lalu dia memejamkan matanya. Mencoba untuk tidur.
Kereta terus melaju, berhenti distasiun-stasiun kecil. Para pedagang dan tukang
ngamen keluar masuk kereta itu. Pardi terus memejamkan mata, tapi tidak bisa
tidur, pikirannya tak menentu.
Sesampai di Jakarta rombongan guru dijemput
dengan bus kota. Mereka dibawa ke sebuah tempat mirip tempat pelatihan. Pardi
tidak tahu persis dimana dia berada. Tetapi di tempat itu sudah ada ratusan,
bahkan mungkin ribuan guru dari berbagai daerah. Pardi berjalan tanpa semangat.
Kalau bukan karena kepala sekolah yang menyuuhnya
ke Jakarta, dia tidak memilih untuk datang. Jakarta sebuah kota yang jauh. Dua
temannya Hamid dan Agus adalah dari sekolah yang berbeda. Itung-itung buat pak
Pardi piknik, begitu kata kepala sekolah kepadanya.
Sebelumnya, Pardi memang ingin sekali ke Jakarta,
Bahkan pernah berangan-angan mengajak lima anaknya dan juga istrinya,
berkeliling ke Taman Mini, naik ke puncak Monas atau bersantai di Ancol yang
terkenal itu.
Kini kesempatan ke Jakarta sudah ada, tetapi
tidak dengan Nasiah dan anak-anaknya. Dia sendirian, tujuannpun dia tidak
mengerti, berdemontrasi. Kalau mau memperjuangkan nasib, kenapa tidak dari
dulu. Mengapa baru sekarang, 25 tahun sudah dijalani dengan penuh kemiskinan. Pengabdian
itu hanya dibayar dengan gelar, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Apa artinya itu, kalau dia tidak sempat melihat
anak-anaknya mengenyam pendidikan lebih tinggi. Kerja bertahun-tahun itu
ternyata tidak merubah apa-apa. Awet miskin.
"Bapak-bapak yang dari Jawa Tengan silakan
masuk ruang 21," seseorang dengan megapone mengatur massa.
Bersama Agus dan Hamid, Pardi memasuki ruang 21.
Ruangan itu ruangan termewah yang pernah dilihatnya. Di benaknya teringat ruang
SD Tugu Lilin yang hanya dibalut dengan kapur. Lantainya tegel yang sudah pecah
sana-sini. Kalau hujan sering bocor. Pardi masih terbengong.
Seseorang masuk dengan mengenakan jas yang
telihat mewah dan mahal. Pria itu berperut gendut dan mengenakan kacamata.
Dasinya biru tua dan tangannya menenteng sebuah telepon seluler. Di dua sisinya
berdiri dua orang ajudan denngan tampang agak seram. Meskipun berbadan besar,
sebetulnya pria itu masih muda.
Tahi lalat di ujung birinya itu sangat khas.
Ketika membuka kaca matanya, wajah itu semakin familiar. Pardi mencoba
mengingat-ingat, sepertinya dia mengenali wajah itu. Pardi duduk di bangku
paling belakang. Dia belum terhibur oleh ruangan mewah itu ataupun pria yang
berpenampilan perlente itu. Bagi Pardi itu adalah hal baru.
"Di, itu yang di depan namanya Pak Handoyo,
dia yang akan memberi kita uang saku untuk pulang," bisik Agus di telinga
Pardi.
"Handoyo?" Pardi berguman.
"Iya, dia yang membiayai semua perjalanan
ini," kata Agus menjelaskan.
Pardi kemudian diam. Dia masih berusaha
mengingat-ingat lelaki perlente itu. Handoyo. Perasaan dia kenal dengan lelaki
itu. Senyumnya sungguh akrab di benaknya.
"Bapak-bapak ibu-ibu, ada yang dari
Solo?" Hadoyo bertanya.
Beberapa guru serempak menjawab:
"Adaaa..."
"Saya ini waktu SD sekolahnya di Solo, SD
Tugu Lilin, jadi saya ini wong Solo, bapak-bapak ibu sekalian," kata
Handoyo.
Tidak salah lagi, pria itu salah satu muridnya di
Solo. Selama setengah jam pria itu memberikan instruksi kepada para guru. Bahwa
hari ini mereka akan ke gedung DPR untuk menuntut kenaikan gaji. Sudah
disediakan bus menuju ke sana. Bahkan pada saat itu untuk para guru dibagikan
baju batik untuk berdemo.
Pria itu berkeliling ke sudut ruangan, ketika
sampai di deretan bangku paling belakang, matanya bertemu dengan mata Pardi.
Meskipun rambutnya sudah memutih, Handoyo tidak melupakan wajah kebapakan bekas
gurunya. Awalnya dia sempat berfikir sebentar. Takut salah. Tetapi senyum khas
Pardi yang malu-malu mengingatkan pada guru itu. Langsung saja dia mengulurkan
tangannya ke arah Pardi untuk bersalaman. Lalu mencium punggung tangan Pardi.
"Bukankah anda, Pak Pardi, guru saya di SD
Tugu Lilin saat saya kelas 3 SD?" Handoyo berspekulasi.
"Ya, ya, ya betul, kamu Handoyo aku agak
ingat, sekarang kamu hebat sekali," kata Pardi. Kekakuan itu pun hilang.
Sementara panitia yang lain membagikan poster pada kelompok-kelopok yang sudah
dibuat, Pardi malah asyik mengobrol dengan Handoyo.
"Nginap dimana, Pak?" tanya Handoyo.
"Tidak tahu, terserah panitia saja,"
jawab Pardi.
"Mestinya tidur di rumah saya saja, saya
sudah punya istri dan dua anak," kata lelaki muda itu.
"Terima kasih, kayaknya kemarin sama
teman-teman dari Solo, setelah acara selesai, kami akan langsung balik ke
Solo," kata Pardi.
"Nginap dululah, barang sebentar,"
pinta Handoyo.
"Kita lihat saja nanti, NakHandoyo."
Suasana demonstrasi di gedung DPR sangat ramai.
Para guru dengan baju batik menggelar spanduk-spanduk. Wajah mereka
berseri-seri. Orasi-orasi terus digelar.
"Naikkan gaji guru!"
"Angkat nasib guru!"
"Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Tapi miskin
harta!"
Sementara ada yang berorasi, ada pula yang
berbelanja suvenir di gedung wakil rakyat itu. Maklum kebanyakan dari mereka
baru pertama kali berada di kantor wakil rakyat itu.
Sorenya mereka kembali diangkut ke tempat
berkumpul mereka. Wajah mereka muncul di televisi-televisi swasta. Berita demo
guru hari itu disiarkan besar-besaran. Beberapa koran sore menjadikan berita
head line. Rencana demotrasi yang cuma sehari itu pun berubah, akan dilanjutkan
selama 3 hari. Mereka dilarang langsung pulang ke daerah.
"Akan ditambah dua hari, dan honornya akan
ditambah," ujar Handoyo di megapon.
Para guru kemudian diangkut ke asrama. Tidur di
kamar-kamar dengan massal. Mereka saling berkenalan dan bercerita pengalaman
mereka saat berdemontrasi siang tadi. Juga barang-barang souvenir yang dibeli.
Sebelum bis terakhir yang membawa Pardi, alangkah
ingin tahunya Pardi mengenai Handoyo yang bekas muridnya itu. Mengapa dia
terlihat begitu kaya dan makmur. Bagaimana jalan hidupnya sampai bisa seperti
itu. Sebagai guru apa. Pardi pun memberanikan diri bertemu Handoyo yang duduk
di ruangan lain. Dari jendela Pardi melihat Handoyo duduk bersama orang yang
berpakaian mewah seperti dirinya. Dengan perlahan dia mendekati Handoyo.
"Nak Handoyo, saya mau pamit, saya tidak mau
demotrasi lagi, panas, saya kan sudah tua," kata Pardi.
"Oh jangan begitu, jalan-jalan dululah
sebentar di Jakarta, Pak," jawab Handoyo sambil menuntun gurunya duduk.
"Jalan-jalan kemana, lagi pula saya tidak
punya uang, hanya ada uang sedikit untuk naik kerata ke Solo nanti," kata
Pardi.
"Itu mudahlah diatur, biar ajudan saya yang
mengantar," kata Handoyo.
"Tak perlu repot-repot, ngomomg-ngomong Nak
Handoyo ngajar dimana?"
"Saya bukan guru, Pak."
"Kenapa ikut demontrasi guru?"
"Ya beginilah pekerjaan saya, Pak."
"Terus kau kerja dimana?"
"Di partai."
"Di partai itu kerjaannya kampanye."
"Iya betul."
"Kau begitu aku mengerti sekarang, guru tak
mungkin berpenampilan sepertimu."
"Masak."
"Iya, kamu memanfaatkan nasib kami."
"Kami akan memberi kalian ongkos
pulang."
"Jangan sampai."
"Pak Pardi sudahlah, terimalah ini,"
Handoyo mencari saku baju untuk memasukkan beberapa lembar uang. Perlahan Pardi
menepiskan.
"Biarkan malam ini juga aku pulang,"
kata Pardi sambil berdiri.
Lalu dia melangkah keluar dari ruangan itu menuju
jalan raya. Handoyo hanya memandanginya seakan tertegun tak percaya. Entah
karena malu, sedih, pakewuh atau apa. Pardi berpamitan pada Agus dan Hamid,
bahwa dia tidak akan ikut demo esok hari. Guru tua itu bertanya-tanya angkutan
umum yang menuju stasiun. Kemudian dia naik bus kota, dengan rasa lelah dan
sedih. Riuh rendah lalu lalu lintas tak dihiraukannya. Hatinya kecewa.
Jakarta, 24 April 2000
(Cerpen ini pernah dimuat di Harian Rakyat
Merdeka)
Komentar
Posting Komentar