Puasa Kok Malah Gemuk

Oleh: Anggie D. Widowati


Puasa Kok Malah Gemuk Ya

Seorang ibu, menulis dalam inbox saya, Mbak kalau puasa, mengapa saya bertambah gemuk ya, aturan, saya bisa menurunkan berat badan, bukannya malah menaikkan berat badan.
Yah… itu adalah kenyataan yang banyak dihadapi oleh kaum perempuan terutama mereka yang sudah berusia baya. Tanpa mengurangi niat puasa sebagai ibadah, mengatur pola makan saat puasa, menurut saya adalah penting. Saya sering menemui kenyataan bahwa bulan puasa, dimana Rasulullah mengajarkan cara hidup sederhana, justru menjadi hal yang sebaiknya.
Saya pernah melihat pola makan seseorang di bulan puasa justru menjadi berlebihan. Contohnya begini,  ketika sahur, menunya sungguh menurut ukuran saya pribadi sangat berlebihan, pertama segelas teh manis, roti isi daging, dan setelah itu makan nasi dengan lauk-pauknya, ditutup dengan gorengan.
Ketika buka puasa, pertama kali menyantap semangkuk kolak pisang dengan cemilan kue basah. Lalu melaksanakan sholat maghrib, setelah itu makan dengan berbagai lauk pauk (porsi nasi biasanya lebih banyak) dan tetap terus mencomot bakwan goreng atau tempe goring yang ada di meja makan, setelah makan malam selesai. Setelah itu, berangkat tarawih, habis tarawih, masih mengulangi semangkuk kolak, atau es buah atau apa saja yg sudah disiapkan di meja makan untuk persiapan setelah pulang tarawih bahkan kadang makan lagi. Setelah itu di depan televise sambil mengemil camilan, mencicipi kue-kue yang disiapkan untuk lebaran.
Tengah malam, ketika tukang nasi goreng lewat, dia memesan seporsi untuk melampiaskan dendamnya setelah seharian tidak makan apa-apa. Kalau dihitung jumlah kalori semua makanan ini, lebih banyak dari jumlah kalori yang masuk pada hari biasa (bukan bulan puasa).
Saya memiliki perut yang aneh, terutama kalau bulan puasa. Saya tidak bisa berbuka dengan jumlah yang banyak. Kalau berbuka terlalu banyak perut saya akan kembung dan sakit sekali semalaman. Dan biasanya setiap bulan puasa, berat badan saya turun 2-4 kilogram.
Ketika sahur, saya biasanya makan sepiring nasi plus lauk, dan secangkir teh hangat dengan gula diet. Saya mengurangi jumlah nasinya dan lauknya saya dobel. Misalnya nasi setengah lalu lauknya sebutir telur goreng dan sepotong ayam. Saya merasakan makan yang nikmat karena banyak lauk.
Ketika berbuka, saya minum air putih, atau teh dengan gula diet. Lalu sholat magrhib, dan malamnya memakan setangkup roti dengan selai strawberry atau madu. Saya jarang berbuka dengan nasi, biarpun sangat ingin sekali. Baru setelah itu saya makan sebutir pisang, sebuah apel, atau semangkuk papaya kupas dingin. Bahkan kadang langsung tidur jadi tidak makan apa-apa lagi. (Saya tidak tarawih karena punya anak balita dan masih sulit di control aktifitasnya ketika di masjid)
Tentulah tidak harus seekstrim ini, ketika berbuka, saya menghindari nasi, karena kalau berbuka nasi, pasti sulit untuk membatasi jumlahnya. Apalagi kalau lauknya makanan yang menjadi favorit seperti ayam goreng, semur daging atau ayam srundeng kesukaan saya.
Sesekali saya membikin kolak pisang. Saya ambil seperlunya buat anak-anak dan suami (suami lebih sering berbuka di luar), yang lainnya dikirim ke masjid. Bila jumlah makanan yang ada di rumah di kurangi, maka jumlah makanan yang masuk ke perut kita juga terbatasi.
Beberapa hal yang membuat kita makan banyak :
  1. Saat bulan puasa, jangan terlalu kemrungsung untuk berbelanja kue lebaran. Kue itu akan tertumpuk dirumah dan membuat kita tertarik dan terus mencicipi, hingga jumlah kalori yang masuk bertambah banyak.
  2. Hindarilah keramaian menjelang sore hari. Karena di sore hari banyak orang berjualan makanan berbuka yang membuat kita lapar mata.
  3. Kalaupun ingin ngabuburit, siapkan menu buka puasa di rumah, jadi tidak perlu berbelanja makanan apapun, hingga jumlah makanan berbuka tidak menjadi dobel.
  4. Perbanyak belanja buah-buahan, jus buah mungkin lebih sehat dari kolak pisang, saya tidak mengajari untuk mengubah tradisi, tetapi mengubah pola makan menjadi lebih sehat tentu tak ada salahnya.
  5. Para ahli kesehatan mengatakan bahwa setelah puasa sebaiknya mengkonsumsi minuman yang manis-manis. Saya tak menolak ide itu, tetapi kita akan rugi karena kita akan bertambah gemuk. Kalau tak bisa meninggalkan minuman manis, ganti dengan gula diet , syrup diet atau susu diet, emang sih harganya lebih mahal. Karena itu air putih (hangat lebih enak saat berbuka) jauh lebih bermanfaat bagi kesehatan.
  6. Untuk mengubah pikiran ke arah “makanan melulu” ketika sore hari/ berpuasa, hindarilah mall yang membuat kita tergiur terus oleh makanan dan restoran, dan pergilah ke masjid-masjid tua yang bersejarah, atau ke taman menikmati angin dan memandangi pesawahan. Atau sekedar membaca-baca buku di rumah.
Saya tidak mengajari anda untuk menjadi pelit atau pun menyiksa diri. Tubuh kita, kadang tidak membutuhkan makanan sebanyak yang kita konsumsi sehari-hari. Pola hidup, dengan  makan seperlunya (bukan seadanya) adalah tabungan untuk kesehatan di masa mendatang.
Kalau sudah biasa menguasai diri untuk menahan nafsu makan yang berlebihan, kita juga akan mudah menahan diri hidup secara berlebihan, perilaku yang sederhana, berpakaian sederhana, dan juga menjalani hidup sederhana seperti Rasulullah.  Sermoga tulisan ini bermanfaat.
Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga Allah mengangkat kita sebagai hamba yang dimuliakan….

Pondok Kacang 9 Agustus 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengulik Stensilan Mesum Enny Arrow Era 1980-1990-an

Di Toilet

15 Ciri-ciri Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat