Waspadai Pedofil Di Sekitar Kita
Oleh: Anggie D. Widowati
Beberapa hari belakangan ini kita dibuat
merinding dengan tertangkapnya seorang monster pedofil sebut saja Babeh oleh
kepolisian Tangerang. Tidak tanggung-tanggung laki-laki berusia setengah abad
ini melakukan tindakan tidak senonoh pada 41 (laporan terakhir hari ini)
anak-anak laki-laki yg usianya 7-15 tahun
Anak-anak jelang remaja ini diiming-imingi
kesaktian, kalau mereka ingin sakti, salah satunya harus menuruti kemauan dukun
biadab itu. Tentu saja janji itu omong kosong belaka, Babeh bukan dukun dan tidak
punya kesaktian apapun.
Well, pertanyaan yang muncul di kepala saya,
kenapa para korban itu mau dikelabuhi dengan cara seperti itu. Mengapa
anak-anak itu ingin menjadi sakti? Mengapa mereka percaya dan ingin punya ilmu
gaib seperti itu. Bukankah sekarang ini sudah era informasi dan digital?
Para pedofil atau pun penjahat kelamin lainnya,
selalu saja mencari korban anak-anak yang "lemah" dalam tanda kutip.
Lemah dalam artian, tidak percaya diri, penakut dan biasanya anak dari keluarga
kurang mampu.
Mereka ini sangat mudah dipengaruhi dan bodoh
tidak pernah diajari orang tuanya mengenai prinsip-prinsip dalam menghadapi
kekerasan di sekitarnya. Ortu masih menganggap bahwa pendidikan seks itu tabu,
dan atau karena faktor pendidikan yang rendah.
Berbeda dengan kasus pedofil yang terjadi di
Jakarta Internasional School (JIS), kasus Babeh ini terjadi karena korban tidak
tahu masalah seks dan percaya begitu saja rayuan Babeh dengan harapan kesaktian
itu akan mempermudah hidupnya. Sedangkan kasus JIS, murni perkosaan. Biarpun
korbannya sama, anak-anak.
Pada intinya, kita sebagai orang tua, secara
prefentif bisa menghindarkan anak-anak dari monster-monster pedofilia dengan
cara berikut ini.
1. Tumbuhkan rasa percaya diri pada anak, dengan
cara memberikan rasa aman kepada mereka dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak
yang percaya diri, akan menjadi anak yang mendiri dan berani.
2. Kenalkan organ-organ vital mereka, dimana
tidak boleh disentuh atau diraba oleh orang lain. Bahkan orang yang boleh
menciumnya pun "dibatasi" dalam tanda petik.
3. Ajaklah mereka berkomunikasi secara rutin dan
terbuka, tanpa ada justifikasi dari pihak orang tua.
4. Ajari mereka untuk tidak gampang percaya
kepada orang lain. Biarpun mereka orang yang dekat, seperti tetangga, guru, sopir
ataupun mereka yg masih punya hubungan keluaga. Biasanya pelecehan seksual
justru dilakukan oleh orang yg dikenal oleh anak, orang yang tahu kebiasaan dan
kesukaan anak tersebut.
5. Kenalkan beberapa cara bela diri bila ada yg
menyentuh organ-organ vital mereka, seperti teriak, menendang, memukul atau
berlari sekencang-kencangnya.
6. Ajak anak-anak olah tubuh, latih kaki-kakinya
agar bisa berlari kencang, ajari cara untuk bertahan di air (berenang), dan
ajari juga mereka mempertahankan diri, seperti sembunyi dll.
7. Anak-anak juga harus hapal nomor telepon
ortu, atau alamat rumah. Bilamana suatu saat dibutuhkan.
8. Terakhir, ajari mereka untuk selalu berdoa dan
memohon perlindungan pada Tuhan dari orang-orang yang jahat. Kesalehan seorang
anak bukanlah jaminan bagi mereka akan dijauhi para monster itu. Karena yang
namanya monster tidak peduli korbannya siapa dan tingkat kesalehannya sperti
apa.
Namun kesalehan seorang anak akan menjadikannya
merasa aman dan tenang karena merasa ada Tuhan yang akan selalu melindungi
mereka. Insya Allah. (Anggie D. widowati)
Jakarta, 8 Januari 2018
Komentar
Posting Komentar