Ngidam

Oleh: Anggie D. Widowati

Seluruh penonton yang ada di sirkuit itu bertepuk tangan riuh. Sony Sumarsono kembali mengharumkan nama Indonesia sebagai pembalap muda dengan prestasi internasional yang menggemparkan dunia MotoGP.
Dengan mudah Sony mengendari motor balapnya mengalahkan juara-juara dunia, bahkan Valentino Rossi pun harus angkat topi untuk keberhasilannya. Sirkuit Sentul gegap gempita karena seluruh penonton tak bisa menahan teriakan histeria. Para penjudi berjingkrak-jingkrak atas kemenangan Sony yang tidak terduga.
Di luar sirkuit, penonton dari seluruh Indonesia sedang bergelak tawa melihat siarah langsung itu. Mereka berjingkrak dan tertawa-tawa sambil berjoged gila-gilaan menyambut kemenangan Sony yang baru saja mengalahkan setan sirkuit dari Italia, Rossi.
Para reporter menjulukinya dengan julukan-julukan kebanggan. Si anak emas, si putra bintang, sang cahaya timur dan sebagainya. Begitu pun di media sosial. #SonySangJuaraMotoGPbaru menjadi trending. Semua akun sosmed baik wanita dan laki-laki memberikan ucapan selamat kepada Sony, termasuk menotif namanya dalam status mereka.
Hari ini Indonesia gempar. Sony sudah membuat sejarah mengejutkan pada kejuaraan MotoGP, bahkan sejak sirkuit Sentul dibangun jaman Soeharto pun baru kali ini seorang putera Indonesia menjadi bintang Internasional. Menjadi berita di televisi-televisi sedunia.
"Bu, lihat RTV tivi yaa, malam ini aku siaran langsung," kata Sony menelpon ibunya yang tinggal di Jawa Tengah.
"Iyaa Nak, jangan lupa makan yaa," kata Janati, sang ibu.
"Tenang Bu, aku selalu disiplin makan kok," jawab si jawara.
"Syukurlah, makan teratur itu investasi buat kesehatanmu, ingat itu."
"Iyaa Bu, akan selalu aku ingat."
Janati mengganti chanel televisinya dengan chanel RTV. Sepertinya siaran langsung itu belum dimulai. Sekarang sudah pukul tujuh lebih tiga puluh malam, setengah jam lagi siaran wawancara eksklusif itu akan digelar.
Kenapa dia jadi deg-degan? Kenapa putera tunggalnya ini selalu memberikan kejutan. Bahkan saat masih dalam perutnya dulu. Bayi itu sangat aktif, seakan berputar-putar di perutnya, siang dan malam. Kadang membangunkannya di tengah malam, karena menendang perut dengan kencang.
Saat pukul delapan tepat, acara talk show siaran langsung itu dimulai dengan menampilkan pewawancara terkenal. Di sebelah kiri Sony duduk Menteri Olah Raga, di sebelah kanan pelatih dan komentator motoGP. Dan Sony, putranya, terlihat begitu tampan.
Rambutnya gelap, persis rambut Danu, almarhum suaminya. Hidungnya bangir, sedikit mbetet, kayak hidung sang kakek, ayah Janati. Dan kulitnya yang gelap, seperti  kulit mertua laki-lakinya. Wajahnya coklat tapi tampan, karena matanya bersinaran, menyorotkan cahaya entah dari dunia mana.
Janati menonton televisi dengan tenang. Tadi, di swalayan tempatnya kerja juga heboh karena kemenangan anaknya, dia tersenyum dan berterima kasih pada mereka memberikan ucapan selamat. Tidak ada yang merubah dirinya, karena sejak dulu dia tahu, Sony memang anak yang istimewa.
Awalnya talk show itu tenang dan penuh canda bahagia, baik Pak Menteri, komentator maupun pelatih saling mengumbar puja-puji. Namun semua hingar bingar itu berubah ketika, pewawancara menanyakan tetang orang tua Sony.
"Ibu saya kerja di swalayan, bapak saya meninggal saat saya umur 7 tahun," kata Sony menjawab pertanyaan.
"Oh jadi kau ini anak yatim?" tanya si pewawancara.
"Kurang lebih begitu."
"Oh Tuhan, pemirsa semua, Sony Sumarsono, pembalap luar biasa ini ternyata seorang anak yatim."
Janati bisa melihat bagaimana ekspresi para tamu dalam acara itu. Juru kamera benar-benar pandai mengambil momen saat-saat orang-orang itu berubah ekspresinya menjadi terharu, setelah tahu Sony adalah anak yatim.
"Dia anak ajaibku," guman Janati dalam hati.
Sambil mengelus perutnya yang buncit, Janati duduk di teras rumah. Danu, suaminya sedang mencuci motor GL Pro merah kesayangan. Dengan motor itu, setiap hari Danu menempuh perjalanan 20 km pulang pergi ke pabrik tempatnya bekerja.
"Kenapa wajahmu pucat?" tanya Danu pada istrinya.
"Mual."
"Pengen apa nanti aku beliin."
"Nggak pengen apa-apa."
"Beneran."
"Sebenarnya pengen naik motor."
"Yaudah nanti  kalau habis dicuci aku boncengin keliling-keliling."
"Pengen nyetir sendiri."
"Loh jangan, kamu kan nggak bisa naik motor, lagian ini motor cowok."
"Yaudah, kalau gitu enggak jadi ngidam."
"Coba ngidam yang lain."
"Tidak pengen apapun."
Suaminya pun diam dan melanjutkan aktifitasnya. Janati masih duduk mengawasi lelaki itu. Tetapi pikirannya hanya tertuju pada motor keren itu. Bodohnya aku, tidak mau belajar motor, giliran pas hamil 7 bulan pengen naik kotor sendiri.
Sudah sore ketika Danu bangun dari tidur siangnya. Alangkah kaget dan bingung saat tahu motor yang barusan dicucinya tak ada di teras rumah. Dia pun mencari-cari istrinya ke seluruh ruangan rumah. Tetapi wanita itu juga tidak ada.
Lalu bergegas ke rumah tetangga dan mengabarkan musibah yang dialaminya, sekalian menanyakan apakah mereka tahu dimana Janati istrinya. Tak ada tetangga yang tahu. Mereka pun berkumpul di halaman rumah Danu membicarakan musibah itu. Pak RT mencatat-catat yang perlu-perlu.
Saat senja luruh, di kejauhan seseorang mengendarai motor menuju ke halaman yang penuh orang itu. Danu berjalan mendekat dan dia sudah hapal dengan suara motornya.
"Itu motorku," katanya.
"Dan itu istriku," katanya pula tanpa sadar.
"Ya Allah, Janati, kau naik motorku, awas sini aku pegangi," kata Danu setengah berlari setelah tahu istrinya di atas motor itu.
Janati menginjak rem, lalu menjulurkan kakinya ke tanah untuk menjagang. Perutnya yang buncit, terlihat menempel di tangki bensin merah itu. Motor berhenti dengan tenang. Para tetangga dan suaminya pun merubungnya.
"Kau baik-baik saja? Ingat bayimu," kata suaminya sambil membantunya turun dari motor yang tinggi itu.
"Aku enggak apa-apa, Mas."
"Kau bisa naik motor cowok?" tanya seorang perempuan tetangga.
"Entahlah tahu-tahu bisa."
"Pernah naik motor sebelumnya?" tanya tetangga lain.
"Belum."
"Tadi dia bilang ngidam pengen naik motor ibu-ibu, tentu saja saya melarang, karena dia tidak bisa naik motor."
"Aku pengen sekali Mas, saat Mas ke tidur, aku mencoba menyalakan mesinnya, dan motor pun melaju ke depan, ternyata mudah sekali," cerita Janati.
"Ooo keinginan jabang bayi to, pantesan," kata seorang tetangga yang sudah nenek-nenek.
"Trus naik motor sampai kemana aja?" Danu penasaran.
"Keliling kota."
"Oh Tuhan," kata Danu mengelus perut istrinya.
Dua bulan kemudian Sony lahir dengan selamat. Seorang bayi laki-laki yang sehat dan aktif. Sayang dia tak berkesempatan tumbuh bersama bapaknya karena meninggal saat kecelakaan kerja. Tapi Tuhan telah menyiapkan segalanya, segalanya untuk Sony putranya.
"Dia memang istimewa," guman Janati, air mata menetes menyentuh pipinya, lalu jatuh di lantai rumahnya yang sederhana.
Jakarta, 30 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengulik Stensilan Mesum Enny Arrow Era 1980-1990-an

Di Toilet

15 Ciri-ciri Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat