3. Orang Kosong
Catatan Perjalanan: Ari Handayani
Seorang kawan dari Jawa, buruh konstruksi yang punya permit, mengundangku datang ke tempatnya.
“Kamu bisa motret sepuasmu di sini, bagus pemandangannya,” kata Kang Man, membujukku lewat telpon. Dia mengajakku bertemu di BM Plaza, kawasan pertokoan di Bukit Mertajam yang cukup ramai dengan orang Indonesia.
Siang itu, di bawah sengatan mentari, Kang Man membawaku berjalan kaki menyusuri gang sempit, meninggalkan BM Plaza, menuju proyeknya di Bukit Kecil. Berdua kami melewati kawasan perumahan elit, sebelum akhirnya membelah tanah tandus coklat yang diselang-selingi bangunan mewah berlantai dua setengah jadi di sana-sini.
“Proyekku di situ,” telunjuk Kang Man mengarah ke sebidang tanah rata dengan sedikit orang sedang bekerja di sana. Mereka memakai topi lebar untuk melindungi kepala dari sengatan matahari. Kang Man membawaku ke sebuah warung, yang rupanya menjadi kantin kongsi tempatnya tinggal. Seorang perempuan Jawa yang menggendong anaknya, segera menyediakan kami minuman.
“Konco soko ndi ki?” tanya perempuan itu dalam bahasa jawa sambil melirik kepadaku. Dia ingin tahu aku dari mana.
“Kawan di sini saja, cidek,” jawabku, menegaskan bahwa aku tinggal dekat, di sekitar situ saja.
Tiba-tiba anaknya yang kutaksir berumur 3 tahun itu merengek. Perempuan itu segera membujuk anak lelakinya, mengambilkan rambutan, lalu mengupasnya. Si anak pun terdiam, sibuk mengunyah rambutannya. Mereka kemudian masuk ke dalam warung.
“Perempuan itu sakit,” kata Kang Man.
“Sakit apa? Kok nggak berobat ?” tanyaku.
“Nggak tahulah,” Kang Man mengangkat bahu.
“Suaminya ada?”
“Ada, tapi tak kerja di sini.”
“Tapi pulang kan setiap hari.”
“Yaaa..”
Tak berapa lama anaknya keluar dari dalam warung. Seorang lelaki yang tiba-tiba datang segera meraihnya, membopongnya. Lelaki itu berperawakan sedang, dengan rambut gondrong. Beda dengan Kang yang agak gemuk dan berisi, serta rambutnya dicukur klimis. Kurasa mereka seumuran, menjelang tiga puluhan.
“Ini kawanku dari Ponorogo, kenalkan,” kata Kang Man.
Aku hanya menganggukkan kepala, tidak menjabat tangannya.
“Dia baru keluar dari lokap,” tambahnya.
“Jane enak nang lokap, oleh mangan gratis,” sahut sang kawan, dalam bahasa Jawa logat Jawa Timuran. Dia mengatakan enak hidup di penjara, dapat makanan gratis.
“Berapa lama di lokap? suwe? “ tanyaku ingin tahu.
“Gak sampe enam bulan, terus keluar, kerja lagi.”
“Kok bisa?”
“Ya bisa, asal mau bayar ya boleh keluar,” jawabnya.
“Sampeyan kosong ta ?” tanyaku.
“Iya..”
“Kenapa kosong?”
“Panjang ceritanya.” Mulanya dia enggan berkisah. Namun akhirnya dia bercerita nekad meninggalkan ibunya di Bondowoso demi mencari tunangannya. Sang tunangan rupanya bekerja di sebuah toko di Kuala Lumpur. Gadis itu menolak pulang dan menikah dengannya. Lelaki itu stress, membiarkan dirinya ditangkap, lalu ditolong Kang Man dan kawan-kawannya. Mereka kemudian mengajaknya bekerja di Bukit Kecil.
Kang Man sendiri sudah lebih tiga tahun bekerja di Malaysia. Beberapa kali dia berganti majikan. Yang terakhir dia bekerja dengan seorang toke di Bukit Kecil. Kang mengaku setiap tahun harus membayar permit kerja sebesar 1400 ringgit, yang dipotong dari empat bulan gajinya di awal tahun.
“Semua ejen yang urus, aku nggak perlu pusing,” katanya.
Sebagai tenaga kerja legal, Kang Man bebas pergi kemana dia suka, berbekal paspor yang selalu dikantonginya.
“Biasanya paspor dipegang toke, tapi punyaku kubawa sendiri.”
“Enak no sampeyan, iso bebas,” kataku. Kubandingkan dengan diriku yang buruh pabrik ini, hanya dibekali fotokopi paspor dan kartu biru oleh majikan kami, pemilik pabrik. Bahkan di tahun keempat, kami tak lagi mendapat kartu biru karena pihak pabrik enggan mengurusnya.
“Lha iyo enak, wong tokeku wis percoyo karo aku”
“Berapa gajimu sebulan Kang?,” tanyaku ingin tahu.
“Nggak pasti. Kadang seribu kadang lebih. Kalau musim hujan bisa lebih kecil lagi karena banyak libur.”
“Lho dibayar harian. Nggak ada OT? “
“OT nggak OT sama saja. Beda dengan kerja kilang, Dik. Orang kontrak jarang ada OT.”
“Kawanmu yang kosong akeh ta?”
“Akeh..Di sini isinya orang kosong. Sakno jane.” Terbit juga rasa kasihan Kang Man melihat nasib kawan-kawannya yang kosong.
“Kenopo..?”
“Nang ndi-ndi gak tenang. Wedi dicekel rela ambek polis.”
“Lho aku tenang ngono jo.” Kawannya menyahut sambil tertawa.
“Iyo..koen gendheng.”
Kuberjalan sejenak melihat-lihat seputar kongsi Kang Man. Tak ada kontena di sini. Hanya barisan rumah papan memanjang. Dinding rumah terbuat dari tripleks, sementara atapnya dari seng. Lantai dari papan. Antara lantai dan tanah ada jarak sekitar sepuluh sentimeter. Kamar mandi terletak di ujung. Sebuah bak besar dan selang air menggantung di situ. Lalu ada ruang-ruang tertutup seng, itulah wc. Cukup nyaman dibanding kongsi di Balik Pulau. Pakaian kerja menggantung dimana-mana.
“Kalau kamu lelah bisa tidur di sana. Adem kok.”
Kang menunjuk sebuah kamar di antara deretan rumah memanjang itu. Aku menolak. Lebih tiga jam aku di sana, berbincang, dan mengabadikan sekitar. Beberapa orang Bangladesh yang tadi nampak bekerja sudah rehat dan memenuhi kantin.
“Mereka tidak libur ?” tanyaku
“Tidak..mereka rajin bekerja, kecuali kalau deting,” kata Kang Man sambil tertawa. Tak berapa lama aku pun pamit karena senja mulai turun.
Komentar
Posting Komentar