5. Eka Punya Kartu Tsunami
Catatan Perjalanan: Ari Handayani
Eka nama perempuan itu. Muda, tubuhnya berisi, kulitnya bersih, dan rambutnya panjang agak ikal. Satu-satunya yang mengganggu hanya wajahnya. Di situ menempel bibirnya yang asimetri, miring ke kiri. Sepintas Eka kelihatan normal. Namun kalau mulai ngobrol nampak otaknya kurang beres. Kata kawan-kawannya, Eka pernah stres akibat perbuatan suaminya di kampung. Suami Eka lari dengan perempuan yang seumuran ibunya. Eka dan anaknya diterlantarkan begitu saja. Padahal suaminya itu muda, gagah, dan ganteng. Itu yang membuat Eka linglung, mendaftar jadi prt di Malaysia, lalu kabur dari rumah majikannya dan tinggal di kongsi dengan abangnya yang cacat.
Abang Eka sudah tua, mungkin hampir empat puluh tahun. Kakinya cacat karena polio. Namun Eka menerimanya dengan pasrah. Asal abangnya mau memelihara dan memberinya uang setiap bulan, Eka tidak protes.
Eka gigih mencari uang. Dia selalu memiliki pekerjaan, tak sepenuhnya bergantung kepada lelaki. Hai itu dia sibuk membersihkan rumah orang-orang Cina di kawasan lain. Pagi-pagi dia sudah meninggalkan kongsi, menunggu jemputan majikan yang mempekerjakannya. Petang dia baru balik sambil membawa sisa-sisa makanan dan barang-barang majikannya yang tak terpakai. Ada sepatu bekas, sandal bekas, dan baju-baju bekas. Apa yang dibawanya selalu menjadi rebutan orang-orang di kongsi. Keesokan harinya dia kembali sibuk membersihkan rumah orang Cina di tempat lain.
“Banyak orderan ya Ka, kaya dong,” sindir Anis, teman Eka satu kongsi, bini kawan abang Eka.
“Iya..mau raya cina sih.” Yang disindir nampak tenang-tenang saja, tidak merasa.
“Berapa kamu dibayar sehari?” tanyaku ingin tahu.
“Biasanya lima puluh, tapi kadang lebih, tergantung orangnya.”
“Banyak langgananmu Ka?”
“Lumayan, yang nyariin teman-teman. Yang penting ada kerja setiap hari.”
Eka nampak gelisah kalau tak ada kerja. Berkeliaran kemana-mana, bermain ke rumah kawan-kawannya. Hal ini membuat abangnya kesal. Begitu melihat Eka pulang, abangnya akan memukulnya. Kata-kata kasar seperti ‘lonte’, ‘jual diri’, akan meluncur dari mulutnya. Lalu Eka akan sesenggukan menangis. Namun keesokan harinya mereka nampak akur kembali.
Rejeki Eka membuat perempuan sekitarnya menjadi cemburu. Apalagi abang Eka, Bang Udin, amat sayang kepada Eka. Selepas menerima gaji, dia akan memberi Eka duit tiga ratus, kadang empat ratus ringgit. Itu belum termasuk uang makan mereka berdua. Walau di kampung ada istri dan dua anak, Bang Udin nampak lebih sayang kepada Eka. Sering kulihat Eka cemberut, berkata kasar kepada Bang Udin, kalau abangnya terlambat gajian.
“Kamu nggak ingin pulang kampung Ka?” tanyaku suatu hari. Kami sedang ngobrol di kamarnya, sambil makan krupuk goreng. Sebetulnya ini pertanyaan standar yang kuajukan kepada setiap orang yang kutemui di kongsi..
“Ingin..tapi nanti sama Abang.”
“Kalau Abangmu nggak pulang, kamu nggak pulang dong.”
“Ya enggak..buat apa di rumah. Malas, nggak ada kerja. Enak di sini bisa ngumpulin duit.”
“Nggak takut jadi orang kosong?”
“Aku punya card tsunami kok.”
“Tapi kan kamu bukan orang aceh.”
“Bukan..orang Jawa. Aku beli sama orang.”
“Berapa ?”
“Tiga ratus lima puluh.”
“Ada gunanya?”
“Ada..dulu aku pernah kerja di kilang pakai kartu ini.”
“Kilang apa?”
“Sony..tapi hanya enam bulan.”
Banyak juga orang Indonesia yang menyalahgunakan kartu sunami ini, pikirku. Dulu kartu ini dikeluarkan pemerintah Malaysia untuk menolong orang-orang Aceh yang ditimpa musibah sunami pada 26 Desember 2004. Pada saat sunami, pemerintah Malaysia sedang melakukan operasi pembersihan orang asing yang tanpa dokumen. Banyak pekerja asing ilegal yang terkena, termasuk orang Indonesia. Presiden Indonesia pada waktu itu, Susilo Bambang Yudhoyono, lalu memohon kepada pemerintah Malaysia untuk memberi kelonggaran kepada Indonesia berkaitan dengan bencana sunami. Pemerintah Malaysia kemudian memperpanjang batas pembersihan bagi orang Indonesia ilegal di sana hingga 28 Februari 2005.
Pemerintah Malaysia juga menerbitkan kartu sunami bagi warga Aceh di Malaysia agar tak terkena pengusiran. Kartu ini juga diberikan kepada orang-orang Aceh yang hendak mencari kerja di Malaysia. Beberapa warga Aceh sempat terbawa gelombang sunami sampai di Malaysia. Mereka lalu meminta suaka di negeri itu. Hal ini menerbitkan iba dan simpati dari warga Malaysia.
Kartu sunami lalu digunakan oleh orang-orang Aceh di sana untuk mendatangkan keluarganya ke Malaysia. Mereka dapat bekerja layak, tak perlu mengurus dokumen seperti paspor, permit kerja, dan lainnya. Kemudian kartu ini disalahgunakan oleh orang-orang Indonesia bukan Aceh untuk mendapatkan pekerjaan. Tentu saja mereka mau mengeluarkan sejumlah uang agar mendapatkan kartu ini. Beberapa pabrik di Malaysia tak terlalu mempermasalahkan orang Indonesia yang mendaftar kerja menggunakan kartu sunami. Mereka tak meneliti lebih jauh apakah pemegang kartu itu benar orang Aceh atau bukan.
Eka sempat menjadi tukang masak ketika abangnya pindah bekerja di sebuah proyek bangunan di Permatang Pauh. Dia memasakkan orang-orang Buton di kongsi itu dan menarik mahal uang makan mereka. Banyak yang marah karena sikapnya. Namun Eka meraup untung lumayan banyak.
Beberapa bulan kemudian aku kembali bertemu dengan Eka. Dia menginap di rumah Erin. Tak seperti biasanya, Eka nampak kusam, tak terawat, dan kebingungan. Menurut Erin, abangnya sedang pulang ke kampungnya di Muna. Eka ditinggal sendirian. Mulanya, Bang Udin mengajak Eka pulang bersama. Mereka lalu menarik tabungannya di Rahim, toke asal Buton yang menjadi tempat orang-orang Buton ini menyimpan duitnya. Namun kemudian hanya Bang Udin yang pulang. Alasannya tak ada tiket bus ke Johor untuk Eka.
“Itu hanya akal-akalan Bang Udin saja. Nggak mungkin dia ngajak Eka pulang ke kampungnya kalau di sana ada anak istri. Memangnya mau perang dunia di kampung ?” Erin bercerita sambil jengkel.
“Lalu kenapa dia pura-pura mengajak Eka ?” tanyaku ingin tahu.
“Agar Bang Udin bisa menarik tabungan mereka berdua di Rahim. Kalau Rahim tahu hanya Bang Udin yang pulang, ya cuma tabungannya saja yang diberikan. Tabungan Eka tetap disimpan. Padahal duit Eka kan banyak.”
“Wah.. ketipu dong Eka.” Aku jadi prihatin.
“Biarin..Eka dulu juga suka nipu orang. ” Arin terlihat menyimpan dendam pada Eka. Nampaknya dulu ada masalah di antara mereka berdua. Namun aku tak mau ikut campur, biar nggak tambah panas.
“Waktu abangnya pulang, setiap saku celananya berisi duit. Eka nampak bangga. Bahkan setelah di Batam, dia naik pesawat ke Kendari, nggak mau susah-susah menunggu kapal. Padahal ongkos pesawat dua juta lebih,” Erin menambahkan.
Ketika ditinggal Bang Udin, setiap hari Eka menelpon abangnya. Bisa tiga empat kali dalam satu hari. Suatu hari istri Bang Udin di kampung tahu tentang hubungan suaminya dan Eka. Mereka bertengkar hebat. Bahkan, Bang Udin sempat dipukuli keluarga istrinya sampai babak belur. Nggak bisa kubayangkan bagaimana kondisi lelaki itu. Sudah cacat, masih dipukuli pula. Lagi-lagi perempuan penyebabnya.
Kudengar dari kawan Bang Udin yang juga pulang kampung, mereka akan bercerai. Namun ketika Bang Udin kembali ke Malaysia, dia nampak baik-baik saja. Eka dan dia kembali hidup rukun. Rupanya dia nggak jadi cerai. Tapi istrinya tak mau dimadu. Jadi Eka cukup dijadikan gundik saja, tanpa masa depan. Eka nampak nerimo, pasrah dengan keputusan itu. Baginya lebih baik bertahan di Malaysia dengan suami orang daripada pulang kampung kesepian. Di sini dia bisa bekerja apa saja, dan bila beruntung akan mendapatkan lelaki yang mau menjadikannya istri. Dari pada di kampung hanya menanggung stres dan malu. Ah.. Eka !
Komentar
Posting Komentar