6. Orang Buton
Catatan Perjalanan: Ari Handayani
Pertama aku datang, hanya lima orang saja yang tinggal di kongsi ini. Amir, Tiar, Anshar yang rajin shalat, Mimi sang kepala kerja, dan Bang Mansur, lelaki setengah baya yang selalu haus akan belaian perempuan itu. Mereka berasal dari daerah yang sama, Muna. Muna merupakan pulau kecil di utara Pulau Buton, propinsi Sulawesi Tenggara. Mereka direkrut oleh Mimi untuk bekerja sebagai tukang kayu di proyek ini. Sebutan orang kayu melekat pada mereka, juga orang Buton. Entah mengapa semua orang asal Sulawesi di Malaysia disebut orang Buton, apalagi jika kulitnya hitam dan rambutnya keriting. Dan orang-orang ini tak pernah protes walau bukan berasal dari Buton.
Saat itu nyaris tak ada pekerjaan berarti. Dua bulan lebih mereka nyaris menganggur. Hanya ada pekerjaan kecil seperti mengatur besi-besi bekas, membersihkan kongsi, menjaga seng-seng bekas, menyiapkan pembangunan kantin, atau membuat pagar kawasan. Proyek belum dimulai. Masih tes pailing, kata mereka. Tiga tes pailing di tiga lokasi gagal, sehingga pelaksanaan proyek pun tertunda-tunda. Ketika tes gagal, toke besar akan memerintahkan pengerukan tanah kembali. Truk pengeruk akan membuang batu-batu besar, lalu menimbunnya dengan tanah. Lama juga tes ini dilakukan. Membuat lima penghuni pertama kongsi ini lapar lahir batin.
Kuingat lebih dua bulan mereka harus bekerja bergantian, karena pekerjaan memang tak banyak. Hanya kepala kerja saja yang bebas bekerja setiap hari. Sering dalam seminggu seorang pekerja hanya bekerja selama tiga hari. Di hari Minggu semua pekerja libur.
“Susah kalau begini, tak ada duit masuk,” kata Tiar, kawan Amir yang berperawakan tegap.
“Tak ada duit, makan jalan terus,” sambung Bang Mansur sambil tertawa sinis.
“Yah..gimana lagi. Di sana pun tak ada kerja.”
“Kalau begini lama-lama, bisa kawin lagi bini saya di kampung,” giliran Anshar angkat bicara.
“Tapi kalo proyek sudah berjalan, bakal banyak duit yang masuk,” kepala kerja nampak optimis, menghibur anak buahnya.
“Kalau aku ikut nasehat mamak untuk balik bulan Februari, pasti tak menganggur begini,” keluh Amir kesal. Dia memang baru balik dari pulang kampung, setelah delapan tahun tinggal di Malaysia.
Di masa-masa awal yang berat ini, aku sering datang membawa rokok dan keperluan mereka sehari-hari. Gula, teh, kopi, bahkan juga membelikan teko listrik saat belum ada kompor dan tabung gas. Kulihat sumringah wajah mereka saat melihat rokok di tanganku. Yah, laki-laki boleh tahan tak menyentuh perempuan, asal jangan tak merokok. Buat mereka moto ini berlaku.
Setiap hari kelima penghuni kongsi semakin tertekan. Kalau tak ada kerja, berarti tak ada duit yang masuk. Tapi perut tak mau kompromi. Urusan makan terus jalan, tak bisa ditunda, minimal dua kali sehali perut harus diisi. Mereka pun berhutang belanja kepada Tambi, toke Cina yang biasa menyuplai belanja orang-orang di kongsi. Tapi Tambi menjual barangnya dengan harga selangit, tiga kali lipat harga di pasar. Mungkin dia menganggap mereka berhutang, jadi sah-sah saja baginya menaikkan harga barang semaunya. Lagipula, kongsi mereka jauh dari pasar. Dan mereka adalah orang kosong, tak punya dokumen, sehingga gerak mereka serba terbatas. Mau hutang kemana lagi. Akhirnya cuma bisa pasrah.
Tiga hari sekali Tambi datang dengan sepeda motornya membawa beras, minyak goreng, ikan segar, cabai, asam, bawang merah, dan tomat. Satu kilogram ikan segar dijualnya seharga lima belas, kadang malah dua puluh ringgit. Dia tahu orang-orang yang gila ikan ini akan memborong semua ikannya, berapapun harganya. Buat orang Buton, pantang makan nasi tanpa ikan. Mana boleh tahan. Lebih baik makan tanpa daging atau ayam daripada harus berpisah dengan ikan. Belum dua bulan, hutang belanja sudah membengkak lebih dua ribu ringgit. Tambi mulai protes. Tak mau membawa bahan makanan jika hutang tak dibayar. Padahal gaji tak menentu. Keadaan ini membuat mereka semakin tertekan tapi juga kreatif.
Kepala kerja, satu-satunya orang yang tak merasakan krisis ini dalam waktu lama, mencoba menaikkan semangat semua orang. Ketika tak ada kerja, dia sudah sibuk ke hutan. Tak berapa lama dia muncul dengan membawa kangkung seember penuh. Hari itu dia hendak memasak sayur kangkung.
“Ambil dimana Bang ?” tanyaku heran.
“Di sana, dekat hutan,” tunjuknya ke arah belakang proyek.
Ramban kangkung ini dilakukannya setiap hari dengan gembira. Begitu juga saat memasak sayur kangkung. Sejak hari itu mereka selalu makan nasi dan sayur kangkung. Tugas mencari kangkung kemudian diambil alih oleh Anshar dan Tiar, bergiliran. Begitu juga tugas memasak nasi. Amir orang yang paling malas membantu. Lebih baik tidur, katanya. Untungnya kawan-kawannya tidak protes. Amir hanya kena gililiran memasak nasi..
Sejak saat itu kangkung menjadi makanan pokok penghuni kongsi. Bahkan kemudian menjadi rebutan ketika berdatangan pekerja baru saat proyek dimulai. Ketika kebun kangkung di pinggir hutan habis, kangkung di tepi jalan ganti menjadi sasaran. Bahkan, ada yang sengaja menanam kangkung di dalam akuarium. Kangkung itu ditanam di air, bersama dengan ikan tarung.
“Ikan ini akan menetralisir racun di kangkung ini,” jelas si Mas, orang Jawa yang jadi kepala besi itu menerangkan kepadaku saat kulewat kontenanya.
“Lho kok bisa?”
“Iya..wong kangkungnya saya ambil dari comberan air sisa mandi.”
‘Wow..ada ada saja’, pikirku.
*****
Suatu pagi kepala kerja datang dengan tubuh penuh lumpur. Lumpur tak hanya membalur tubuh, tapi juga rambut dan celana dalamnya. Benar-benar mirip si manusia lumpur ‘swamp thing’ itu. Dia berteriak-teriak dengan bahasa Muna, membuat semua orang keluar dari kontena. Ada yang terbahak, tapi ada yang lari ke dapur. Tak berapa lama Tiar dan Anshar keluar dari dapur sambil membawa ember dan pisau. Bersama kepala mereka menuju ke arah proyek. Beberapa jam kemudian, kulihat kepala kerja sedang membilas tubuhnya dengan air yang mengalir dari selang. Sementara Ashar sedang membersihkan ikan. Ada dua ember penuh, mungkin lebih empat puluh ekor ikan besar di ember itu.
“Ini bisa buat obat orang yang baru melahirkan atau operasi besar,” kata kepala kepadaku, sambil menunjukkan ikan haruan, nama lain ikan gabus, yang panjangnya se paha.
“Besar sekali Bang, dapat dari mana?”
“Longkang di belakang proyek. Kamu tak tahu saya pergi kemana tadi?”
“Nggak, kemana Bang?”
“Tangkap ikan di longkang.”
“Pake apa? Mana pancingnya?”
“Bukan mancing. Tapi langsung masuk selokan, tangkap dengan tangan,” katanya bangga.
“Ni lihat tangan saya.”
Aku tertawa. Belum dua minggu aku menjalani operasi. Menurut kepercayaan orang Malaysia, ikan haruan akan mempercepat keringnya luka bekas operasi. Kebaikan kepala kerja membuatku terharu. Malam itu, dan beberapa malam berikutnya, kami pesta ikan. Orang bebas makan ikan sepuasnya, sekenyangnya, tanpa perlu membayar atau cemas jika Tambi lama tak datang.
Hubungan orang Buton dan ikan begitu erat, mungkin lebih erat daripada hubungan mereka dengan tanah kelahirannya. Orang-orang ini bisa merantau ke Malaysia, meninggalkan kampug halamannya selama bertahun-tahun, tapi tak bisa dipisahkan dengan ikan dalam waktu lama. Kadang mereka makan kangkung, telur atau lauk apa saja yang disodorkan. Tapi itu hanya kalau terpaksa, tak ada makanan lain. Kalau ada uang, atau ada ikan dijual, mereka langsung membelinya, berapapun harganya, tanpa berpikir panjang. Kalau tak ada duit, otak mereka akan berputar mencari tempat untuk menangkap ikan. Konsumsi mereka akan ikan pun luar biasa. Seorang dewasa mampu melahap sebuah ikan besar seberat satu kilogram sekali makan. Bahkan lebih. Begitu besar selera makan ikan mereka, hingga kupanggil ikan maniak !
Orang Buton juga jago memasak ikan. Nama masakan itu parendre. Kupikir ini masakan khas Sulawesi, karena orang Bugis, Buton, atau Muna di Malaysia pasti biasa memakannya atau memasaknya. Aku pernah melihat kepala kerja memasak parendre. Cukup unik dan tak rumit bahannya. Mula-mula dia mengupas bawang merah banyak-banyak, merajangnya tipis-tipis. Ia juga membelah tomat, membuang biji cabai lalu mengirisnya menyerong. Cabai kecil diiris menjadi dua bagian, yang besar beberapa bagian. Tak ada alat tumbuk di dapur darurat itu. Jadi tak ada acara ngulek, menghancurkan dan menumbuk sampai halus. Kepala kerja kemudian menuang minyak goreng banyak-banyak ke dalam penggorengan. Digorengnya bawang merah, tomat, dan cabai. Semacam sambal jadinya. Aroma yang sedap menyengat segera merayap memasuki kontena terdekat, merangsang rasa lapar. Lalu dia menuang garam dua sendok, dan sedikit ajinomoto. Tak lama kemudian dimasukkannya ikan yang dipotong-potong, lalu dituang air secukupnya. Heran, masakan yang nampak sepele itu begitu sedap di mulut. Benar-benar nikmat. Rasa asam, asin, dan pedasnya lekat di lidah.
“Kalau tak cukup tomat, pakai saja asam jawa,” jelas kepala kerja.
Sayur kangkung pun dimasak dengan cara yang sama. Bawang merah, tomat, dan cabai menjadi bumbu utama. Kadang jika kangkung dianggap terlalu sedikit, akan langsung dicampur dengan ikan dan dituang air banyak-banyak
Entah mengapa orang-orang ini begitu lahap memakan parendre kangkung. Walau hari-hari menu ini dihidangkan, tak ada rasa bosan. Justru nafsu makan mereka menjadi besar jika melihat ikan dan kuahnya yang melimpah. Tak pernah sekali pun kulihat mereka membeli tahu, tempe, atau daging. Mereka juga tak suka bawang putih. Mungkin karena baunya yang menyengat. Kalau aku menggoreng tempe atau tahu, jangan harap mereka akan menyentuhnya. ‘Makanan apa itu, masih bikin lapar perut,’ begitu selalu komentar mereka.
*****
Orang-orang Buton memiliki ikatan persaudaraan yang kuat, termasuk urusan perut. Suatu hari datang dua orang baru, Jack dan Lamili namanya. Mereka akan bekerja dengan kepala kerja. Tak lama kemudian, datang lagi sepupu dan kemenakan kepala kerja dari Johor. Kini ada sembilan orang yang harus ditanggung makan. Belum lagi tamu, kawan-kawan yang datang dan pergi mencari informasi kerja. Mereka bisa menginap dua tiga hari lalu pulang. Lalu datang orang lain lagi. Silih berganti kongsi diisi orang-orang Buton yang sekedar mampir numpang makan. Makan mereka selama di kongsi menjadi tanggung jawab penghuni tetap. Tak heran kalau hutang belanja melangit. Namun orang-orang ini menganggapnya sebagai hal yang biasa. Prinsip mereka, selagi ada makan ayo makan. Kalau tak ada, mari kita cari makan bersama-sama.
Urusan makan boleh hutang Tambi. Tapi rokok? Padahal hidup orang-orang ini tak bisa dipisahkan dari rokok. Apalagi saat tak ada pekerjaan, rokok menjadi kebutuhan mutlak dan keberadaanya menjadi hal yang wajib.
“Saya boleh tahan kalau tak ada perempuan. Tapi tak merokok, membuat pusing kepala,” keluh kepala kerja suatu hari.
Waktu itu belum ada kantin. Kantin baru didirikan tiga bulan setelah orang-orang ini datang. Sementara gaji di bulan-bulan awal serba tak pasti. Semua gaji ludes untuk membayar hutang. Itu pun tak lunas. Kedatanganku seminggu sekali ke sana selalu mereka sambut dengan antusias. Aku selalu membawa rokok kegemaran mereka, Gudang Garam. Begitu juga jika aku hendak berbelanja ke Komtar, mereka selalu minta oleh-oleh rokok.
‘Jangan sekali-kali beli gudang garam palsu, beli yang buatan asli Indonesia’, nasehat Amir suatu hari.
Yang disebutnya gudang garam palsu itu tak lain rokok gudang garam buatan Malaysia atas lisensi gudang garam Indonesia. Menurut para perokok maniak itu, rasa gudang garam buatan Malaysia tak enak rasanya. Tak seperti buatan asli Indonesia. Sudah nggak nikmat, lebih mahal pula harganya. Isi 14 batang harganya Rm 5,20. Sedang yang asli, isi 16 batang hanya Rm 4,8.
Kadang toke kayu datang menemui kepala kerja. Lelaki cina berperawakan kecil kurus ini akan memberi perintah kepada kepala kerja untuk membereskan ini itu. Sebelum pulang toke akan mengeluarkan duit buat dihutangkan kepada kepala kerja. Duit ini untuk membayar cicilan kepada Tambi, dan membeli rokok. Tentu saja hutang rokok ini akan dibayar dengan memotong gaji para pekerja nanti. Nampaknya selain ikan, rokok menjadi bagian hidup orang-orang Buton ini, baru setelah itu perempuan.
Komentar
Posting Komentar