7. Pacarnya Orang Bangla

Catatan Perjalanan: Ari Handayani


Ada penghuni lain di kongsi, orang lama sebetulnya. Seorang perempuan Jawa berumur sekitar empat puluhan. Mbak –biasa perempuan ini dipanggil-- bertubuh subur dan rambutnya panjang menyentuh pinggang. Mbak juga amat ramah, suka bercanda dan menyanyi ala karaoke. Di hari Minggu saat dia tak bekerja, dari kamarnya sering terdengar musik dangdut, ditingkapi suaranya yang lumayan yahud sedang berkaraoke. Di waktu sore, sepulang dia bekerja, orang-orang sudah bergerombol di pintu kamarnya, menikmati teve. Film india dan teledrama Indonesia, menjadi tontonan favorit mereka.

    Kontena perempuan Jawa ini cukup sempit. Kamarnya langsung penuh diisi kasur busa besar dan teve 14 inci. Setiap dia ada di rumah, seorang laki-laki muda Bangladesh duduk menemaninya. Mereka menonton teve sambil makan bersama. Roti canai menjadi hidangan favorit mereka. Di saat perempuan itu bekerja di siang hari, sering laki-laki Bangla, sebutan akrab bagi Bangladesh, itu datang membawa kawan-kawannya, tiduran dan menonton teve di kamar perempuan itu.  Kata kepala kerja, laki-laki itu pacarnya.

Konon perempuan itu sudah bersuami, beranak, bahkan bercucu di kampungnya. Namun masih juga pacaran di Malaysia. Tapi tak pernah kulihat lelaki Bangla itu bermalam di situ. Dia selalu pulang ketika teve dimatikan. Semua laki-laki yang ikut menonton teve memastikan hal  itu.

    Suatu pagi kepala kerja nampak marah. Suaranya yang tinggi menggema memecah keheningan. Hari itu Minggu. Tak ada orang yang bekerja. Mereka yang balik dari bermalam di hutan, melanjutkan tidurnya di kontena masing-masing. Pekik suara kepala tentu saja mengganggu mimpi indah mereka.

    “Kalau sampai saya tahu orang Bangla itu tidur di situ, akan saya pukul dia,” teriak kepala sambil beringas.

“Kalau perlu, saya usir kamu. Saya bisa buat kamu pergi dari sini,” lagi-lagi suaranya menggema, macam singa lapar.

    “Kenapa kepala kerja menjadi rasis, dan tiba-tiba sangat membenci orang Bangla?” Kutanya hal itu kepada Amir, namun dia tak peduli.

“Sudah jangan urus orang, lebih baik tidur kalau capai,” bisik Amir.

    Namun aku tak mau tidur. Tak biasanya kepala kerja berlaku seperti itu. Kutahu dia seorang yang ramah, hangat, dan selalu berusaha menyenangkan semua orang. Kata Anshar, perempuan itu memancing kemarahan kepala sehingga dia naik pitam. Anshar menambahkan, perempuan itu punya pekerjaan ganda, melayani lelaki yang mau tidur dengannya. Tentu saja kubantah. Perempuan itu sudah tua, mana mungkin mau melayani lelaki. Apalagi tubuhnya tergolong subur. Tapi Amir justru marah-marah.

    “Kamu pikir berapa banyak orang Buton di sini? Sedikit saja. Ada orang Buton yang melihat perempuan itu masuk hotel dengan laki-laki.”

    Sulit bagiku untuk percaya. Kalau mereka tahu, kenapa dia diam saja. Lalu apa  hubungannya dengan orang Bangla yang tak berdosa itu? Mungkin saja dia salah satu kekasihnya di antara kekasihnya. Tapi mengapa justru kepala kerja mempermasalahkan orang Bangla itu dan bukan kekasihnya yang lain. Jika perempuan itu yang binal, mengapa orang Bangla itu yang diusik-usik? Aku masih bertanya-tanya. Kudengar perempuan itu mencoba meredam kemarahan kepala kerja. Dia meyakinkan kepala kerja kalau  takkan pernah membawa kekasihnya bermalam di biliknya.

    Tak hanya kepala kerja, orang Buton lainnya juga nampak anti orang Bangla. Padahal posisi mereka sama, buruh, warga kelas dua di Malaysia. Apa yang mendasari sifat rasis mereka ini.

    “Saya dulu punya awek, tapi lari dengan orang Bangla. Setelah itu saya hajar orang Bangla itu sampai hampir mampus,” cerita kepala kerja  tentang pacarnya yang selingkuh dengan orang Bangla..

    Tapi itu bukan alasan yang kuat untuk membenci sebuah ras sebesar itu. Banyak juga pacar-pacar orang Buton yang lari dengan sesama pekerja Indonesia, tetapi mereka tak semarah itu.

    Kawanku, teman sepabrik, pacarnya orang Bangla. Kalau berjalan bersama di depan umum, apalagi di depan kerumunan laki-laki Indonesia, dia akan berjalan lebih dulu. Sementara pacarnya berjalan perlahan di belakang, menjaga jarak. Takut pacarnya  dikeroyok orang, begitu alasannya.

    Beberapa kawanku sepabrik juga berpacaran dengan orang Bangla. Umumnya hubungan ini sampai ke pernikahan. Lelaki Bangla dengan senang hati datang ke Indonesia untuk menikah dengan hukum Indonesia. Lelaki Bangla dikenal setia, juga sangat murah hati dengan perempuan yang dicintainya. Apapun yang dipinta kekasihnya, akan dia kabulkan. Bahkan dia ihlas harus menyerahkan semua gajinya demi pacarnya.  Tak heran kalau banyak perempuan Indonesia memilih pacaran dengan orang Bangla ketimbang dengan lelaki Indonesia. Mungkinkah hal ini yang menimbulkan kecemburuan di kalangan lelaki Indonesia ?

    “Kalau saya tak mau dengan orang Bangla,” Kak Ida, penghuni baru di kongsi,  menyatakan pendapatnya.

“Kenapa Kak?” tanyaku ingin tahu.

“Bangla itu badannya bau, terlalu banyak makan bawang merah.”

“Tapi kan tampangnya handsome, lagian murah hati,” aku mencoba memancingnya.

“Justru dia kedekut, pelit. Apa kamu tak pernah lihat dia memasak?”

Aku menggeleng.

“Mana pernah orang itu beli ikan, daging, atau telur. Paling hanya belanja bawang merah, kentang, dan kunyit banyak-banyak. Mereka itu super hemat. Apa kamu pernah lihat orang Bangla jajan di kantin? Paling yang dipesannya teh-o ais.”

Aku mengiyakan. Memang di kantin aku jarang melihat orang Bangla membeli makanan. Paling banter mereka hanya duduk-duduk, memesan es teh sambil menonton  teve.

    Kurasa pekerja asal Bangladesh menyadari dirinya tak begitu disukai bangsa lain. Mereka cenderung menahan diri, pasif, dan tak mau menonjolkan diri jika berada di depan umum. Seorang lelaki Bangla hanya berani menyapa perempuan Indonesia jika si perempuan berjalan sendirian, tanpa kawan. Yang penting jangan sampai ada lelaki Indonesia di dekatnya. Rombongan lelaki Bangla lebih berani beraksi, berbicara riuh di depan umum. Namun tetap saja mereka bersikap pasif jika berhadapan dengan serombongan perempuan Indonesia. Pernah kawanku Yuli, yang suaminya asal Bangla, bercerita tentang abangnya, dan kawan-kawannya. Orang Bangla, kata Yuli, tidak merasa aman di negeri sendiri. Kondisi politik di negerinya yang penuh perang, huru-hara, dan  carut-marut, membuat banyak warganya yang berjenis kelamin laki-laki memilih bekerja di luar negeri, sekaligus mencari perlindungan. Profesi apapun mereka jalani. Mulai dari petugas kebersihan, tukang masak, buruh pabrik, dan kuli bangunan. Kalau bisa orang Bangla ingin menghabiskan sisa hidupnya di negeri orang. Untuk itu, mereka memilih bersikap pasif, memproteksi diri, agar tetap aman di negeri orang. Jangan sampai sudah terusir dari negeri sendiri, harus terusir pula dari negeri orang.

    Tanpa kusadari sudah beberapa minggu aku tak melihat perempuan Jawa itu. Kata Amir dia sudah pindah, diusir kerani. Kata kerani, hanya orang yang bekerja di proyek inilah yang boleh tinggal di kongsi. Sebelumnya memang pernah kulihat perempuan itu berbenah, mengatur barang-barangnya. Hari itu tak kulihat kesedihan di matanya. Dia hanya kelihatan sibuk. Sempat kami berbincang saat bertemu di tempat mandi. Dia sedang mencuci rambutnya yang panjang. Kesan ramah kutangkap dari percakapan itu.

    “Rambutku ini belum ada yang putih,” katanya mengawali perbincangan, “tapi orang selalu mengira aku sudah tua.”

“Rambut saya justru banyak uban, Mbak,” aku menjawab.

“Betul ya.. tapi tubuhmu kurus, jadi nampak muda. Tubuhku dulu juga kurus sebelum kawin,” tambahnya.

“Mbak kerja dimana ?”

“Di komtar, bantuin toke buat daging untuk hotdog dan hamburger.”

“Enak kerja di sana Mbak?”

“Ya lumayan.. di sini kalau kita mau, selalu ada kerja. Nggak kayak di kampung.”

    Aku mengakhiri percakapan itu saat dua lelaki datang hendak mandi. Ternyata itu percakapan yang terakhir dengannya.

    Beberapa hari kemudian kudengar perempuan itu ditangkap, terkena ras. Namun masih sering kulihat kekasihnya berkeliaran di sekitar situ. Kadang kujumpai dia saat aku hendak membeli tomyam di pinggir jalan, atau ketika berjalan menuju pasar. Dia selalu tersenyum ramah, menyapa. Tapi saat ada kawan sesama Bangla di sampingnya, dia pura-pura tidak melihatku. Mungkin dengan cara itu dia menjaga keberadaannya di Malaysia. Namun aku tahu dia orang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengulik Stensilan Mesum Enny Arrow Era 1980-1990-an

Di Toilet

15 Ciri-ciri Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat