8. Ras

Catatan Perjalanan: Ari Handayani


Gerah malam ini. Seolah hujan enggan turun. Kudengar suara gumaman di luar. Langkah-langkah kaki. Bisik-bisik. Dan ketukan gerendel pintu kontena. Sejak siang tadi orang-orang nampak ketakutan. Sepanjang hari mereka dibayangi hantu polisi, mobil patroli polisi, dan telpon-telpon tentang ras di kongsi ujung jalan. Selalu Sabtu dan Minggu menjadi hari yang mendebarkan.

    Pagi-pagi tetangga di kontena depan sudah bercerita. Sepulang dari membeli ikan di pasar pagi, dia dihadang mobil polisi di ujung jalan. Terpaksa uang lima puluh ringgit melayang. Lalu di siang bolong nampak mobil palang lalu lalang di jalan raya sekitar  kongsi. Membuat penjaga kantin mendadak menghentikan kegiatannya. Dia menggerendel kantin dari depan dan belakang.

    “Saya takut barang dan duit di kantin diambil. Apa kata majikan saya nanti,” alasannya. Majikannya sedang mudik ke Madura. Perempuan muda itu, yang masih keponakan pemilik kantin, ditugasi menjaga kantin.

Perempuan itu dan suaminya orang-orang kosong. Tak berapa lama orang-orang berlarian keluar dari kawasan proyek. Mereka mencari tempat bersembunyi.

    “Ada ras, ada ras,” teriak mereka.

    Aku, penjaga kantin, Kak Ida dan anaknya yang berumur 2 tahun  segera masuk ke dalam kantin. Kami kunci pintu kantin dari dalam. Belum merasa aman, kami halangi pintu dengan tabung-tabung gas.

“Agar para rela tak bisa masuk,” kata penjaga kantin itu. Dia bercerita di kantinnya dulu para rela menendang pintu kantin, memaksa masuk.

    Lama juga kami di dalam kantin beratap seng itu. Tubuh serasa dipanggang. Di luar udara tadi begitu gerah. Hanya kadang-kadang angin berhembus. Di dalam kantin jangan berharap ada angin. Atap seng benar-benar oven yang sempurna. Aku duduk menghadap sebuah celah di dinding. Dari celah itu aku bisa mengintip keluar, melihat-lihat keadaan. Aku juga mendapatkan hembusan angin. Semilir. Walau kecil namun cukup menyegarkan. Kulihat Amir dan Mimi, si kepala kerja berlari keluar kawasan. Mereka bersembunyi di hutan, di sela-sela rawa.

“Semoga tak ada ular di sana,” doaku.

Menjelang petang baru mereka kembali ke kongsi. Hari itu mereka hanya bekerja setengah hari.

    Pada malam hari kami tak bisa tenang. Hujan turun pukul delapan. Lega sedikit. Udara mulai dingin. Kulihat orang-orang sudah bersiap masuk ke dalam hutan. ‘Mau tidur,’ alasan mereka. ‘Awal sekali,’ pikirku. Mungkin takut hujan tak segera berhenti. Atau mereka mau bersembunyi. Hp pun diubah ke penanda getar. Tujuannya agar mereka bisa saling mengirim sms tanpa menarik perhatian, antara yang di hutan dengan yang berada di kongsi. Tinggal Amir dan suami Kak Ida yang punya IC itu, dua laki-laki yang bertahan di kongsi. Kudengar Amir sedang menelpon seseorang. Berbisik-bisik. Nampak penting sekali.

    Pukul sepuluh hujan berhenti. Kongsi begitu gulita. Tak seorang pun menyalakan lampu. Ras sedang berlangsung di kongsi depan, seratus lima puluh meter dari tempat kami berdiri. Di sana ada dua bangunan menjulang. Dua buah flat yang belum rampung dibangun. Yang satu masih delapan tingkat. Nampak terang karena ada lampu sorot dari atas. Yang lain sembilan tingkat, begitu gelap gulita.

    Sambil mengendap-endap aku menyaksikan peristiwa di depanku. Di antara pagar kawasan dan gundukan tanah galian. Hujan tinggal rintik-rintik. Beberapa mobil memasuki kawasan proyek itu. Orang-orang berlarian memasuki kongsi bertingkat dua di ujung jalan, mepet dengan pagar kawasan. Teriakan-teriakan. Lolongan. Bunyi benda jatuh. Lalu bayangan orang-orang yang berlarian ke atas bangunan. Samar-samar. Serba cepat. Menegakkan bulu roma. Tubuhku merinding ketakutan.

    “Cepat masuk ke dalam bilik ” Tiba-tiba Amir menarikku. Nadanya keras.

    Belum sempat aku berkata-kata dia sudah menyeretku ke dalam bilik. Dengan wajah tegang dicarinya gembok dan kunci. Lalu dia menyuruhku mengunci kontena dari dalam. Tanganku gemetar sehingga kutak mampu mengaitkan gerendel kunci.

    “Susah..nggak bisa dikunci,” kataku putus asa.

“Kamu ini bodoh..masak begitu saja tak bisa.” Dia nampak geram. Marah

    Berkali-kali kucoba namun gerendel tak bisa kupasang. Amir semakin marah. Dia lalu masuk, memberi contoh. Lalu keluar lagi. Aku mengikuti perintahnya. Sepuluh menit baru kubisa mengaitkan gerendel. Kudengar dia menggembok kontena dari luar. Aku rebahan di dalam kontena dengan hati tegang.

    Sesekali kudengar langkah-langkah kaki. Ada suara perempuan. Kurasa Kak Ida dan seseorang. Lalu pintu ditutup. Sunyi beberapa saat. Lalu suara orang berbisik-bisik. Mungkin menelpon. Perutku mual. Mau muntah. Kuraba tas kresek yang kuselipkan di sela-sela almari dan dinding kayu. Aku muntah. Berkali-kali. Badanku lemas. Kubuang tas kresek berisi muntahan di sela-sela jendela kamar Mimi yang terbuka. Aku berbaring. Lelah. Lesu. Sakit. Kurasakan luka bekas operasiku berdenyut-denyut. Aku pasrah. Andai tertangkap, mereka pasti melepaskanku kembali. Aku kan sakit. Para rela, polisi, dan petugas imigrasi tak mau menanggung risiko dengan menangkap perempuan sakit atau anak-anak. Andai ditangkap pun aku segera dilepaskan. Aku punya permit kerja, walau hanya berupa fotokopi.

    Antara tidur dan terjaga, kudengar ketukan di pintu.

“Buka pintu, sudah aman.” Suara Amir samar-samar memanggil.

    Kubuka gerendel kontena. Amir masuk. Wajahnya nampak lebih tenang. Dikaitkannya gerendel pintu kembali. Dia lalu berbaring di kamarnya. Kantuk dan lelah membayang di sekujur tubuhnya. “Nanti aku harus bekerja,” katanya, lalu tertidur pulas. Kurasa ras usai sudah.

*****

Siang itu berjalan biasa. Tak tersisa ketegangan ras semalam. Pukul empat petang seorang lelaki datang ke kantin dengan mengendarai sepeda. Wajahnya mirip  orang Jawa. Dia membeli milo ais lalu duduk menonton teve.

    “Kerja di mana Mas ?” tanyaku basa-basi.

“Itu di kongsi depan.” Jawabannya membuatku tertarik. Namun sebelum aku membuka mulut, dia sudah berkisah.

“Semalam ada ras. Saya enak-enak tidur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, teriak geng..bangun geng..bangun. Saya langsung melompat bangun, melemparkan selimut, lalu lari. Nggak sempet noleh kiri-kanan, saya loncati seng, pagar. Tembok setinggi satu setengah meter pun saya loncati. Pokoknya saya lari..lari..cari selamat.”

    Aku yang mendengarnya terperangah lalu menggelang-gelengkan kepala. Tawaku meledak. Kubayangkan wajah orang-orang itu saat rela itu berkata, ‘Geng..bangun..geng bangun.’

    “Takut ya Mas..”

“Iya..saya nggak mikir apa-apa. Pokoknya lari, itu saja.”

“Banyak yang tertangkap ?”

“Banyak.. enam puluh orang lebih. Kebanyakan orang Bangla dan Burma. Ada juga Indon, tapi dilepas kembali.”

    Lelaki itu ganti tertawa. Mungkin dia sedang membayangkan kelakuan kawan-kawannya semalam, pasti lucu.

    “Saya ingat kelakuan orang Bangla itu. Mereka berhamburan masuk ke longkang di pinggir jalan. Mungkin dikiranya longkang itu kosong, jadi mereka mau sembunyi di situ. Nggak tahunya sudah banyak orang di longkang itu. Ya akhirnya mereka tertangkap. Relanya sampai tertawa melihat kelakuan orang Bangla itu.”

    Kok sempat-sempatnya lelaki di depanku ini memperhatikan kelakuan orang Bangla sambil berlari ketakutan, pikirku. Ah, bisa jadi saat itu dia sedang bersembunyi.  Atau dia mendengar kawannya yang bercerita.

Kongsi kami memang dibatasi oleh parit yang cukup besar, memisahkan kawasan dengan jalan raya. Kongsi di depan hanya beberapa meter dari jalan raya. Pantas orang-orang yang panik itu lari ke dalam parit, bersembunyi di sana. Di musim hujan seperti sekarang, air parit tentu melimpah. Walau airnya bau dan gatal, seharusnya menjadi tempat ideal untuk bersembunyi.

    Lelaki itu masih duduk di kantin hingga orang-orang yang selesai bekerja mulai duduk di sana. Mereka bergantian mengajak lelaki itu ngobrol. Cerita tentang ras selalu menarik. Baru kutahu kalau banyak yang terciduk ras semalam, akhirnya dilepaskan setelah menunjukkan fotokopi paspor atau permit. Berdasarkan nomor paspor atau permit, petugas imigrasi bisa mengecek data orang tersebut dengan komputer. Jika paspor atau permitnya terbukti legal, mereka akan dilepas. Petugas imigrasi rupanya tidak mempermasalahkan apakah mereka mempunyai permit kerja Selangor, Kedah, atau manapun. Yang penting permit kerjanya masih berlaku.

Yang unik, banyak pemegang  fotokopi permit milik orang lain akhirnya lolos dan dilepaskan. Mana sempat petugas memperhatikan foto di dalam permit dengan wajah asli orang tersebut. Apalagi itu itu permit fotokopian, pikirku. Jadi sebetulnya aman juga menjadi pekerja ilegal asal memiliki fotokopi permit pekerja yang legal.

    “Mas punya permit ?” Tiba-tiba aku ingin tahu.

“Ada.. tapi bukan permit proyek ini. Permit saya untuk proyek di Batu Feringgi.”

“Kalau begitu kenapa lari ?” tanyaku heran.

Lha saya nggak tahu kalau permit ini boleh. Kalau ingat semalam, waduh ketar-ketir, deg-degan.”

“Tapi sekarang sudah tenangkan ? Sudah aman..”

“Iya..masih lama lagi ada ras.”

    Biasanya setelah sebuah ras berlangsung, penghuni kongsi akan bernafas lega untuk sementara. Ras berikutnya akan berlangsung beberapa bulan lagi, mungkin malah setelah proyek hampir selesai. Penghuni kongsi kami masih cemas, ras belum masuk ke dalam kongsi. Tetapi kongsi yang berada di dalam proyek kami semalam juga diras. Semua orang besi yang tertangkap akhirnya dilepas karena mempunyai permit. Kulihat wajah Mimi agak tegang.

    “Nanti malam saya dan toke mo jumpa polis sini, bagi duit keamanan,” katanya, mencoba menenangkan hati orang-orang yang gelisah.

“Walau sudah dibagi duit pun tetap diras,” seseorang nyeletuk lirih.

“Yah..tapi kan hanya formalitas. Setelah ditangkap nanti dilepas lagi. Ini toke besar yang tanggung kita.”

Mimi mencoba meyakinkan. Entah meyakinkan anak buahnya yang mayoritas orang kosong, atau dirinya sendiri, aku tak tahu pasti. Malam itu kulihat Mimi pergi keluar. Mungkin menemui polisi itu.

    Ras alias razia, adalah hantu yang paling ditakuti orang-orang kosong. Lebih menakutkan ketimbang setan, iblis, perampok, atau pembunuh. Karena ras yang melibatkan polisi, petugas imigrasi, dan pasukan rela ini mampu membenamkan mereka ke dalam lokap  -semacam penjara- selama berbulan-bulan, bahkan setahun. Ras juga memisahkan mereka dari orang-orang yang dicintai. Ras pula yang membuat mereka harus balik kampung dengan tangan hampa. Kadang, ras juga menakutkan orang-orang legal seperti diriku.

    Dalam ras semalam, istri si kepala kerja orang besi terpaksa bersembunyi dengan suaminya di hutan rawa. Padahal kutahu pasti keduanya memiliki permit kerja, orang legal. Jadi apa yang mereka takutkan ?

    Kuingat nasib dua kawanku di pabrik. Gara-gara kena ras di diskotik dan tak mampu menunjukkan paspor asli, keduanya mesti mendekam dua hari di penjara. Ketika akhirnya di lepas dan pulang ke asrama, hampir semua orang menjauhinya. Pihak pabrik bahkan melarang mereka bekerja kembali. Sebulan kemudian mereka dipulangkan dengan tidak hormat, tanpa pesangon sepeser pun. Mereka hanya menerima tiket feri Penang-Belawan.

Menurut pihak pabrik, sanksi ini dilakukan karena mereka dianggap telah melanggar peraturan pabrik, keluar dari asrama melebihi waktu yang ditentukan. Padahal  saat itu hari libur. Padahal kutahu pasti banyak buruh yang keluar malam, bahkan menginap di luar. Pabrik sebetulnya tak peduli semua itu, asal buruh jangan sampai ditangkap dan mendekam di dalam penjara.

    Aku tak takut polisi. Mungkin karena aku punya permit kerja. Lagipula mereka tak mau mencampuri urusan orang, kecuali jika kita melanggar peraturan. Polisi-polisi yang kutemui di Padang Kota, di taman-taman, sangat ramah dan banyak tersenyum. Mungkin karena mereka mengira aku adalah turis, karena kemana-mana selalu menenteng kamera. Tapi aku tak suka rela. Lelaki yang memakai baju hijau kusam ala tentara dan topi merah darah ini kerap membuatku merasa tak nyaman. Seolah di mata mereka, kami, orang-orang asing ini semua ilegal. Padahal tingkah mereka tak lebih dari petugas pamong praja atau hansip. Orang Malaysia sendiri tak hormat pada keberadaan mereka. Aku jadi teringat pengalamanku di Komtar beberapa hari lalu.

    Aku duduk di terminal bus Komtar. Belum pukul satu siang. Matahari begitu terik. Untung aku meninggalkan kongsi pagi-pagi, belum pukul sembilan. Lalu berbelanja berbagai kebutuhan sehari-hari di Mydin, toko serba ada dengan harga grosir  di Komtar. Hari itu agak aneh. Tak seperti biasa. Dimana-mana kulihat orang berbaju hijau kusam. Seperti tentara di negaraku. Mereka bergerombol di berbagai tempat. Di bawah lift menuju mall Komtar, di dekat parkiran taksi, di ujung taman, dimana-mana. Setiap kumpulan terdiri dari dua tiga orang. Mengawasi orang yang lalu-lalang, berbelanja atau sekedar cuci mata. Hari itu bukan Minggu, tak banyak orang lalu-lalang. Apalagi orang asing. Kecuali turis Eropa mungkin.

    Aku duduk di samping sepasang muda-mudi. Yang perempuan menenteng tas kresek putih berisi barang belanjaan. Dari mall mungkin, pikirku. Yang lelaki membawa kardus. Sekilas mereka nampak seperti orang Jawa. Tak berapa lama salah seorang berseragam hijau kusam itu mendekati sang lelaki.

    “Indon ya ?” tegurnya halus.

“Iya..tapi..”

“Boleh ikut saya sebentar,” si hijau kusam menarik lengan anak muda itu.

“Tapi saya ada paspor..permit.” Si anak muda mencoba menepiskan tangan si hijau. Dia hendak mengambil sesuatu dari saku belakang celananya.

“Tak perlu..awak ikut saya saja.”

“Kemana?” Si anak muda nampak ketakutan. Mereka sudah mulai berjalan menuju ke arah yang ditunjuk si hijau.

“Ke office ujung jalan.”

“Tapi..saya ada..”

“Ikut saja. Nanti awak tunjukkan di sana.”

    Mereka segera berlalu dari hadapanku. Si perempuan nampak kebingungan melihat pasangannya digelandang begitu saja. Sesekali dia berdiri, lalu duduk kembali. Gelisah. Matanya terus memandang ke arah pasangannya terakhir menghilang. Aku yang juga merasa  makhluk berstempel Indon merasa tak enak hati. Kucoba memasuki mall, mencari minum. Namun di sana lagi-lagi kulihat seorang pemuda digelandang. Sepintas dia mirip orang Buton atau Flores. Namun rela itu tak melihat ke wajahku atau wajah perempuan lainnya. Yang dicarinya orang asing, laki-laki. Cepat-cepat kuambil hpku, mengirimkan kabar ini via sms ke teman-teman di kongsi.

    Ketika akhirnya aku kembali menunggu bus, perempuan itu masih duduk kebingungan di situ. Bus ke arah Tanjung Tokong yang kutunggu tiba. Tak kuperhatikan lagi perempuan itu. Ketika bus hendak berjalan, kulihat perempuan itu masuk bergandengan tangan dengan si pemuda. Wajah sang pemuda masih tegang. Mereka berbicara, berbisik-bisik. Seolah takut didengar orang. Ketika akhirnya aku sampai di kongsi, orang-orang berkumpul di kantin. Waktu istirahat sudah lewat. Namun mereka tak juga beranjak bekerja kembali. Wajah mereka nampak tegang.

    “Kongsi di belakang sana di ras. Baru saja,” kata Amir, jarinya menunjuk pada bangunan tinggi yang agak masuk gang di seberang jalan raya..

“Aku tahu.” kataku. Sesaat terbayang kembali kepanikan di wajah gadis itu. Siang itu kami habiskan dengan berjaga-jaga, sebagian lelaki kembali bekerja. Untung hingga malam tak terjadi peristiwa apa-apa.

    Sejak ras di kongsi depan, hidup kami diliputi ketakutan. Tak ada rasa aman. Hari-hari kami habiskan dengan menunggu. Menunggu. Menunggu giliran polisi dan rela masuk ke kongsi kami. Penjagaan dan ronda diperketat. Begitu menginjak pukul sembilan malam, lampu kantin dimatikan. Hanya teve yang menyala. Dua lelaki akan tidur di kantin, di bangku-bangku panjang di luar. Biasanya yang tidur si situ si kepala kerja, Mimi, dan adiknya Malik. Sementara yang lain akan bersiap menuju hutan, pindah tidur di sana. Hanya perempuan yang tidur di dalam kongsi. Karena perempuan paling belakang diciduk dalam ras.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengulik Stensilan Mesum Enny Arrow Era 1980-1990-an

Di Toilet

15 Ciri-ciri Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat