9. Kak Rah
Catatan Perjalanan: Ari Handayani
Ketika sedang ditimpa musibah seperti mengidap suatu penyakit, kita akan tahu siapa kawan dan siapa lawan. Orang Indonesia di perantauan, walau diikat persamaan nasib, tak selalu bersatu. Melihat kawan yang ditimpa musibah, ada yang datang membantu, tapi banyak pula yang pura-pura bersimpati namun menyebarkan fitnah di belakangnya. Hal itu pernah kualami dan kumaklumi. Terkadang simpati yang tulus justru datang dari orang yang tidak kita sangka-sangka, orang yang tak begitu dekat dengan kita, namun mereka ternyata mau membantu.
Kawanku Kak Zarah, perempuan Melayu setengah baya, selalu menanyakan perkembangan penyakitku setiap kali kami berpapasan di surau.
“Hang pi bomoh kat kampong kak ja, esok balik kilang ikut akak, ” usulnya.
Dia mengajakku ke rumahnya, agar diantarnya pergi ke dukun di kampungnya. Mula-mula usulnya kutolak. Aku lebih percaya kepada pengobatan medis. Namun tak putus dia membujukku. Menjelang libur usulnya kuterima. Aku akan ikut Kak Zarah esok sepulang dari bekerja, agar bisa menumpang bus yang disediakan oleh pabrik.
Pabrik di Malaysia berkewajiban menyediakan transportasi bagi pekerjanya. Biasanya pabrik akan menyediakan bus atau van lengkap dengan sopirnya, yang mengantar jemput pekerja.
Rumah Kak Rah --panggilan akrab Kak Zahrah—cukup jauh. Dia tinggal di Kampung Sikh, Sungai Petani. Sedang pabrikku berdiri di Sebrang Prai, Penang. Untuk sampai ke rumahnya, kami harus tiga kali berganti kendaraan. Dua kali naik bus, kemudian ganti van. Total perjalanan lebih dua jam. Tak bisa kubayangkan pukul berapa Kak Rah harus berangkat dari rumah..
“Akak kurang tidur. Paling lama tidur tiga jam satu hari. Van sudah ambil akak pukul empat pagi,” begitu jawaban Kak Rah saat kutanyakan hal itu.
Jika bekerja di pagi hari, Kak Rah baru sampai di rumahnya menjelang pukul sebelas malam. Pukul dua belas malam dia tidur, dan sudah harus bangun pukul tiga pagi. Jika bekerja di malam hari, pukul empat sore Kak Rah berangkat kerja, dan sampai di rumah menjelang sebelas pagi.
Tak bisa kubayangkan Kah Rah harus menjalani rutinitas seperti itu selama lebih lima belas tahun bekerja di pabrik yang sama. Mungkin itu pula yang dialami pekerja Melayu yang satu bus denganku selama perjalanan ke Kampung Sikh. Mereka terkantuk-kantuk di dalam bus, karena kelelahan.
Belum pukul sebelas siang ketika kami sampai di Kampung Sikh. Kak Rah mengajakku berjalan melintasi kebun karet. Hawa begitu dingin, hujan turun di pagi itu. Aku begitu terpesona dengan alam di sekitarku. Jarang kutemukan suasana hutan asri di Penang atau sekitar Taman Pelangi.
“Rumah akak agak ke ujung. Buruk, rumah kampong.” Kak Rah menjelaskan tentang rumahnya sambil berjalan cepat-cepat.
“Akak dah minta rumah dari kerajaan, tapi lom turun juga. Tahun ini ke nak turun.”
Orang yang kurang mampu di Malaysia dapat mengajukan permintaan rumah murah kepada pemerintah. Pemerintah Malaysia akan memberikannya, dan orang tersebut harus menyicil rumah tersebut dengan bea ringan. Tapi mereka harus menunggu cukup lama, bisa bertahun-tahun, karena banyaknya permintaan.
“Abang Kakak kerja apa?” Aku menanyakan pekerjaan suaminya.
“Penggores getah. Tapi sekarang getah murah. Satu liter hanya seringgit dua kupang.”
“Kakak punya kebun getah ?”
“Ada. milik orang tua dulu..”
Kami tiba di rumah Kak Rah. Rumah itu sangat sederhana. Bagian depannya serupa rumah panggung, sedang bagian belakan seperti rumah bata. Bagian depan rumah menjadi ruang serba guna dan hanya dilapisi dengan tikar. Di sana ada teve, tumpukan pakaian yang belum disetrika, serta ruang untuk sembahyang. Dua anak laki-lakinya sedang tidur di sana. Menurut Kak Rah, ketiga anaknya sudah bekerja dan hidup terpisah. Kedua anak lelakinya baru semalam pulang ke rumah karena sedang libur. Sementara anak bungsunya, seorang perempuan, tidak bisa pulang karena harus bekerja di Sungai Petani. Aku diperkenalkan dengan seorang anak lelakinya yang juga bekerja di pabrik kami. Kak Rah menyuruhnya membeli roti canai, makanan favorit orang India.
“Tadi akak na beli roti canai kat kedai depan, tapi ada orang laki. Akak malu pi beli kalo ada laki.”
Orang Melayu lama, apalagi yang tinggal di kampung, memiliki adat yang kuat untuk memisahkan antara lelaki dan perempuan.
Begitu sampai di rumah, Kak Rah langsung sibuk membersihkan meja makan yang berantakan, menyapu rumah, dan mencuci piring. Dia lalu membuatkanku minuman. Walau dia menawariku minum teh, namun semua jenis minuman yang ada dia buat. Ada teh, kopi, juga milo. Mungkin ini bentuk keramahan orang Melayu yang tak kupahami, walau selama ini kawan-kawanku menyebut orang Melayu itu kedekut, pelit setengah mampus.
Begitu anaknya datang, roti canai dengan dua jenis kuah, salah satunya kuah ikan bilis atau teri, pun terhidang. Ikan canai merupakan makanan pokok keturunan India di Malaysia, terbuat dari tepung yang digoreng seperti martabak. Rasanya manis karena dicampur gula dan mentega.
Kak Rah juga menyediakan hidangan lain, makanan khas setempat yang tak pernah kujumpai di pabrik. Kami duduk di dapur, beralaskan tikar. Kak Rah memanggil kedua anak lelakinya, mengajak sarapan bersama. Usai sarapan, seorang anaknya lalu pergi keluar, sedang yang satunya tidur di depan teve.
“Hang mandi dulu, lalu tiduk kat dalam.” Kak Rah menyuruhku mandi lalu tidur di ruang tengah.
Aku memang sangat mengantuk. Aku menuju ke ruang tengah, yang menghubungkan bagian depan rumah dengan dapur. Sungguh mengenaskan. Di sana ada sebuah ranjang lengkap dengan kelambunya. Ranjang terhalang oleh almari dan gorden dari luar. Di samping tempat tidur, ada mesin cuci, juga ember dan kran yang dihubungkan dengan selang. Rupanya sehari-hari keluarga ini mandi di sini. Bau kotoran kucing merebak kemana-mana.
“Ada kucing berak kat mesin basuh. Akak tak boleh buang kotorannya, tak tahan. Biasa abang yang buang, tapi ni hari abang lom pulang.”
Kak Rah seolah-olah membaca pikiranku. Aku hanya mencuci muka lalu tidur agak menepi di ranjang. Siapa tahu nanti Kak Rah akan tidur di situ.
Aku terbangun dua jam kemudian. Kulihat Kak Rah sudah menyiapkan makan siang. Dia menyuruhku sembahyang lalu makan. Menunya luar biasa, tiga empat jenis ikan dan lauk, sayur, dan sambal. Dia nampak sedih ketika aku hanya makan sedikit.
“Ayolah makan banyak, akak sudah masak untuk kamu,” katanya membujuk.
Ini menu istimewa, pikirku, khusus Kak Rah masak untuk menjamuku. Tak banyak orang Melayu yang masak begini untuk menghormati tamu. Tak berapa lama suami Kak Rah datang, membawa pisang dan jeruk. Setelah makan, aku diantar Kak Rah dan anak sulungnya ke bomoh kampung. Dia membawa daun sirih, air mineral satu botol, dan bedak dingin.
Kami bertiga naik mobil Kak Rah. Hebat juga pikirku, di Malaysia orang miskin punya motor dan mobil. Namun mobil dan motor bukan ukuran barang mewah di sini. Mudah untuk mendapatkannya, lewat kredit yang bisa diangsur selama belasan tahun. Alat transportasi umum di Malaysia sangat kurang, terutama yang di kampung-kampung seperti di tempat Kak Rah. Rupanya pemerintah Malaysia menyadari hal itu, sehingga mempermudah warganya untuk mendapatkan mobil dan motor.
Rumah bomoh itu agak jauh, di kampung lain. Mobil memasuki jalan kampung dengan sawah, kebun, dan sungai di kanan-kiri jalan. Aku jadi teringat dengan pemandangan alam desa-desa di Indonesia. Kami lalu memasuki pelataran rumah yang luas. Perempuan Melayu yang menjadi bomoh itu tinggal di sana. Aku dan Kak Rah memasuki sebuah rumah yang sangat luas, tak banyak barang di sana. Rumah orang kaya khas di kampung, kata Kak Rah. Bomoh itu keluar, melihat lukaku, membaca doa-doa sementara tangannya memegang punggungku.
“Tak ada nat kat sini,” katanya.
Tentu saja tak ada, pikirku, ini tumor. Bomoh itu membaca ayat-ayat Al-Qur’an, memantrai air minum dan bedak dingin. Dia memerintahkanku untuk meminum air itu, dan mencampur bedak dingin dengan air, sebelum membubuhkannya ke benjolan di perutku.
Kak Rah mengeluarkan uang sepuluh ringgit dari dompetnya, dan memintaku uang lima kupang, lima puluh sen. Uang itu diberikannya kepada bomoh itu. Sebetulnya aku membawa cukup uang, tapi mengapa Kak Rah mengeluarkan uang dari dompetnya sendiri? Perempuan Melayu itu amat pemurah, dan dia benar-benar ingin menolongku. Ia tak mau menerima uang pemberianku.
Sepulang dari rumah bomoh, Kak Rah memaksaku bermalam di rumahnya. . Namun aku menolak. Aku ingin pulang, takut semakin merepotkan Kak Rah dan keluarganya.
“Rumah akak buruk, hang tak senang ke tinggal kat sini?”
Kak Rah nampak kecewa. Dia ingin menahanku, menjamuku sehari saja. Tapi aku benar-benar ingin pulang.
“Bukan macam tu Kak Rah, aku tak ingin merepotkan orang. Perutku sering sakit.”
“Hang ada ongkos bas ke?” Seolah dia tak percaya aku punya cukup uang. Aku mengangguk meyakinkannya. Akhirnya diantarnya aku menuju halte, untung bus segera datang. Kugenggam tangannya erat-erat sebelum naik ke atas bus.
Komentar
Posting Komentar