4. Orang Melayu

Catatan Perjalanan: Ari Handayani


Sejak hari pertama bekerja, aku sudah terpesona melihat perilaku pekerja Melayu yang menghabiskan waktu rehatnya di loker. Loker adalah tempat kami menyimpan barang pribadi seperti telpon genggam, makanan, jaket, sabun, sikat gigi dan sebagainya. Setiap pekerja mendapat jatah sebuah loker. Pabrik melarang pekerja membawa semua barangnya ke dalam kilang, seperti telpon genggam, tasm dan makanan. Barang yang boleh kami bawa hanyalah bolpen, tisyu, dompet dan  kunci.

    Begitu membuka loker, orang Melayu akan mengambil cermin. Mula-mula mereka bercermin, mematut diri, lalu memoleskan bedak dan lipstik. Tak puas rasanya  kalau bedak tak nampak tebal dan lipstik tak merah menyala. Apalagi bagi gadis Melayu. Make up yang tebal seolah menebalkan kepercayaan diri. “Kalau tak lawa cam mana nak ditengok pejantan,” alasannya. Menurut mereka, hanya gadis cantik saja yang menarik perhatian lelaki. Cantik ala mereka adalah yang tebal bedaknya dan merah bibirnya.

    Bukan hanya di loker, kebiasaan mematut diri juga dibawa ke dalam surau. Selepas melakukan shalat, acara berhias menjadi ritual wajib. Mula-mula mereka akan  mengoleskan krim berwarna putih ke muka, lalu menabur bedak, dan memulas bibir dengan lipstik. Setelah itu giliran kaki dan tangan dioles dengan losyen, baru memakai tudung. Acara berdandan kerap lebih lama ketimbang ritual shalatnya. Tak heran kalau acara ke surau yang seharusnya butuh waktu sepuluh menit bisa molor sampai setengah jam, apalagi saat shalat Subuh. Selain berhias, mereka juga mengulat, kadang duduk, tak jarang sambil tidur.

    Awalnya, banyak pekerja Indonesia yang mencemooh perilaku pekerja Melayu ini, termasuk kawan-kawanku satu asrama. Tapi tak berapa lama banyak juga pekerja Indonesia yang ikut-ikutan, serasa hidup tak lengkap tanpa ritual berdandan. Cermin kemudian menjadi alat wajib yang disimpan bersama badge dan tanda sertifikat. Di sela-sela kerja, mematut diri, bercermin, menjadi ritual yang mengasyikkan. Membenahi tudunglah, menambah lipstik yang hampir habislah, atau sekedar memencet jerawat, begitu alasan mereka yang mencari-cari cermin. Ketika Flextronics mengambil alih Solectron, kerap satpam atau manajer quality assurance yang sedang audit mengadakan pemeriksaan terhadap barang pekerja. Mereka lalu menyita kaca, lipstik, dan perhiasan pekerja.  Namun masih ada saja cermin yang lolos. Pekerja lalu menggunakan cermin ini secara sembunyi-sembunyi.

    Dulu di dalam benakku melekat kesan bahwa buruh pabrik itu seragamnya lusuh, bau keringat, dan muka kusam karena kelelahan. Hidup mereka kupikir jauh dari hingar bingar kemewahan. Aku pernah melihat para buruh keluar dari sebuah pabrik makanan di Pulau Gadung, Jakarta timur. Walau tidak mengenakan seragam, tapi baju mereka jauh dari kesan mewah. Begitu sederhana penampilan mereka, alas kaki mereka hanya dibalut sepatu tua dan sandal seadanya. Waktu itu aku nongkrong di sebuah warung makan di pinggir jalan, bertepatan dengan saat buruh pabrik itu keluar untuk istirahat siang. Para buruh pun menyerbu warung. Ada yang membeli gorengan, roti, atau sekedar es teh. Tak ada yang menyantap nasi. Rupanya mereka berhemat. Riuh sekali gelak dan canda mereka, menceritakan kehidupan mereka hari itu. Misalnya hendak makan apa malam nanti, kapan gaji keluar, sabun yang habis, hutang yang belum dibayar atau tinggal berapa uang mereka. Canda khas masyarakat kelas bawah.

    Di Solectron, imaji buruh ini tak kutemui. Kawan-kawanku orang Melayu banyak yang memakai baju kurung untuk bekerja. Mulanya kupikir aneh. Apakah Malaysia begitu terpencil sehingga banyak warganya tak bisa meninggalkan kebiasaan di kampungnya untuk mengenakan baju kurung? Ketika aku berjalan-jalan di mall, shopping centre, jarang kutemuka orang Melayu mengenakan baju kurung. Mereka selalu mengenakan jeans atau gaun seperti kebanyakan orang modern. Namun mengapa di pabrik yang kerjanya jelas-jelas butuh gerakan gesit, malah mereka memakai baju kurung? Apa yang sebenarnya terjadi?

    Pernah kutanyakan hal ini kepada Ida, kawan Melayuku beberapa tahun setelah aku bekerja.

Da, napa awak selalu pakai baju kurung? Tak punya seluar panjang ke?

Ida tersenyum.

Ida tada seluar panjang. Tak biasa,” jawabnya.

Pernah pula kutanyakan hal ini kepada Iyan, juga kawan Melayu yang pernah bekerja dalam satu modul denganku.

“Iyan, napa orang Melayu senang pakai baju kurung ?”

    “Baju kurung tuh macam baju pesta buat orang Melayu, Kak. Biasa dipakai pada acara formal macam pesta kawin atau  pi kat keluarga besar.”

“Jadi napa orang pi kilang senang pakai baju kurung?”

“Ya..agar nampak lawa, elok kena tengok

“Tapi pi kilang kan bukan pi kenduri atau pesta. Nih  pi keja,” bantahku.

“Ya kerna pi keja tulah kena pakai baju lawa, biar orang boleh tengok.”

Aku mengangguk-angguk, mencoba memahami kata-kata Iyan. Bekerja, mungkin itulah dunia sosial paling luas yang dikenal kawan-kawan Melayuku. Hampir seluruh hidup mereka tersita untuk bekerja seumur hidupnya. Setelah dunia kerja, baru keluarga. Kulihat Kak Zahara yang menghabiskan lebih dua puluh lima tahun hidupnya dengan bekerja di pabrik. Begitu pula dengan Emak, perempuan berumur lima puluh enam tahun yang bekerja di bagian belakang mengurusi board. Mereka terpaksa bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di pabrik, bergaul dengan sesama pekerja. Di pabriklah mereka bisa beraktualisasi, menunjukkan dirinya, baik lewat pakaian atau perhiasan yang dikenakannya. Banyak di antara kawan-kawan Melayuku bertemu dengan jodohnya, suami atau istri, di lingkungan pabrik. Maka tampil lawa, menarik, dengan baju bagus atau perhiasan emas memenuhi tubuh seolah menjadi kewajiban.

Suatu hari kulihat Kak Jamiah melepas smock dan tudungnya di surau. Leader senior itu hendak shalat. Amboi, besar sangat kalung emas di lehernya. Tak hanya satu tapi tiga untai kalung. Kawan-kawan yang mengenal dan melihatnya pun langsung berkomentar. “Amboi..lawa hang punya rantai, Jami’ah,” kata Kak Rah.

Kak Jamiah, kepala kerja pindahan Plant 5 itu tersenyum. “Dah lama ni Rah, abang yang bagi.” Kulihat ada kebanggaan di wajahnya.

    Kak Anna, leader pindahan Plant 3 pun senang mengenakan perhiasan dan baju kurung mahal. Tubuhnya yang subur seolah menjadi etalase emas berjalan. Tangannya dipenuhi gelang emas dan batu, jemarinya baik kiri dan kanan penuh cincin emas, begitu juga di lehernya menggantung sepasang kalung emas. Baju kurung Kak  Anna pun tak kalah indah, begitu juga dengan tudungnya yang dipenuhi batu mahal. Di pabriklah orang seperti Kak Anna dan Kak Jamiah bisa beraktualisasi, menunjukkan seberapa makmur mereka, mendapat pujian dan penghargaan dari kawan-kawan.

    Ada tiga hal utama yang digemari perempuan Melayu yang bekerja di pabrik kami. Mereka gemar memakai baju kurung dan tudung bagus, mereka gemar memakai kosmetik, termasuk parfum, dan mereka gemar memakai perhiasan emas. Ria, kawanku asal Medan yang baru pindah dari Plant 3 dapat membaca dan memanfaatkan situasi ini. Dia menjadi agen Avon, merk kosmetik yang cukup ngetop di Malaysia. Pelanggannya sebagian orang Melayu dan sisanya kawan-kawan asal Indonesia. Ketika ada promosi atau diskon, jualan Ria laris bak pisang goreng. Perempuan Melayu tertarik untuk membeli pakaian dalam, kosmetik, dan parfum.

    Belakangan pekerja Indonesia ketularan pola hidup konsumtif ini juga. Gaji yang lumayan membuat kami lebih leluasa membeli baju, perhiasan, hp atau kosmetik. Parfum menjadi barang wajib. Setiap ada diskon dari Avon, dijamin bra seharga dua puluh ringgitan akan laris manis dipesan teman-teman. Untuk membeli barang yang mahal seperti kalung, gelang atau cincin emas, kawan-kawan mengadakan kut, semacam arisan. Dengan begitu harga barang senilai delapan ratus ringgit menjadi tak terasa mahal. Kawan serumahku, Endang, kerap menjadi bandar kut. Untungnya lumayan, katanya, bisa untuk makan dua bulan bahkan lebih. Kalau dihitung, perhiasan emas yang didapat lewat kut satu setengah kali lebih mahal ketimbang jika dibeli kontan di toko emas.

    Tak hanya latah berdandan, kawan-kawanku juga latah memakai baju kurung. “Enak dipakai, hangat di badan,” alasan Yani ketika suatu hari kutanya mengapa dia menjahitkan baju kurung.

Prinsip ‘dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung’ nampaknya berlaku juga. Apalagi suasana di dalam pabrik, khususnya di bagian pencetakan pcb (print circuit board) sangat dingin. Bisa membeku badan kalau tak memakai berlapis-lapis baju. Suhu dingin diperlukan agar solder tidak meleleh, sehingga komponen dapat melekat di atasnya. Kalau kuamati, setidaknya seorang kawan Indonesia memiliki dua tiga pasang baju kurung. Bahkan setiap modul memiliki seragam baju kurung sendiri. Namun mereka tak setiap hari mengenakan baju kurung, tapi bergantian dengan sepotong celana jeans dan kaos oblong.

    Di waktu istirahat, ruang loker tak ubahnya pasar tiban. Di sana penuh orang sedang bertransaksi. Ada yang berjual beli kain bahan baju kurung, tudung, atau asesoris perempuan.

Setiap berangkat bekerja, kawanku Sari akan membawa tumpukan brosur berisi aneka tas, baju, asesoris perempuan. Brosur dari berbagai merk dagang ini selalu menjadi rebutan teman-teman ketika istirahat atau menjelang masuk kerja. Gaya hidup konsumtif terbina dari sini. Menjelang hari gajian atau lebaran, Sari, Ria, atau Kak Ana, dipastikan akan dibanjiri order. Kadang kawanku Yani mengeluh, baru terima gaji tiga hari sudah habis untuk membayar hutang membeli baju, ini, dan itu. Tapi selama ada kerja, mereka tak peduli akan kehabisan uang. Mereka selalu bisa berharap pada gaji yang dibayar dua minggu sekali untuk membayar hutang. Mungkin itu yang membedakan buruh di Malaysia dan tanah air. Kami yakin akan terus menerima gaji selama masih dikontrak untuk bekerja. Bencana phk rasanya jauh di seberang lautan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengulik Stensilan Mesum Enny Arrow Era 1980-1990-an

Di Toilet

15 Ciri-ciri Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat