Skenario Rekayasa Kasus Novel Baswedan Bertujuan Benturkan KPK-Polri?
Oleh: Teddy Bayupatti
Nama Kapolri baru, Idham Azis rupanya begitu menakutkan bagi Novel Baswedan beserta buzzernya dalam hal ini @PartaiSocmed. Pantas saja bbrp hari viral surat keterangan terkait kasus penyiraman Novel di Singapura. Idham Azis adalah Ketua tim teknis yg akan menyimpulkan temuan tim TPF kasus Novel. Paling cepat akhir bulan ini Idham akan membeberkan hasil temuannya yg akan menggemparkan seluruh Indonesia.
Sebelumnya netizen bert-anya² kenapa hanya bagian mata yg rusak parah bukan wajahnya. Kepanikan Novel beserta buzzernya malah mengkonfirmasi kalau ada kejanggalan yg mengarah pada rekayasa dalam kasusnya.
Salah satu pengguna media sosial bernama Richard dengan akun @AnatolyKarvov membongkar kasus Novel dari 3 kemungkinan. Antara lain apakah kasusnya accidental, murni kriminal atau rekayasa.
1. Kilas balik 2 th sebelum kejadian (2015). Dini hari,1 mei 2015, novel ditangkap @BareskrimPolri terkait kasus penganiayaan hingga tewas terhadap tersangka pencurian burung pada tahun 2004. Saat itu Novel menjabat sebagai Kasatreskrim Polres Bengkulu.
2. Kasus ini berawal ketika Novel Baswedan dijadikan tersangka pada 1 Oktober 2012 oleh Polres Bengkulu pasca ia memimpin penggeledahan Gedung Korps Lalu Lintas Polri terkait kasus korupsi simulator SIM, Irjen Djoko Susilo (saat itu sbg Kepala Korps Lalu Lintas Mabes Polri).
3. Kapolri saat itu adalah Jenderal Badrodin Haiti. Kemudian diinterogasi di bareskrim lalu dibawa ke mako brimob. Jam 16.00 wib dibawa ke Bengkulu utk mnjalani rekonstruksi tanpa didampingi penasihat hukum. Penasihat hukum baru ada saat ke jakarta tgl 2 Mei 2015 jam 16.00 wib.
4. Saat Novel sedang berada di Bengkulu (2 mei 2015), di Jakarta sejumlah pimpinan KPK merespons negatif langkah Polri. Bahkan, dua pimpinan KPK menegaskan bakal mengundurkan diri jika polisi tetap menahan Novel Baswedan.
5. Tgl 2 Mei 2015, deponering dari @jokowi. Desakan pimpinan KPK serta perintah Presiden membuat Kapolri tak bisa melanjutkan penahanan Novel. Dalam pertemuan Kapolri dengan pimpinan KPK pada hari itu akhirnya dicapai kesepakatan utk menanguhkan penahanan novel.
6. "Kami sepakati untuk (Novel) diserahkan ke pimpinan KPK. Sudah ada jaminan dari para pimpinan KPK karenanya (penahanan) ditangguhkan," kata Kapolri Jenderal Badrodin di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (2 Mei 2015).
7. Terkait penangkapan Novel dirumahnya, Badrodin mengatakan, kasus Novel harus segera diselesaikan mengingat pada 2016, kasus tsb masuk masa kedaluarsa. Menurutnya, dalam kasusnya, Novel sudah ditangani. Namun, Novel hanya dikenai sanksi disiplin, bukan sanksi pidana.
8. "Belakangan pelapornya komplain dan minta laporan kasus agar diselesaikan. Tadi kami sepakati akan diproses sampai pengadilan. Silakan pengadilan yg putuskan bersalah atau tidak. Kelengkapan berkas akan kami koordinasikan dengan pimpinan KPK," kata Badrodin.
9. Kilas balik era @SBYudhoyono : Presiden SBY memerintahkan Kapolri saat itu Jenderal Timur Pradopo untuk menghentikan kasus demi meredakan ketegangan antara Polri dan KPK. Meski begitu, kasus Novel tak pernah benar-benar ditutup Polri.
10. Terkait penetapan tersangka novel, akhirnya melalui Kejagung, 22 Feb 2016 memutuskan menghentikan penuntutan kasus dugaan penganiayaan yg menjerat Novel. Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu meneken surat keterangan penghentian penuntutan (SKP2) Nomor B-03/N.7.10/EP.1/02/2016.
11. Novel dan kasus internal @KPK_RI sebelum tragedi penyiraman air keras : Novel terlibat persoalan di internal KPK. Novel mewakili Wadah Pegawai KPK menolak rencana agar Kasatgas diangkat langsung dari anggota Polri yg belum pernah bertugas di KPK sebelumnya.
12. SP 2 diterbitkan untuk Novel dalam kapasitas sebagai Ketua Wadah Pegawai (WP) setelah dia keberatan dengan keinginan Direktur Penyidikan KPK Aris Budiman terkait rekrutmen penyidik.
13. Tgl 11 April 2017, Novel disiram air keras : Tim Labfor Polri telah mengetahui jenis cairan yg digunakan pelaku untuk menyerang penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Cairan itu adalah H2SO4 atau asam sulfat tdk pekat.
14. Bagaimanapun juga kita mengutuk sgala teror kpd siapapun dlm bentuk apapun. Terlepas dari semua itu saya mengajak semua netizen menjadi Sherlock Holmes, melihat peristiwa tsb dari berbagai sudut pandang dalam menganalisanya. Sehingga tidak trjadi bias interpretasinya.
15. Pertanyaan yg muncul : Mengapa penjahat melakukan aksinya menggunakan air keras yg tdk memberikan efek destruktif pada kulit wajah? Apa motif penjahat menggunakan air keras yg tdk keras tsb? Apakah terkait dg kasus yg ditangani Novel atau bukan? Ataukah ada skenario lain?
16. Pada suatu terjadinya laporan kasus pidana, bisa krn murni accidental, murni kriminal atau rekayasa. Utk kasus Novel, bila dilihat dari laporan pencari fakta bisa kita katakan adalah bukan accidental (faktor ketidaksengajaan), krn ada pelaku yg menyiramkan air keras.
17. Jadi masih ada 2 kemungkinan, apakah murni kriminal ataukah rekayasa? Sebelum membahas analisa dari dua kemungkinan diatas, saya mencoba menganalisa dari sudut pandang pelaku dan korban serta berbagai faktor yg kemungkinan mempengaruhinya.
18. Dari sudut pelaku: Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal pelaku penyiraman diduga tak bertujuan membunuh Novel. Dugaan itu mengemuka karena cairan yg digunakan untuk menyiram wajah Novel tidak mematikan, namun membuat korbannya kesakitan.
19. Dari subyek pelaku, masih memungkinkan ada 2 faktor yaitu murni kriminal atau rekayasa. Muncul pertanyaan mngapa masih ada dugaan rekayasa, padahal menyebabkan kerusakan mata Novel? Itu fitnah sadis?!! Ini menarik utk didiskusikan. Saya break sbentar, nanti saya lanjut
20. Sekarang kita lihat cctv detik2 penyerangan Novel. Secanggih apapun rekayasa digital akan sulit melihat secara detail pelaku penyiraman. Cctv tdk jelas agak gelap. Shg pihak kepolisian hanya bisa mengandalkan keterangan saksi di lokasi kejadian.
21. Saksi saat kejadian mengatakan Novel mengerang kesakitan bahkan menabrak pohon shg dahinya terbentur dan memar. Ditolong oleh warga membasuh muka ditempat wudhu masjid.
22. Dari ke2 video di atas, saat kejadian sampai Novel membasuh wajah ditempat wudhu memerlukan waktu sekitar 1 menit, apalagi sempat menabrak pohoh. Novel sudah mengerang kesakitan trbakar, jika asam sulfat kontak dg kulit bebrapa detik-menit akan berefek serius ke kulit.
23. Pertolongan pertama Novel membasuh menggunakan air mengalir sudah tepat. Air mengalir akan mendinginkan. Jangan direndam. Air memiliki massa jenis yg lebih rendah dan cenderung mengapung diatas asam sulfat. Sehingga akan dapat mendidih dan bereaksi dengan keras.
24. Sifat² asam sulfat yg korosif diperburuk oleh reaksi eksotermiknya dengan air. Luka bakar akibat asam sulfat berpotensi lebih buruk daripada luka bakar akibat asam kuat lainnya.
25. Kerusakan jaringan dehidrasi dan kerusakan termal sekunder akibat pelepasan panas oleh reaksi asam sulfat dengan air. Luka bakar krn air keras ini masuk grade 3, merusak jaringan di bawah kulit. Apalagi jika mengenai kulit wajah yg struktur kulitnya lebih tipis dan lembut.
26. Kembali ke subyek pelaku. Mengapa pelaku menggunakan H2SO4 yg sudah diperhitungkan tdk berdampak serius kpd kulit wajah? Padahal sangat sulit utk menentukan pada pH berapa asam sulfat yg tdak sampai merusak jaringan kulit wajah. Motifnya apa kok sampai teliti perhitungannya?
27. Asumsi dugaan terkait kasus Novel menjadi bola liar, seolah hanya dikaitkan dg berbagai kasus yg ditangani oleh Novel. Berbagai media, TGPF, bahkan Novel sendiri mengkonstruksi opini dikaitkan kasus yg ditanganinya. Dasarnya apa? Kecurigaan imajinatif? Makanya trjadi bias.
28. Opini sepihak yg berkembang tersebut scara tdk langsung akan mendegradasi keprcayaan publik thd aparat kepolisian dalam penanganannya. Apalagi ada statemen Novel yg menduga keterlibatan jendral polisi saat diwawancarai Time 10 Juni 2017. Dasarnya "Saya Mendapat Informasi" Article
29. Apa benar kepolisian tdak serius menanganinya? Beberapa hari pasca penyerangan, kepolisian memeriksa 3 orang yg ditengarai berada di skitar rumah Novel sebelum dan setelah kejadian. Namun kepolisian tdak menemukan bukti, krn ketiga org tsb tdak berada di lokasi saat kejadian.
30. Terkait dugaan Novel adanya keterlibatan oknum Jenderal Polisi, Kapolri saat itu (Tito Karnavian) memberikan tanggapan : "Kepolisian tdak akan over reaktif, akan mengirim tim utk menanyakan apakah itu fakta yg ada bukti ataukah hanya isu kecurigaan."
31. Dari aspek pelaku, jika akan melakukan kejahatan pastinya akan mengikuti instruksi dari sang pemberi perintah. Apakah kriminal murni ataukah sbg suatu rekayasa, kedua motif tsb masih memungkinkan. Saya yakin netizen akan mengatakan tuduhan rekayasa adalah fitnah dan sadis.
32. Demikian juga saya akan mengatakan, menuduh Jenderal Polisi sbg otk penyiraman air keras adalah fitnah dan sadis. Krn apa? Semua opini yg dibangun adalah menurut analisa kecurigaan. Maka, kecurigaan adanya rekayasa masih memungkinkan. Jangan ngegas dulu, kalau mau komen.
33. Dari subyek pelaku, motif kriminal dikaitkan dengan kasus KPK yg ditangani oleh Novel sudah banyak kita temukan. Bahkan TPF Polri (17 Juli 2019) menduga terkait 6 kasus yg ditangani Novel. Dasar analisanya apa? Hanya berdasarkan potensi risiko.
34. Analisis TPF Polri yg hanya berdasarka potensi risiko tanpa adanya bukti dan fakta kausalitas masih bisa diperdebatkan. Karena masih ada aspek subyektifitas shg akan terjadi bias informasi.
35. Alasan mengapa masih ada Kecurigaan Rekayasa dlm kasus Novel. Rekayasa itu bisa dari internal ataupun eksternal. Suatau rekayasa itu bisa mulus dan juga tidak mulus. Sbg ilustrasi, pertunjukan akrobat diatas panggung sudah dipertimbangkan safetynya, bisa trjadi kecelakaan.
36. Bebrapa hal yg melatarbelakangi kecurigaan "rekayasa penyiraman air keras Novel" (sayangnya gagal, krn berakibat kpd kerusakan mata). a. Pemakaian air keras yg tidak keras, aman bagi kulit wajah. Tapi sayangnya sang sutradara tdak mempertimbangkan dampak buruk bagi mata.
37.b. Kejadian penyiraman air keras Novel tgl 11 April 2017, beberapa hari sebelum pilkada DKI putaran kedua tgl 19 April 2017. Situasi tensi politik sedang tinggi. b. Wacana Revisi UU KPK yg bergulir di era Jokowi sejak tahun 2015, 2016, dan diguliran kembali maret 2017.
38.d. Novel dalam kapasitas sbg Ketua Wadah Pegawai (WP) keberatan dengan keinginan Direktur Penyidikan KPK Aris Budiman terkait rekrutmen penyidik. Ada apa dan mengapa Novel menolak?Shg diberi SP2 tgl 21 maret 2017. Article
39. Statemen Novel yg mendapat informasi bahwa ada oknum Jenderal Polisi sbg otak teror kpd dirinya, semakin memperkuat dugaan ada konspirasi besar utk membenturkan KPK dg Polri dan akhirnya pemerintah. Disini dibutuhkan adanya sosok heroik representasi KPK yg terdzalimi.
40. Maka saya mencurigai mereka menyusun skenario playing victim dengan mempertimbangkan aspek keamanan jiwa bagi sang aktor. Krn tujuannya utk publisitas politik, bukan yg lain. Maka mereka memutuskan menggunakan asam sulfat "yg jinak" Tentunya setelah melalui berbagai uji.
41. Dalam prakteknya ternyata diluar skenario. Asam keras yg sudah dijinakkan tadi walau tidak memberikan efek destruktif kpd kulit wajah, kelopak mata dan bulu mata, tapi ternyata masih berefek serius kpd bola mata. Nasi sudah menjadi bubur. Show must go on. #SandiwaraFatal Article
42. Beberapa kejanggalan dari sikap korban : a. Mengeluarkan statemen dugaan keterlibatan jenderal polisi saat diwawancarai majalah Time tgl 10 Juni 2017 di Singapura. Tetapi mengapa Novel belum bersedia diperiksa penyidik Polri ? Article
43.b. Novel sampai awal Agustus 2017 belum mau diperikas penyidik Polri. Padahal kejadian tgl 11 April 2017. Tetapi mengapa Novel mau diwawancarai majalah Time?
44.c. Novel akhirnya bersedia diperiksa oleh penyidik Polri pada tgl 14 Agustus 2017. Saat diperiksa Novel tdak mau menyebutkan nama Jenderal Polisi yg diduga sbg aktor teror kpd dirinya.
45. Jadi kesimpulannya : a. Kasus novel bisa dikaitkan dg potensi penanganan kasus oleh KPK. b. Kasus Novel juga masih bisa dikaitkan adanya suatu strategi playing Victim, tetapi terjadi hal di luar perhitungan skenarionya, krn berakibat pada kesehatan matanya. The End
Terkait viral tweet @PartaiSocmed yg mempublish resume medis Novel Baswedan dari klinik mata di Singapura yg janggal pada penulisan tanggal, tertulis tahun 2008. Itu menjadi tugas @BareskrimPolri @CCICPolri @DivHumas_Polri utk melakukan investigasi.
Agar tidak terus menerus dijadikan fitnah, terpaksa kami posting surat keterangan RS tempat Novel Baswedan dirawat di Singapura.
Semoga setelah ini tak ada fitnah lagi, dan yg telah terlanjur ikut menyebarluaskan fitnah mau berbesar hati minta maaf. Salam. Article
Semoga Kapolri yg baru bisa menindak tegas Novel Baswedan beserta siapapun yg terlibat jika ketahuan membuat rekayasa yg bertujuan menjatuhkan nama Polri. Kita bisa tak suka dengan lembaga kepolisian yg korup. Tapi, KPK juga bukan lembaga suci dan cara Novel beserta komplotannya yg sengaja menjatuhkan nama kepolisian lewat kasus ini sungguh keji dan tak termaafkan.
Begitulah kura-kura.
Komentar
Posting Komentar