Tukang Somay
Cerpen Anggie D. Widowati
Alif berlari kencang di teras rumah dan menubrukku. Aku sedang mengeluarkan cucian dari kamar mandi. Ember itu lepas dari tanganku dan cucian itu bertebaran di lantai. Alif bersembunyi di dasterku ketakutan, sambil mengintip ke arah deretan rumah petak itu.
"Ada apa Nak, kok kamu ketakutan?"
"Somay, somay, somay..."
Anakku yang masih lima tahun itu dengan telunjuknya menunjuk ke arah kontrakan dimana seorang penghuni baru yang berprofesi sebagai tukang somay tinggal. Kamar paling ujung, dari 10 deret rumah petak, sederetan dengan petakanku.
Aku melihat ke arah Alif menunjuk, tak ada siapa-siapa, hanya deretan kamar lusuh yang catnya sudah banyak mengelupas. Pada terasnya bergelantungan baju-baju yang dijemur. Beberapa pengontak juga menaruh barang-barang mereka di teras.
"Makanya jangan masuk ke situ," kataku sambil memasukkan cucian ke ember.
"Lihat badut saja yuk," kataku pada Alif.
Lalu aku ajak Alif masuk dan menyetel video lagu anak-anak untuknya.
"Nih nonton badut, jangan main keluar lagi yaa," kataku.
Lalu menyodorinya tempe goreng, dan anak itu menyimak lagu-lagu itu sambil duduk di kasur busa tipis di depan televisi.
Aku sudah tinggal di kontrakan itu selama 7 tahun, sebelum Alif lahir. Yaitu setelah menikah dengan Banu. Kami menyewa rumah petak itu, karena murah dan bersih. Semua penghuninya seperti saudara. Bahkan ada yang sampai punya cucu tetap tinggal di situ.
Pak Haji Wakir memang baik. Saat semua kontrakan menaikkan harga, dia bertahan dengan harga yang sama. Tak heran bila semua penghuni kontrakan betah di rumah petak 20 pintu dengan koridor yang saling berhadapan itu.
Tidak ada anak kecil, hanya Alif yang belum sekolah. Kebanyakan anak-anak sudah SD, SMP bahkan SMA. Tak heran bila pagi hari Alif tidak punya teman, karena anak-anak tetangga belum pulang sekolah.
Alif biasa masuk ke petakan-petakan itu. Semua seperti keluarga, hingga Alif bebas kesana kemari masuk ke petakan tetangga. Makanya aku heran kenapa Alif ketakutan pagi itu. Rupanya dia masuk kontrakan orang baru itu. Dan pasangan yang belum punya anak itu tidak suka dengan anak kecil.
Menurutku, pasangan itu memang agak aneh. Tidak mau kenal dengan sesama petakan. Sebelum suamiku berangkat kerja ke proyek, aku bilang kepadanya.
"Pak, tukang somay itu dagang beneran atau enggak sih, kok tiap hari nongkrong saja di rumah," kataku.
"Ya mungkin lagi libur Bune," kata suamiku sambil menenteng cangkulnya.
"Libur kok tiap hari," jawabku mengantarkannya ke pintu.
"Sss, nggak boleh ngerasani orang, nggak baik."
"Anak kita Pak, kemarin ketakutan, sepertinya diusir dari petakan mereka."
"Makanya Alif jangan boleh masuk-masuk ke situ."
"Dia kan biasanya bebas masuk petakan siapa saja Pak."
"Iyaa, tapi jangan di kontrakan tukang somay itu," tegas suamiku.
Suamiku bekerja sebagai buruh galian. Kalau lagi ramai, selalu saja ada kerjaan setiap hari. Kadang ke Jakarta Timur, Tengerang, Jakarta Barat, kadang ke Bekasi, tergantung proyek yang sedang mengadakan penggalian. Kalau lokasi jauh, subuh-subuh sudah berangkat, pulangnya malam.
"Itu istri pedagang somay, nggak pernah keluar, apa enggak bosan di rumah?" kata Bu Wanto saat tukang sayur datang di petakan.
Aku diam saja mendengarkan para istri itu, hanya ingat kata suamiku tak boleh menggosip.
"Suaminya tak pernah jualan, apa sakit yaa?" Bu Tono menyahut.
"Nggak laku mungkin," kata Bu Wanto.
"Ya gimana somay nggak enak gitu, mana laku," celetuk Bu Rudy.
"Nggak enak gimana?" tanya Bu Wanto.
"Anakku pernah beli, somaynya sudah basi," kata Bu Rudy.
"Gang sebelah pernah tanya padaku, tukang somay songong amat, dipanggil-panggil nggak berenti, malah ngacir, jualan kok tidak mau dibeli."
"Iyaa jualan tapi nggak serius," tegas Bu Rudy.
"Ssttt," aku berbisik.
Istri tukang somay itu keluar dengan baju gamis dan kerudungan yang rapat dan panjang. Dia membawa tas besar dan melangkah ke pagar. Saat melewati kami, dia menyapa dan tersenyum, sekedar basa-basi.
"Istrinya ngeluyur melulu," kata Bu Rudy.
"Kemana dia?" tanya Bu Tono.
Wanita itu menggeleng.
"Tahu ga isi tasnya itu?"
Giliran Bu Rudy yang mengeleng.
"Uang."
"Uang?"
"Iyaa."
"Kok tahu?"
"Suatu hari aku bertemu di warung, istri tukang somay itu lagi mau bayar, dia buka tas besarnya itu, uangnya ratusan ribu bergepok-gepok."
"Serius?"
Bu Tono mengangguk pasti.
"Orang kaya, menyamar jadi orang miskin," kata Bu Tono.
Sore-sore, aku dan Alif duduk di kasur depan televisi. Kami menonton film perang yang ditayangkan televisi swasta. Sambil menyuapi Alif aku menonton filem yang dibintangi artis bule itu.
Alif paling suka kalau para tentara itu sedang tembak-tembakan. Dia akan diam menyimak dengan serius, terkagum-kagum dengan keberanian para tentara itu. Makanan semangkuk kecil itu pun habis masuk ke perutnya, dan aku merasa tenang karena dia menghabiskan makannya.
"Somay, somay," tunjuknya pada layar televisi.
"Mama somay, nak?" tanyaku.
"Itu!"
Dia menujuk layar. Tidak ada adegan pedagang somay sama sekali. Itu film perang, yang ada juga penggambaran senjata-senjata perang, granat, pistol, bom, senapan, tank dan kawat berduri. Atau mungkin aktornya mirip pedagang somay itu, entahlah, aku kurang ingat seperti apa wajahnya. Yang aku tahu, dia berbadan sedang, wajahnya jarang tersenyum, seperti murung, tidak ramah dan bersahabat. Alif mungkin melihat kemiripan tukang somay dan salah seorang tentara itu.
Siang itu, aku menidurkan Alif di kamar dalam. Sudah lepas dhuhur enak rasanya meletakkan punggung di kasur setelah seharian menggoreng dan membungkus kue-kue ringan untuk dititipkan ke warung-warung.
Melihat Alif sudah terlelap, aku meluruskan kakiku kemudian bangun dan berjalan menuju ruang tamu untuk bekerja kembali, memasukkan kue-kue itu ke keranjang, dan mengantarkannya ke warung-warung dekat petakan.
Ada suara ribut-ribut. Aku melongok ke jendela. Suara sepatu lars berdebam di lantai petakan. Sekilas aku melihat melintas seorang dengan tubuh gagah berseragam, melewati kontrakanku. Bahkan ada satu orang yang berdiri tepat di depan pintu rumahku.
Aku makin ingin tahu dan membuka pintu. Polisi yang berdiri di depan kontrakanku mengangkat jari di mulutnya, mengisyaratkan aku untuk masuk lagi. Aku pun masuk lagi dan mengintip dari jendela kamar.
Tak beberapa lama, aku melihat tukang somay itu diarak oleh dua orang polisi dengan tangan diborgol di belakang. Menyusul kemudian dua polisi wanita memegangi tangan istrinya yang juga diborgol di belakang.
Setelah dua rombongan itu lewat, masih ada beberapa polisi membawa kardus-kardus besar dari petakan itu. Aku lihat polisi yang tadi berdiri di depan kontrakanku pun sudah meninggalkan tempat bersama rombongan itu.
Dengan ragu-ragu dan takut, aku pun keluar kamar, pemilik kos, Pak Haji Wakir dan penghuni kos lain berkerumun di dekat pagar. Masih sempat kulihat pedagang somay itu dimasukkan ke mobil tahanan. Lalu mobil-mobil polisi itu beriringan meninggalkan gang sempit di depan rumah petakan kami.
"Ada apa Pak," tanyaku pada Pak Haji.
"Teroris," jawab Pak Haji pendek.
"Teroris?"
"Penjual somay itu teroris yang pura-pura jualan somay."
"Ohh."
Aku mengangguk. Halaman itu ramai karena para ibu dan penghuni kontrakan, penghuni kontrakan lain, dan masyarakat setempat berkumpul untuk membicarakan penangkapan itu.
"Ada bom di kamarnya, dia merakit bom," kata pak RT.
"Ya Allah," gumanku.
"Untung tidak meledak," timpal yang lain.
Kini aku paham kenapa anakku ketakutan tempo hari. Mungkin Alif masuk petakan itu dan melihat mereka sedang meracik bom. Yang jelas anakku melihat barang-barang berbahaya itu di kontrakan tukang somay. Pantas saja saat melihat film perang dia menunjuk-nunjuk benda-benda itu.
Jakarta, 12 Oktober 2019
Komentar
Posting Komentar