Postingan

9. Kak Rah

Catatan Perjalanan: Ari Handayani Ketika sedang ditimpa musibah seperti mengidap suatu penyakit, kita akan tahu siapa kawan dan siapa lawan. Orang Indonesia di perantauan, walau diikat persamaan nasib, tak selalu bersatu. Melihat kawan yang ditimpa musibah, ada yang datang membantu, tapi banyak pula yang pura-pura bersimpati namun menyebarkan fitnah di belakangnya. Hal itu pernah kualami dan kumaklumi. Terkadang simpati yang tulus justru datang dari orang yang tidak kita sangka-sangka, orang yang tak begitu dekat dengan kita, namun mereka ternyata mau membantu.     Kawanku Kak Zarah, perempuan Melayu setengah baya, selalu menanyakan perkembangan penyakitku setiap kali kami berpapasan di surau. “ Hang pi bomoh kat kampong kak ja, esok balik kilang ikut akak , ” usulnya. Dia mengajakku ke rumahnya, agar diantarnya pergi ke dukun di kampungnya. Mula-mula usulnya kutolak. Aku lebih percaya kepada pengobatan medis. Namun tak putus dia membujukku. Menjelang libur usulnya kuteri...

8. Ras

Catatan Perjalanan: Ari Handayani Gerah malam ini. Seolah hujan enggan turun. Kudengar suara gumaman di luar. Langkah-langkah kaki. Bisik-bisik. Dan ketukan gerendel pintu kontena. Sejak siang tadi orang-orang nampak ketakutan. Sepanjang hari mereka dibayangi hantu polisi, mobil patroli polisi, dan telpon-telpon tentang ras di kongsi ujung jalan. Selalu Sabtu dan Minggu menjadi hari yang mendebarkan.     Pagi-pagi tetangga di kontena depan sudah bercerita. Sepulang dari membeli ikan di pasar pagi, dia dihadang mobil polisi di ujung jalan. Terpaksa uang lima puluh ringgit melayang. Lalu di siang bolong nampak mobil palang lalu lalang di jalan raya sekitar  kongsi. Membuat penjaga kantin mendadak menghentikan kegiatannya. Dia menggerendel kantin dari depan dan belakang.     “Saya takut barang dan duit di kantin diambil. Apa kata majikan saya nanti,” alasannya. Majikannya sedang mudik ke Madura. Perempuan muda itu, yang masih keponakan pemilik kantin, di...

7. Pacarnya Orang Bangla

Catatan Perjalanan: Ari Handayani Ada penghuni lain di kongsi, orang lama sebetulnya. Seorang perempuan Jawa berumur sekitar empat puluhan. Mbak –biasa perempuan ini dipanggil-- bertubuh subur dan rambutnya panjang menyentuh pinggang. Mbak juga amat ramah, suka bercanda dan menyanyi ala karaoke. Di hari Minggu saat dia tak bekerja, dari kamarnya sering terdengar musik dangdut, ditingkapi suaranya yang lumayan yahud sedang berkaraoke. Di waktu sore, sepulang dia bekerja, orang-orang sudah bergerombol di pintu kamarnya, menikmati teve. Film india dan teledrama Indonesia, menjadi tontonan favorit mereka.     Kontena perempuan Jawa ini cukup sempit. Kamarnya langsung penuh diisi kasur busa besar dan teve 14 inci. Setiap dia ada di rumah, seorang laki-laki muda Bangladesh duduk menemaninya. Mereka menonton teve sambil makan bersama. Roti canai menjadi hidangan favorit mereka. Di saat perempuan itu bekerja di siang hari, sering laki-laki Bangla, sebutan akrab bagi Bangladesh, ...